Ilustrasi. | Ketut Subiyanto from Pexels via www.pexels.com

Oleh Arum Purbawati, Penulis Lepas
Wanita dipandang sebelah mata ketika tidak mampu memberikan benefit atau tidak bekerja. Wanita di rumah saja dianggap pilihan ke sekian karena tidak bisa memberikan tambahan penghasilan untuk kesejahteraan keluarga. Wanita di rumah saja adalah perempuan biasa yang tidak mempunyai karya.
Mulai dari bangun tidur, membereskan tempat tidur, menyiapkan sarapan, membersihkan baju kotor hingga merapikan untuk siap di pakai, membersihkan rumah yang setiap harinya debu silih berganti masuk ke rumah tiada henti. Hingga Kembali berulang cuci piring, masak lagi dan urusan kamar mandi pun tak lepas dari tanggung jawab ibu yang ada di rumah.
Meski sudah ada mesin cuci dan ada asisten rumah tangga, pekerjaan rumah tangga itu justru tidak ada habisnya. Pekerjaan terus saja mengalir bergantian ada saja yang harus diselesaikan.
Sudah mencoba di rumah saja dan mengerjakan urusan rumah yang tiada henti? Saya sih cukup di dua hari saat libur bekerja, selain membosankan juga seperti bekerja tiada output tapi masih dianggap sebelah mata.
Belum lagi ketika ada anak masih usia lima tahun ke bawah, tentunya perlu energi tambahan untuk mendampingi karena masih butuh perhatian khusus.
Semakin ke sini sepertinya makin berat amanah mendidik anak. Bukan karena anak yang susah diatur, tapi asupan pemikiran yang sudah tidak terbatas dan butuh pembatas.
Siapa lagi kalau bukan orang terdekat, yaitu ibu dari anak-anak. Kenapa harus ibu?
Karena bagaimanapun ibu lebih didengar dibanding pembantu. Ibu lebih bijak dan panjang pikiran ke depan karena rasa tanggung jawabnya tentu lebih besar dari pembantu.
Risiko ibu bekerja adalah seringnya peluang anak ditinggalkan bekerja. Akan muncul rasa bersalah pada ibu yang memicu pikiran negatif lain. Ketika tidak bisa mendampingi saat mereka mengikuti ujian.
Ketika tidak bisa mengambil rapor karena ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. Ketika tidak bisa mendampingi saat kelulusan karena ada tugas ke luar kota.
Bukan itu saja, ibu bekerja banyak kehilangan momen tumbuh kembang anak. Tiba-tiba mereka sudah bisa berjalan.
Tiba-tiba mereka sudah duduk di bangku SD. Bahkan sudah remaja dan mulai dekat dengan lawan jenis.
Lalu di mana peran ibu mendampingi anak -anak mereka ketika 24 jam waktunya tersita untuk bekerja di kantor, kegiatan bermasyarakat, dan beristirahat untuk diri sendiri? Belum lagi waktu untuk melayani suami.
Anak-anak hanya mendapat sisa waktu yang sudah tidak efektif. Waktu di saat bangun tidur di mana si ibu posisi sibuk dengan persiapan bekerja. Dan waktu sore atau malam saat energi ibu sudah habis terpakai di kantor untuk bekerja dan bersiap untuk beristirahat.
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak. Pada umumnya, pendidikan dalam keluarga tidak lahir secara terstruktur dan kesadaran mendidik melainkan karena secara kodrati memberikan secara alami membangun situasi pendidikan.
Ibu adalah orang dan teman pertama yang didapatkan anak. Oleh sebab itu, anak akan meniru apa yang dilakukan ibu.
Orang tua mempunyai peranan penting dalam tugas dan tanggung jawab terhadap anak mereka. Mereka menjadi pemeran utama contoh teladan yang bisa membentuk watak dan dan karakter anak.
Orang tua adalah orang yang layak sebagai panutan atau model yang akan ditiru anak karena itulah yang mereka lihat.
Berbeda ketika orang tua tidak memberi arahan dan pengertian karena lelah dengan urusan pekerjaan. Tidak ada waktu untuk memberi pendidikan kepada anak.
Setiap hari yang bertemu dan paling banyak waktu adalah pembantu atau si pengasuh, sehingga sosok pengasuhlah yang paling banyak memberi peran kepada anak.
Benar, sudah ada asisten yang bisa membantu membereskan pekerjaan rumah dan melayani anak. Tapi tahukah, sosok orang tua sebagai teladan itu tidak bisa tergantikan.
Bekerja untuk anak, tapi apa yang terjadi? Anak tidak hanya butuh pangan, papan, dan sandang, tapi kebutuhan batin serta pendidikan pola asuh dari orang tua sebagai bekal ke depan.
Benar tidak sedikit anak yang tumbuh tanpa ada masalah dan terjun menghadapi dunia nyata dengan merdeka. Bagaimana dengan anak lain yang tentu tidak semua memiliki daya juang yang sama.
Yang belum tentu memiliki orang tua dengan energi superpower bisa mengatur waktu antara kapan untuk bekerja dan kapan untuk keluarga?
Ketika penyetaraan gender digaungkan, partisipasi wanita bekerja semakin meluas. Tidak sedikit wanita bahkan rela meninggalkan keluarga untuk bekerja hingga negeri tetangga.
Ada pula yang rela lupa dengan kodratnya menjadi pasangan karena sibuk mengejar karier hingga tak terpikir mencari suami.
Lihat kesadaran wanita di kelas sejahtera, berbondong-bondong bercita-cita menjadi ibu rumah tangga saja yang fokus dengan tugas mengasuh anak.
Mereka sadar bahwa anak adalah amanah yang harus dijaga dan diberikan bekal sebanyak mungkin. Mereka paham ibulah sosok pertama yang mengerti dan mampu memberikan apa yang anak perlukan.
Sedangkan di kelas menengah ke bawah, kebalikannya. Mereka masih mengejar karier dan pekerjaan sebagai pembuktian diri dan ingin dilihat sebagai bukan wanita zaman dulu yang hanya terlahir untuk di dapur dan kasur.
Sebenarnya ibu rumah tangga bukan pekerjaan biasa, melainkan justru pekerjaan mulia yang tidak semua wanita mampu menjalankan “karier” di sana. []
Foto pinjam dari sini

Tinggalkan Komentar Anda