Oyos Saroso HN
NAMA Oyos Saroso HN, jurnalis senior yang juga sastrawan Indonesia ini, saya kenal pertama kali di Harian Umum Lampung Post. Tulisan Mas Oyos, demikian saya menyapanya, beberapa kali saya baca di koran itu.
Ketemu pertama kali di akhir tahun 1999. Saya kebetulan menjadi peserta pelatihan menulis opini yang diadakan Lembaga Pers Mahasiswa Republica FISIP Unila. Mas Oyos menjadi pembicara pertama.
Saya dikirim atas nama Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Manajemen Fakultas Ekonomi Unila. Saya mendapat mandat mengurus buletin Median Post milik HMJ.
Saya lupa-lupa ingat materi yang dipaparkan Mas Oyos. Tapi intinya seputar mencari ide untuk menulis opini. Usai Mas Oyos bicara, diberi waktu untuk sesi tanya dan jawab. Usai itu, perwakilan peserta diminta memberikan cenderamata.
Panitia lalu meminta saya maju dan memberikan cenderamata itu. Saya hakulyakin Mas Oyos lupa dengan fragmen ini.
Saya ketemu lagi Mas Oyos di Komite Anti Korupsi (Koak) Lampung. Rentang 2001-2002 saya menjadi editor paruh waktu di lembaga swadaya masyarakat itu.
Senior saya di kampus, Juwendra Asdiansyah, yang meminang saya untuk bekerja di Koak. Bang Juwe berjabatan kepala Divisi Pendidikan Antikorupsi.
Saya disuruhnya menyunting bahan majalah dan buku. Di momentum kerja di Koak itulah satu tulisan saya menjadi juara dalam lomba menulis HUT Kota Bandar Lampung. Itu tahun 2002. Mas Oyos ternyata salah satu jurinya.
Pas ketemu di Koak, dia bilang, saya sengaja tidak dijadikan juara I yang ditiadakan. Maka itu, saya juara II.
Oyos bilang, secara konten tak ada yang benar-benar layak jadi juara I. Walhasil, tulisan terbaik di antara semua peserta yaitu punya saya hanya mejeng sebagai juara II.
Mas Oyos juga bantu-bantu urusan majalah di Koak. Nama majalahnya Sapu Lidi. Bang Juwe yang kasih nama untuk media massa itu.
Relasi terjalin lagi kisaran tahun 2006 saat saya mendaftar menjadi anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung. Mas Oyos adalah ketua pertama AJI Bandar Lampung. Orang non-AJI lebih sering mengucapkan AJI Lampung.
Saking seniornya dan lekatnya AJI dengan Oyos, semua kelompok masyarakat sipil di Lampung tahunya Oyos itu ketua AJI. Padahal ketua sudah berganti beberapa kali.
Ada teman berseloroh, ketua AJI Lampung atau Bandar Lampung itu ya hanya Oyos, yang lain hanya meneruskan saja, hahaha.
Semasa menjadi sekretaris AJI Bandar Lampung mendampingi ketua Juwendra Asdiansyah, 2007-2010, interaksi dengan Oyos juga bagus. Kami beberapa kali ikut pelatihan dan liputan bareng. Termasuk beberapa kali ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dan Pulau Pahawang.
Waktu bekerja di Lampung Post sebagai korektor bahasa, beberapa kali saya mengirim tulisan untuk rubrik Laras Bahasa kerja bareng Lampost dan Kantor Bahasa Provinsi Lampung—kini namanya menjadi Balai Bahasa Provinsi Lampung.
Mas Oyos sering kasih masukan soal tulisan. Yang jelas dia senang-senang saja dapat asupan tulisan untuk rubrik yang ia editori itu.
Aktivitas saya di AJI sering bersobok dengan Oyos. Ia memang senior yang baik dan punya jejaring yang luas.
Waktu tahu kerjanya di koran berbahasa Inggris, The Jakarta Post, saya makin kagum sama orang ini. Dalam hati, boleh juga nih orang tulisan berbahasa Inggris-nya.
Oyos juga yang pertama memperkenalkan saya dengan teman-teman dari perusahaan makanan terkenal di Indonesia, Japfa Tbk. Ada banyak momentum di mana saya diminta Oyos untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan jurnalistik inisiasi Japfa. Bahkan, sampai dengan sekarang, saya masih berhubungan baik dengan kehumasan dan social envestment Japfa Tbk.
Sudah panjang tulisan tapi belum ketemu juga di mana kaitan dengan judul tulisan ini ya? Hahaha. Sabar.
Lama tak jumpa Oyos, baru-baru ini saya ketemu lagi dengan beliau. Sabtu malam, 7 Desember 2024, saya diundang perhelatan ulang tahun Fajar Sumatera pimpinan Deni Kurniawan.
Salah satu mata acara adalah pemberian penghargaan kepada jurnalis yang dinilai istikamah terhadap profesi dan menjunjung prinsip-prinsip jurnalisme. Panitia memberikan penghargaan kepada Oyos.
Yang mengagetkan, dia koar-koar di panggung usai mendapatkan penghargaan itu. Oyos memulainya dengan pengalaman dia dua harian menjadi penguji kompetensi mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) UIN Raden Intan Lampung.
Saya memang pernah lima tahun menjadi dosen luar biasa (DLB) di sana. Tapi sejak 2020 sudah tidak lagi. Rupanya Oyos masih menyangka saya mengajar.
Dia lalu bicara di forum kira-kira begini.
”Saya tadi menguji ratusan mahasiswa komunikasi di UIN. Rupanya mereka harus diuji juga kompetensi sebagai calon lulusan prodi komunikasi. Nah itu salah satu dosennya ada di ruangan ini, Doktor Adian Saputra. Saya tadi menguji mahasiswa kamu, Adian. Beberapa tadi masih kenal denganmu. Meski dosennya sekualitas Doktor Adian Saputra, tetap harus diuji supaya benar dan paham dengan nilai jurnalisme.”
Peserta lain malam itu yang beberapa kenal dengan saya dan Oyos ketawa saja. Termasuk pembicara tamu, Haris Azhar, tokoh prodemokrasi yang sering bicara di media massa dan media sosial.
Di sebelah saya, pendongeng nasional Iin Muthmainnah, ketawa-ketawa. Saya bisiki Mbak Iin.
”Malam ini saya diberikan gelar doktor sama Oyos. Enggak tahu dia sarjana saya saja mengejarnya setengah mati.”
Mbak Iin juga ketawa renyah. Saya geleng-geleng saja. Ada-ada saja cara Oyos ”memfitnah” saya, atau lebih pasnya barangkali mendoakan, hahaha.
Semoga Mas Oyos sehat dan lancar selalu rezekinya. Semoga juga FBPro-nya segera menghasilkan jutaan dolar Amerika Serikat. Salam takzim buatmu, Mas Oyos.
Hajimena, Ahad, 16 Maret 2025, 16 Ramadan 1446 Hijriah. [ADIAN SAPUTRA]

Tinggalkan Komentar Anda