Kunthi Afdalya Wilujeng. | Dok

Oleh Kunthi Afdalya Wilujeng, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila
Bahasa merupakan alat komunikasi manusia dalam kehidupan sehari hari yang dapat disampaikan melalui suara maupun tulisan. Manusia tidak akan bisa lepas dari alat komunikasi ini.
Bahasa merupakan ciri pembeda yang paling menonjol dalam setiap kelompok sosial. Bahasa juga dapat menjadi kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lain.
Pada era perkembangan zaman yang begitu pesat, kemampuan bahasa asing menjadi nilai plus tersendiri tersendiri terutama dalam menunjang pendidikan dan karier. Bahasa Inggris adalah salah satu Bahasa asing yang paling banyak digunakan terutama di Indonesia.
Fenomena campur kode adalah fenomena yang saat ini sedang kita hadapi dalam bidang bahasa saat ini. Mendengar penggunaaan bahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa Indonesia bukanlah hal yang asing lagi di telinga masyarakat Indonesia.
Mereka menganggap dengan menggunakan bahasa inggris akan menambah derajat mereka. Mereka menganggap penggunaan bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia yang dicampur adalah hal yang keren dan beberapa dari mereka menganggap bahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa Indonesia dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka dalam berkomunikasi.
Bukankah hal itu suatu pencapaian besar dalam eksistensi bahasa Inggris di Indonesia? Pertanyaannya, apakah hal itu hanya dapat disambangi oleh bahasa Inggris?
Apakah bahasa asing lainnya terutama bahasa Prancis dapat menyamai eksistensi dari bahasa Inggris?
Bahasa Prancis merupakan salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di dunia. Menurut Pusat Analisis Bahasa Prancis (Observatoire de La Langue Francaise), jumlah penutur bahasa Prancis di seluruh dunia mencapai 220 juta orang.
Hal itu menempatkan bahasa Prancis di peringkat ke-8 sebagai bahasa internasional.
Selain itu, bahasa Prancis juga menjadi bahasa resmi yang digunakan pada lembaga internasional. Misalnya, PBB, Uni Eropa, FIFA, Mahkamah Internasional, Palang Merah Internasional, dan Amnesti Internasional.
Dalam perhelatan antarnegara, seperti Olimpiade, bahasa Prancis juga berperan sebagai bahasa pengantar resmi.
Eksistensi bahasa Prancis sudah terlihat walaupun belum mampu menyaingi eksistensi bahasa Inggris di masyarakat Indonesia. Namun, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia setiap tanggal 20 Maret melalui Pusat Kebudayaan merayakan la journee de la francophonie atau Hari Frankofoni dengan mengadakan pameran kesenian, lomba membaca puisi, menonton film bersama hingga pertunjukan musik.
Hal ini bertujuan agar lebih banyak masyarakat yang mengetahui bahasa Prancis. Di Indonesia juga sudah banyak universitas dan sekolah menengah atas yang menjadikan bahasa Prancis sebagai bahan pembelajaran.
Bahkan beberapa universitas membuka jurusan Sastra Prancis, seperti UI, UGM, Unpad, UB, Unnes, dan Unhas.
Selain itu, beberapa universitas lainnya membuka jurusan Pendidikan Bahasa Prancis, seperti Unila, UNY, Unnes, UPI, UNJ, dan Unimed.
Apakah eksistensi bahasa Prancis dapat menyamai eksistensi bahasa Inggris di Indonesia? Mengapa tidak? Eksistensi bahasa Prancis ini dapat terlihat dalam berbagai aspek.
Pertama, dalam bidang ekonomi pembangunan. Bahasa Prancis merupakan bahasa yang berpengaruh. Hal ini dikarenakan banyaknya perusahaan Prancis yang telah melebarkan sayapnya di dunia.
Kedua, dengan banyaknya sekolah dan universitas yang menyediakan bahasa Prancis dalam pembelajaran dan membuat lulusan yang dapat berbahasa Prancis merupakan salah satu faktor yang dapat menjadikan bahasa ini semakin eksis di Indonesia.
Dengan banyaknya pemuda pemudi yang belajar dan menggunakan bahasa Prancis dalam kehidupan diharapkan dapat menarik perhatian dan menyebarkan ilmu mereka tentang bahasa Prancis kepada orang awam bahasa Prancis.
Terakhir, tidak hanya bahasa Inggris yang dapat membuat seseorang yang menguasainya tinggi derajatnya. Menguasai bahasa Prancis yang merupakan bahasa yang indah dan romantis juga dapat membuat seseorang memiliki nilai tambah tersendiri.
Mereka dapat merasa tinggi derajatnya. Mereka pun akan lebih bangga karena dapat berbicara salah satu bahasa paling romantis di dunia. Bukankah begitu? []
