Hanif Dinanda Putra
Oleh Hanif Dinanda Putra, Alumnus Sosiologi Unila
Perubahan besar-besaran telah terjadi di dunia digital kontemporer. Gawai selalu melekat dalam genggaman tangan jutaan manusia.
Di ruang publik, kamar tidur, ruang kelas, bahkan di meja makan keluarga, layar gawai selalu tidak jauh dari jangkauan mata para pengguna. Mereka menggeser layar ke atas, ke bawah, dan ke samping – menikmati pergantian informasi cepat dari satu ke yang lainnya. Hari-hari, manusia menghabiskan waktu di depan layar.
TikTok, Instagram, YouTube, hingga Twitter (X) menjadi ruang baru. Di platform-platform tersebut, informasi terkurasi sesuai preferensi yang cendrung singkat dan bervisual menarik.
Atensi mereka terikat di dalamnya. Menurut International News Media Association (2025), fitur clips – potongan video singkat berdurasi ringkas– menjadi tren arus utama di era digital ini.
Ia menjanjikan informasi instan–cepat, ringan, dan sederhana. Namun di balik tren itu, ada harga mahal yang harus dibayar. Atensi menjadi pendek, susah fokus, sulit konsentrasi, dan minim daya kritis terhadap situasi dan informasi yang diterima.
Sebagai generasi yang lahir di era badai teknologi, generasi Z dan Alpha––termasuk saya––terperangkap di dalamnya. Mereka hidup di bawah gelombang deras informasi yang terus mengalir tanpa jeda.
Dalam konteks ini, clips sebagai tren digital bukan sekadar format video, melainkan simbol perubahan cara berpikir manusia modern–dari berpikir yang analitis, cenderung menjadi pragmatis. Gen Z dan Alpha tidak terbiasa mendalami konteks yang luas dan kompleks, mereka cenderung menyerap apa saja yang mereka terima dalam suatu ringkasan ikhtisar.
Temuan Guntur Purboyo (seorang dosen dan pengajar di Prodi Sosiologi Unila), memaparkan bahwa bagi generasi yang lahir dalam badai teknologi, clips adalah dopamin baru. Setiap video yang mereka terima cenderung senada dengan preferensinya dan membuat mereka bahagia.
Mereka menikmati konten yang diatur algoritma dengan pola yang mendominasi. Dengan mata lelah memerah, mereka menikmatinya.
Dalam gawai, mereka mudah larut sedalam-dalamnya. Aktivitasnya cenderung sama dan berulang – membuka, menikmati, mengganti, sesekali mereka menyukai informasi yang diterima.
Hal itu terjadi dalam lingkar waktu yang tak berujung. Bagi para penikmatnya, ini bukan masalah – selama masih bisa menikmati, tertawa, terhibur, dan merasa “terhubung” dengan dunia.
Namun, riset menunjukkan hal sebaliknya. Tren konsumsi informasi pendek berpengaruh signifikan terhadap penurunan kemampuan kognitif atau kinerja otak manusia.
Emely Tran (2022), dalam jurnalnya menulis bahwa daya fokus otak manusia akan hancur perlahan selaras dengan meningkatnya paparan konten singkat yang dikonsumsi secara berlebihan. Otak manusia, yang seyogianya memproses informasi secara bertahap dan terstruktur, kini terbiasa dengan paparan informasi instan instan.
Akibatnya, berpikir konstruktif adalah suatu kesulitan, kemampuan analisis menurun, dan kemampuan komunikasi menjadi dangkal.
Mereka sedang dihadapkan pada arus kemunduran. Enam puluh sembilan jam, menurut laporan GoodStats (2025), rata-rata dihabiskan oleh remaja dalam sebulan untuk berselancar di dunia digital. Dari luar, mereka tampak aktif dan “terinformasi”.
Namun, pengetahuan yang diperoleh sering kali tidak lebih dalam dari sampul informasi dan jauh dari kejelasan konteks. Fenomena ini menandakan pergeseran dari budaya literasi menuju budaya yang bersifat elusif–di mana informasi lebih sering dikonsumsi untuk kesenangan, bukan pemahaman.
Kita kini hidup di masa ketika pemikiran mendalam dianggap membosankan, dan matinya kepakaran. Kecepatan dan hiburan menggantikan ketepatan. Penampilan menggantikan substansi.
“Saya lihat di TikTok” menjadi dalih baru yang terdengar valid di ruang diskusi. Di sinilah invasi digital bermula – saat kebenaran, eksistensi dan hiburan kehilangan batas.
Namun, menyalahkan generasi muda saja tentu tidak adil. Mereka tumbuh dalam sistem yang memang memfasilitasi adiksi ini. Sebuah dominasi yang mengarahkan pada akhir dan kemunduran.
Secara mandatori, kondisi ini perlu disikapi–baik oleh individu, keluarga, lembaga pendidikan, bahkan negara. Pendidikan digital harus diarahkan pada kesadaran digital, tentang bagaimana mengatur konsumsi informasi, memilih konten, dan bijak dalam bermedsos.
Maka berjedalah. Lepas dari layar dan rehat sejenak. Jeda memberi ruang bagi tubuh dapat menyentuh rumput di halaman, bermain di alam, atau merasakan untuk kembali menghidupi kesadaran.
Sebuah cara untuk tetap manusiawi di tengah derasnya arus informasi yang semakin merusak. Generasi Z dan Alpha masih memiliki peluang besar untuk keluar dari jerat ini. Mendikte ulang kesadaran untuk menjadi makhluk yang berpikir terarah.
Boleh jadi, keselamatan peradaban digital hari ini bergantung pada satu hal sederhana. Go touch some grass. []

Tinggalkan Komentar Anda