Pak Sutan (3 dari kanan) saat ikut rombongan OSIS bakti sosial ke Hidayatul Islamiuah tahun 1996. | Dokumentasi Pribadi
Memasuki caturwulan kedua di kelas 1-4 SMAN 2 Bandar Lampung, saya didapuk menjadi ketua kelas. Jabatan itu saya sandang sampai dengan kelas 2-4 di caturwulan II.
Di kelas 1-4 itu juga saya memasuki dunia baru di kepengurusan Organisasi Siswa Intra-Sekolah atau OSIS. Regenerasi kepengurusan OSIS menjadikan Kak Abdulrahman menjadi ketua OSIS.
Ada delapan orang pengurus di Badan Pengurus Harian atau dikenal dengan BPH. Ada ketua umum, ketua I, ketua II, sekretaris umum, sekretaris I, sekretaris II, bendahara umum, dan bendahara I. Semua pos ini sudah terisi.
Kemudian untuk delapan ketua bidang yang diambil dari kelas II (kini dikenal kelas XI) juga sudah dapat. Tinggal wakil ketua bidang yang belum rampung.
Itu pun hanya satu pos, yakni untuk posisi wakil ketua Bidang Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Urutan bidang ini ada di nomor 1.
Entah dari mana informasinya, nama saya masuk. Mungkin karena sebagian besar pengurus OSIS zaman itu alumni SMPN 2 Bandar Lampung, dan saya juga salah seorang alumnusnya, masuklah nama Adian Saputra ini.
Yang saya ingat adalah, saya dimasukkan sebagai wakil ketua Bidang Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu karena saya bisa membaca Alquran dengan baik dan acap menjadi petugas pembaca doa saat upacara hari besar nasional.
Pendek cerita nama saya masuk. Saya diduetkan dengan ketua bidang saya: Fauzan Musaddiq. Semoga Kak Uchan, sapaan akrabnya, membaca tulisan ini.
Sejak itulah saya memasuki dunia yang sama sekali baru. Sebab, semasa di SMPN 2 Bandar Lampung saya tak aktif di organisasi manapun. Ikut Pramuka tidak, PMR pun tidak. Saya hanya ikut organisasi voli. Tapi teman-teman semasa SMP ya aktif di Pramuka.
Mungkin dari orang-orang inilah ide memasukkan saya ke dalam kepengurusan OSIS 1994-1995 itu terjadi.
Karena mengurusi kegiatan yang sifatnya keagamaan, sudah tentu berkoordinasi dengan guru agama sebagai pembina. Dari sekian banyak pembina itu, tersebutlah satu nama: Sutan Ubaidillah Syarief.
Pak Sutan adalah guru agama Islam saya di kelas 1-4. Sudah akrab sebetulnya sebelum saya masuk OSIS. Begitu masuk OSIS, hubungan dengan beliau semakin intensif.
Sejak masuk SMAN 2 Bandar Lampung itulah, salat id, baik Idulfitri maupun Iduladha, selalu saya tunaikan di lapangan sekolah. Bukan sekadar salat, melainkan menjadi panitia.
Pagi-pagi saya dan pengurus bidang mesti sudah hadir. Masjid kala itu belum ada. Masih cikal bakal. Salat id dilaksanakan di lapangan sekolah.
Tali rafia sudah dipasang biasanya sehari sebelum pelaksanaan salat. Karena posisi kiblat agak serong ke kanan dari arah lapangan, pemasangan tali rafia pun menyesuaikan. Dari ujung ke ujung. Untuk saf pria biasanya dibuat empat, buat jamaah perempuan lazimnya tiga.
Yang salat di lapangan Smanda ini ramai sekali. Tak hanya warga dan guru yang tinggal di kompleks sekolah, beberapa alumni acap ikut salat di lapangan.
Sepekan sebelum salat, biasanya Pak Sutan sudah wanti-wanti. Ia meminta saya membantu persiapan acara.
Yang sibuk tentu saja di pagi hari pelaksanaan. Kalau cuaca terang tidak masalah. Yang problem jika hujan. Hujan berimbas pada orang sungkan salat di lapangan dan kami panitia juga kerepotan.
Jika hujan, minimal gerimis turun, pengeras suara mesti ditutup supaya tidak kena air. Sudah begitu, terpal yang sudah terpasang biasanya dilipat separuh menunggu hujan reda.
Jika tak juga reda, posisi terpal atau tempat salat kami majukan sampai depan kantor. Maklum, lapangan menjadi becek dan tak nyaman dipakai salat.
