Suhendro Prihandono
Oleh Suhendro Prihandono, Direktur Lembaga Kajian Ekonomi Sosial Politik (LKESP)
Rencana pembangunan Lampung Wonderland, taman hiburan yang diproyeksikan menelan biaya Rp500 miliar, menimbulkan berbagai pertanyaan di kalangan masyarakat Bandar Lampung.
Apakah proyek ini benar-benar mendesak? Apakah manfaatnya akan lebih besar daripada potensi kerugiannya?
Dalam konteks pembangunan daerah, skala prioritas harus menjadi pertimbangan utama.
Tidak bisa disangkal, pariwisata memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Sebagai ibu kota provinsi, Bandar Lampung memiliki potensi wisata yang cukup menarik, mulai dari pantai, wisata alam, hingga pusat kuliner.
Namun, sejauh ini, infrastruktur pariwisata di kota ini masih belum optimal. Jalan menuju objek wisata banyak yang rusak, fasilitas umum masih terbatas, dan pengelolaan destinasi wisata belum maksimal.
Di sisi lain, Bandar Lampung masih dihadapkan dengan berbagai permasalahan mendasar seperti jalan yang berlubang, kemacetan, banjir saat hujan deras, serta permasalahan sampah yang belum tertangani secara optimal.
Dengan kondisi ini, pertanyaan besar yang muncul adalah apakah membangun taman hiburan dengan anggaran Rp500 miliar lebih penting dibandingkan memperbaiki infrastruktur dasar yang menyentuh kehidupan sehari-hari warga?
Jika proyek ini dibiayai dari APBD, pemerintah harus mempertimbangkan ulang skala prioritasnya. Dana sebesar itu bisa dialokasikan untuk membangun lebih banyak sekolah, memperbaiki sistem drainase untuk mengatasi banjir, atau meningkatkan layanan kesehatan masyarakat.
Secara teori, Lampung Wonderland bisa menjadi magnet ekonomi baru bagi Bandar Lampung. Jika proyek ini berjalan sesuai rencana, akan ada peningkatan jumlah wisatawan, yang pada akhirnya akan berdampak pada pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kuliner, penginapan, transportasi, serta hiburan.
Selain itu, proyek ini juga berpotensi membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat.
Namun, dalam praktiknya, tidak semua proyek wisata berhasil meningkatkan perekonomian daerah. Kita bisa melihat banyak contoh di daerah lain di mana proyek wisata berskala besar justru menjadi beban bagi APBD karena tidak mampu menarik pengunjung dalam jumlah yang signifikan.
Selain itu, ada pertanyaan mengenai keberlanjutan proyek ini. Apakah pemerintah daerah memiliki rencana matang untuk memastikan Lampung Wonderland tetap menarik bagi pengunjung dalam jangka panjang? Jika proyek ini kurang diminati, maka investasi besar yang telah dikeluarkan bisa berakhir sia-sia.
Dampak Sosial dan Lingkungan
Dari sisi sosial, proyek ini memang bisa memberikan alternatif hiburan bagi masyarakat. Saat ini, pilihan tempat rekreasi di Bandar Lampung masih terbatas.
Keberadaan taman hiburan modern bisa menjadi solusi bagi warga yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga tanpa harus ke luar kota.
Namun, apakah manfaat ini bisa dirasakan oleh semua kalangan? Jika tiket masuknya terlalu mahal, maka proyek ini hanya akan dinikmati oleh masyarakat kelas menengah ke atas, sementara warga dengan ekonomi lemah tidak mendapatkan manfaat langsung.
Dari aspek lingkungan, pembangunan skala besar seperti ini harus memperhatikan dampaknya terhadap ekosistem. Jika proyek ini mengorbankan ruang terbuka hijau atau lahan produktif, dampaknya bisa lebih besar dibandingkan manfaatnya.
Oleh karena itu, perlu ada kajian lingkungan yang ketat untuk memastikan bahwa proyek ini tidak merusak keseimbangan ekologis kota.
Salah satu aspek yang masih menjadi tanda tanya adalah transparansi proyek ini. Apakah proyek ini dibiayai oleh APBD, atau sepenuhnya menggunakan investasi swasta? Jika menggunakan dana pemerintah, bagaimana mekanisme pembiayaannya?
Pemerintah Kota Bandar Lampung harus menjelaskan secara terbuka kepada masyarakat terkait rencana ini. Publik berhak tahu bagaimana proyek ini akan dikelola, siapa yang akan bertanggung jawab atas keberlanjutannya, serta bagaimana dampaknya terhadap anggaran daerah dalam jangka panjang.
Selain itu, penting bagi pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Proyek sebesar ini seharusnya tidak hanya diputuskan di tingkat eksekutif tanpa masukan dari berbagai pihak, termasuk akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat umum.
Secara prinsip, pengembangan sektor wisata memang penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, dalam kondisi Bandar Lampung saat ini, membangun taman hiburan bukanlah prioritas utama.
Ada banyak persoalan mendasar yang masih harus diselesaikan, mulai dari infrastruktur yang belum memadai, layanan publik yang perlu ditingkatkan, hingga masalah lingkungan yang semakin kompleks.
Jika proyek ini tetap dilanjutkan, pemerintah harus memastikan bahwa, pertama, tidak menggunakan APBD secara berlebihan, terutama jika ada kebutuhan yang lebih mendesak.
Kedua, memiliki kajian ekonomi yang jelas, sehingga tidak menjadi beban bagi keuangan daerah di masa depan.
Ketiga, memastikan keterjangkauan bagi semua lapisan masyarakat, bukan hanya untuk kalangan tertentu.
Terakhir, mengutamakan aspek lingkungan, agar pembangunan tidak merusak ekosistem sekitar.
Pembangunan harus berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar ambisi politik atau proyek mercusuar. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Bandar Lampung harus lebih bijak dalam menentukan prioritas pembangunan agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh warga. []

Tinggalkan Komentar Anda