Gufron Azis Fuadi
Umumnya orang hanya tahu bahwa Nabi Muhammad Saw hanya pergi berdagang sekali ke Syam membawa barang dagangan konglomerat Mekah, Khadijah. Selain itu mungkin ya saat beliau diajak paman nya berdagang ke Syam pada usia 11 tahun.
Tidak banyak yang tahu bahwa beliau Saw, setelah dewasa, beberapa kali berdagang ke Syam (-+ 1200 km), Bahrain (-+ 1300 km) dan Yaman (-+ 1100 km). Belum terhitung dengan perdagangan jarak dekat seperti ke Thaif dan sebagainya.
Dari perjalanan dagang ini beliau Saw, bergaul dengan para saudagar seperti Abu Bakar, Utsman, Abdurahman bin Auf dan lainnya. Bukan hanya koneksi atau pertemanan yang terbentuk tetapi juga reputasinya sebagai sosok yang jujur, brilian dan good attitude.
Sebelumnya, saat remaja, beliau Saw juga dikenal sebagai pekerja keras sebagai penggembala domba yang terbiasa bercengkrama dengan para penggembala. Meskipun sebenarnya beliau Saw adalah seorang bangsawan tinggi.
Di usia 15 tahunan, beliau juga terlibat aktif dalam perang Fijar.
Saat berusia 20 tahun, beliau Saw juga turut hadir di rumah tokoh bani Taim, Abdullah bin Jud’an saat terjadinya Hilful Fudhul, perjanjian pembentukan aliansi untuk membela hak-hak orang yang terdzalimi di Mekah.
Setelah menikah beliau juga terlibat aktif dalam kegiatan pemugaran Ka’bah yang puncaknya beliau Saw tampil menjadi problem solver saat terjadi krisis atau konflik dalam pemasangan kembali Hajar Aswad.
Beberapa kisah dan peristiwa diatas menunjukkan bahwa sejak sebelum menjadi Nabi, beliau memiliki pergaulan yang luas dengan berbagai kalangan. Reputasinya terbentuk dari kenyataan dan fakta bukan pencitraan. Dalam istilah sekarang, beliau itu tidak canggung kalau harus makan di warung kaki lima dan tidak norak dalam jamuan table manner.
Selain itu, beliau Saw juga dikenal sangat menjaga kekerabatan dan soliditas kabilahnya, bani Hasyim. Sehingga, saat nanti, beliau menjadi nabi dan mengalami pemboikotan, bani Hasyim membersamai beliau meskipun belum semuanya menjadi muslim. Ini menunjukkan bahwa kredibelitas beliau mampu menjadi kohesi sosial yang mengikat kuat solidaritas klan atau kabilah.
Apa yang terjadi dan dilakukan oleh beliau Saw di atas, dalam bahasa sekarang disebut sebagai membangun modal sosial. Suatu modal yang sangat penting dan dibutuhkan oleh para politisi dan dai. Lebih lebih dai pergerakan yang bervisi transformasi atau perubahan sosial.
Modal sosial adalah sekumpulan sumber daya yang muncul dari hubungan antarmanusia dalam suatu masyarakat atau kelompok. Modal sosial ini bukan soal uang (modal finansial), melainkan soal “siapa yang kita kenal” dan “seberapa besar mereka memercayai kita”. Modal sosial intinya ada tiga: koneksi, trust atau kepercayaan dan nilai atau aturan yang mengikat solidaritas.
Dalam budaya bangsa kita, Idul Fitri atau hari raya Lebaran adalah hari hari berkumpul dan bersilaturahmi dengan saudara dan handai taulan. Oleh karena itu kegiatan silaturahmi lebaran kita bisa menjadi tolok ukur seberapa besar modal sosial kita dengan melihat seberapa banyak tamu kita yang datang dan seberapa banyak kita bertamu dan bertemu. Juga seberapa beragamnya pertemuan kita.
Banyak dan beragamnya pertemanan seseorang yang terjaga menunjukkan kekuatan modal sosialnya. Terkait modal sosial ini sabda nabi Saw berikut perlu direnungkan,
“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari no. 5986 dan Muslim no. 2557)
“Sambunglah tali persaudaraan (silaturahmi), maka Allah akan menambah rezeki dan umurmu.” (HR. Ahmad)
“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi).
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad).
Beberapa hadits diatas bukan hanya motivasi tetapi juga langkah-langkah konkrit. Selanjutnya tergantung kita.
Allahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Tinggalkan Komentar Anda