Setia Rini
Oleh Setia Rini, Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung (Unila)
Belajar bahasa adalah belajar seni menyusun kata-kata. Bagaimana tidak, bagaimana kita bisa mengatakan “Saya akan pergi ke Prancis tahun depan” dalam bahasa Prancis, membutuhkan kosakata, tata bahasa, struktur atau pola kalimat dan cara penulisannya juga.
Apalagi, alfabet bahasa Prancis memiliki beberapa tanda khusus pada beberapa hurufnya, terutama huruf vokal (baca: Mengenali Alfabet Bahasa Prancis & Cara Pelafalannya yang Unik).
Je vais aller en France l’année prochaine atau J’irai en France l’année prochaine. Kalimat manakah yang benar secara kaidah tata bahasa Prancis?
Kedua kalimat tersebut sama-sama bermakna akan pergi. Inilah seni belajar bahasa. Bahasa Indonesia hanya mengenal konteks waktu di dalam kalimat ke dalam tiga waktu, saat ini, lampau, dan akan datang. Ketika kita mengatakan sesuatu yang akan terjadi cukup dengan kata penunjuk waktu « akan ».
Tetapi hal ini tidak berlaku di dalam tata bahasa Prancis ya, karena bahasa Prancis mengenal beberapa bentuk akan datang, misalnya bentuk futur proche dan futur simple. Apakah penggunaannya sama?
Iya sama-sama untuk menujukkan sesuatu yang akan terjadi, namun sebenarnya ada detail yang berbeda terkait penggunaannya. Jika sesuatu akan terjadi dalam waktu dekat maka kita menggunakan futur proche, sedangkan jika berupa target/rencana jangka panjang, yang kita juga belum yakin kapan, atau sudah yakin waktunya tetapi masih cukup lama waktunya, maka kita gunakan futur simple.
Jadi untuk mengatakan “Aku akan pergi ke Prancis tahun depan” kira-kira menggunakan futur yang mana ya? Ya, kita gunakan kalimat bahasa Prancis yang kedua ya J’irai en France l’année prochaine.
Sedangkan jika kita ingin mengatakan « Saya akan makan makan malam di restoran malam ini » kita gunakan future proche, karena jarak waktunya sangat sebentar, tinggal beberapa jam lagi dilakukan, dan sudah pasti akan dilakukan, bukan sebuah rencana/target jangan panjang. Jadi kita bisa katakan « Je vais dîner au restaurant ce soir ».
Inilah seni belajar bahasa. Bisa saja sangat mudah untuk kita, tetapi bisa saja sangat sulit untuk orang lain. Tetapi pada dasarnya belajar bahasa itu sangat mudah.
Seperti halnya matematika, bahasa juga memiliki rumus maupun pola yang jelas. Jika 8 bisa kita dapatkan dari berbagai penambahan banya angka yang berbeda, maka untuk mengatakan beberapa kalimat tadi, sebenarnya juga bisa diubah posisinya atau polanya, tetapi bukan hal-hal mendasar seperti kaitannya dengan konjugasi verba atau kelas kata dan genre kata benda ya.
Artinya, ketika kita mengatakan Je vais dîner au restaurant ce soir, di sisi lain kita juga bisa mengubah polanya menjadi Ce soir, je vais dîner au restaurant, bisa juga Au restaurant, je vais dîner ce soir.
Tidak mengubah makna dan semua polanya berterima. Namun, perhatikan, jika kita mengubah konjugasi verba, maka jelas akan merubah makna. Misalnya Je vais au restaurant bentuk waktu saat ini yang maknanya saya pergi ke restoran, atau menjadi Je suis allé(e) au restaurant, saya telah pergi ke restoran.
Memahami konjugasi ketika mempelajari bahasa Prancis adalah seni. Karena kita selama ini terbiasa dengan mengatakan: saya makan, saya akan makan, saya telah makan, lalu kita harus mengatakannya dalam bahasa Prancis, maka kita perlu menerapkan ilmu seni konjugasi. Seni konjugasi bahasa Prancis dari ketiga pola itu akan menjadi: Je mange, j’ai mangé, je vais manger.
Seni konjugasi ini wajib sekali kita pahami dengan baik ya, kita wajib memahami dengan sangat baik pola perubahannya. Jika tidak kita kuasai, maka alhasil kita akan kesulitan dalam banyak hal, terutama dalam keperluan aktif berbahasa: menulis dan berbicara.
Padahal, yang namanya belajar bahasa asing bertujuan supaya kita bisa berkomunikasi dengan lancar dengan lawan bicara baik dalam bahasa tulis maupun lisan.
Dan faktanya, tidak sedikit pemelajar bahasa Prancis saat ini yang sangat kesulitan untuk menguasai seni konjugasi bahasa Prancis. Padahal, teknologi semakin canggih, AI di mana-mana, website-website belajar bahasa Prancis juga menjamur di internet, namun ternyata konjugasi bahasa Prancis tetap menjadi hal yang sulit dikuasai.
Sangat disayangkan memang, semakin mudahnya fasilitas belajar untuk diakses, namun justru membuat pemelajar terlena, hanya mesin AI yang mengerjakan itu semua. Lalu mereka tidak memahami apapun bahkan hanya sekedar mengonjugasikan verba bahasa Prancis.
Hal ini tentu bukan sesuatu yang harus dimaklumi, tetapi fakta yang harus segera disadari dan dihindari oleh pemelajar, oleh kita semua. Bahwa bagaimana pun, seni belajar bahasa Prancis harus kita pahami sendiri.
Kitalah yang harus memahami bagaimana sebuah pola konjugasi itu terbentu, bagaimana pola-pola bahasa Prancis itu seharusnya. Saya yakin bahwa belasan, pulusah, ratusan, bahkan mungkin ribuan kali kita mencoba belajar konjugasi, menuliskannya sendiri di buku, belajar berkali-kali dan berulang-ulang, suatu saat akan menyampaikan pada titik di mana kita akan mahir berbahasa Prancis.
Memang konjugasi bukan yang utama, tetapi konjugasi adalah satu dari banyak aspek kaidah bahasa Prancis yang harus kita kuasai dengan baik. Kalau dari konjugasi saja kita tidak peduli untuk menguasai, bagaimana dengan aspek-aspek yang lainnya?
Belajar bahasa Prancis itu, sama halnya seperti belajar bahasa asing lainnya, membutuhkan pemahaman dan latihan yang berulang. Bukan hanya membuka buku di kelas dan menutupnya ketika jam usai. []

Tinggalkan Komentar Anda