Selama aktif di kepanitiaan itulah saya sering melihat Pak Sutan tetap siaga memegang pelantang dan melantunkan takbir untuk menyemarakkan pagi salat id itu. Sekalian memanggil warga untuk ikut salat di lapangan sekolah.
JIka hujan, Pak Sutan tak surut. Dengan pelafalan yang bagus dan khas, ia masih kuat bertakbir. Saya dan teman-teman juga masih di lapangan untuk memastikan apakah salat ini layak diteruskan atau tidak.
Alhamdulillah dari enam kali pelaksanaan salat id itu, tak sekalipun batal. Salat id tetap digelar di lapangan.
Pak Sutan juga tak terganggu dengan gerimis dan hujan itu, ia tetap pegang mikrofon untuk takbiran. Sebetulnya ia meminta kami sesekali menggantikan, tapi kami segan. Tak berani. Selip salah bacaan, bisa repot.
Soal imam salat id, Pak Sutan juga acap beberapa kali bertugas. Kalau yang khutbah biasanya kami mengundang penceramah dari luar sekolah. Honor penceramah biasanya saya yang kasih. Uangnya sudah disiapkan bendahara.
Saya tinggal memberikan saja. Kebayang kan, anak kelas 1 SMA ngasih uang transpor ke penceramah. Sekarang malah saya yang sering menerima uang transpor dan honorarium, eh…
Pak Sutan juga menjadi imam salat lima waktu usai Masjid Al Huda bisa digunakan medio 1996. Masjid sekolah kami ini relatif cepat terbangun. Hanya dalam waktu dua tahun, bisa digunakan.
Jika masuk jumatan, Pak Sutan juga sering menjadi khatib dan imam. Ia bergantian dengan guru lain. Kadang Pak Herman Noer Sofyan, kadang pula Pak Kaswan. Pak Herman mengajar Biologi, Pak Kaswan mengajar Kimia. Al Fatihah untuk keduanya.
Jadi, karena keaktifan di OSIS wabilkhusus di bidang ketakwaan itulah yang membentuk saya dan Pak Sutan menjadi tim yang solid. Bahkan, sewaktu saya setahun kemudian diamanahkan menjadi ketua umum OSIS, Pak Sutan juga mendukung penuh.
Satu kenangan tentu saja kala mengadakan bakti sosial di Ponpes Hidayatul Islamiah di daerah Sumberagung, Kemiling. Pak Sutan dan beberapa pembina OSIS ikut serta.
Dalam foto ini, Pak Sutan berdiri nomor 3 dari kanan. Perihal guru lain dan teman-teman OSIS yang kala itu ikut serta, insya Allah akan saya tulis di kesempatan lain.
Hmm, ngemeng-ngemeng, kalian tahu tidak saya yang mana di foto itu? Saya berdiri nomor lima dari kanan, pakai topi. Enggak keren-keren amat sih waktu itu. Tapi tetap paling famous-lah.
Kemarin, kabar duka datang. Pak Sutan, guru purnabakti mata pelajaran agama Islam itu wafat. Beliau memang sakit beberapa waktu belakangan.
Sewaktu beliau sakit, kami para murid-muridnya masih sempat menjenguk. Beberapa angkatan bahkan menggalang dana yang cukup membantu keluarga beliau.
Pak Sutan bagaimanapun tetap punya kenangan di semua murid-muridnya, wabilkhusus saya yang sejak kelas 1 sampai kelas 3 bergaul akrab dengannya.
Yang saya juga ingat, usai lulus SMA, saya masih sering hadir ke masjid sekolah. Khususnya saat Ramadan untuk ikutan salat tarawih. Biasanya, jika saya datang, Pak Sutan mendaulat saya menjadi imam.
“Gantian Adian dulu imam. Bapak jadi bilal saja.”
Seingat saya, skema tarawihnya 4-4-3. Empat rekaaat satu salam, empat rekaat satu salam. Ditutup tiga rekaat witir dengan satu salam.
Pak Sutan tentu meninggalkan amal saleh yang banyak. Apalagi ilmu yang manfaat itu jariyah namanya. Pahala mengalir meski orangnya sudah tiada.
Kami dukacita mendalam ya, Pak. Semoga Allah swt menerima segala amal saleh Bapak, mengampuni semua dosa Bapak, dan memberikan keberkahan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Lamat-lamat saya terngiang ciri khas Bapak kalau sedang melafalkan bacaan Alquran kala salat. Bismillahirrahmanirrahiiiim….
[Adian Saputra, Wakil Ketua Bidang Humas dan Publikasi IKA Smanda 2025-2029]

Tinggalkan Komentar Anda