Grafis. | Slamet Samsugi

Slamet Samsugi, S.Kom, M.Eng (Pakar Elektronika Universitas Teknokrat Indonesia)
Bulan Ramadan merupakan salah satu momen di mana meningkatnya jumlah penggunaan energi listrik. Peningkatan penggunaan energi listrik pada perumahan ditandai dengan menambahnya jumlah pemakaian alat elektronik.
Penggunaan tersebut seperti dari barang elektronik yang bertambah maupun jumlah jam pemaikaian alat elektronik yang bertambah.
Terkadang dengan penambahan jumlah barang yang digunakan, akan menambah penggunaan stop kontak atau sambungan pada instalasi listrik. Pada keadaan ini, banyak masyarakat yang kurang paham atau kurang peduli terhadap instalasi atau kabel yang digunakan.
Padahal, kurangnya pemahaman terhadap sambungan atau jenis kabel yang digunakan bisa memicu terjadinya korsleting. Misalnya, saat menggunakan sambungan T untuk beberapa alat elektronik, tetapi kabelnya tidak memadai.
Seperti kasus kebakaran di Jakarta. Polda Metro Jaya mencatat, selama Ramadan tahun sebelumnya ada 35 kasus kebakaran yang terjadi akibat korsleting dari total 66 kasus kebakaran. Artinya, jumlah kebakaran terbanyak berasal dari korsleting.
Untuk menghindari kebakaran rumah yang disebabkan karena arus pendek atau korsleting, harus diperhatikan beberapa poin berikut.
Perhatikan jenis kabel yang digunakan yang sesuai dengan kapasitas daya yang digunakan. Untuk itu, kita harus paham terhadap jenis-jenis kabel. Kabel yang kita gunakan berfungsi sebagai penghantar arus (satuannya A atau ampere).
Untuk melihat arus pada listik rumah kita, bisa lihat pada Miniature Circuit Breaker (MCB) atau biasa disebut termis pada meteran Listrik. Di MCB tersebut dapat kita lihat ukuran, misalnya, 2A untuk listrik 450 watt, 4A untuk listrik 900 watt, 6A untuk listrik 1.300 watt dan seterusnya.
Selain itu, perhatikan ketika menggunakan terminal atau stop kontak. Pahami beban yang ditanggung oleh kabel tersebut. Sebagai contoh apabila kita menggunakan stop kontak/terminal kabel dengan 3 lubang, tapi menggunakan kabel yang berdiameter kecil yang hanya sanggup menghantar arus 2 A.
Kemudian kita memasang 3 perangkat elektronik dengan arus mencapai 4 A. Ini dapat dipastikan akan membuat kabel menjadi panas dan jika dibiarkan akan terbakar.

Contohnya, sebuah rice cooker bertuliskan 300 W/220 V artinya berdasarkan rumus menghitung watt/daya adalah P = V x I, di mana P adalah daya, V adalah tegangan dan I adalah arus. Jadi 300 = 220 x I, dapat kita ubah menjadi I = 300/220, jadi I = 1,4 A.
Dengan demikian untuk menentukan kabel yang sesuai, perlu di perhatikan jenis kabel yang mampu menghantarkan arus. Jika kapasitas kabel lebih kecil dari arus yang dihantarkan, akan menyebabkan panas pada kabel tersebut.
Untuk itu, pilihlah Kabel yang sesuai atau yang sudah berstandar SNI. Karena banyak kabel abal-abal yang menuliskan spesifikasi yang tidak sesuai dengan kabelnya.
Kabel yang ber-SNI dapat dipastikan akan menuliskan spesifikasi yang sesuai dengan kabelnya. Sebagai contoh pada kabel ber-SNI akan ada tulisan 2 x 1,5 mm2 300/500 volt. Artinya, pada kabel tersebut dalam 1 selongsong akan berisi 2 kabel dengan ukuran diameter pada masing-masing kabel 1,5 mm. Ukuran kabel listrik memiliki stadar ampere berdasarkan ukuran kabelnya.
Selain memilih kabel yang sesuai, yang harus diperhatikan selanjutnya adalah jangan menumpuk penggunaan perangkat listrik pada satu titik dengan berlebihan.
Seperti penggunaan sambungan T yang dapat menyebabkan gesekan sehingga bisa menyebabkan percikan api.
Untuk itu, apabila saat bulan Ramadan akan menambah penggunaan perangkat elektronik maupun menambah jam penggunaan perangkat elektronik, perlu diperhatikan hal-hal yang telah diuraikan sebelumnya. Selamat menjalankan puasa. []
