Berita Foto Advertorial Opini

Opini: Flipped Classroom, Model Pembelajaran Blended Learning Berbasis Teknologi Masa Pandemi

Opini: Flipped Classroom, Model Pembelajaran Blended Learning Berbasis Teknologi Masa Pandemi

Berlinda Mandasari. | Dokumentasi

 

Berlinda Mandasari. | Dokumentasi

Oleh Berlinda Mandasari, S.Pd., M.Pd. (Pakar Pengajaran Bahasa Inggris Universitas Teknokrat Indonesia)

Pandemi Covid-19 belum berakhir. Namun, angka pasien terkonfirmasi positif semakin menurun dan angka pasien sembuh meningkat.

Hal ini memberikan kabar baik terutama bagi institusi pendidikan tinggi dalam hal penyelenggaraan pendidikan. Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di perguruan tinggi, pemerintah mengeluarkan Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 03/KB/2021, Nomor 384 Tahun 2021, Nomor HK.01.08/MENKES/4242/2021, dan Nomor 440-717 Tahun 2021 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang menjelaskan bahwa pembelajaran mulai semester gasal tahun 2021/2022 di perguruan tinggi diselenggarakan dengan pembelajaran tatap muka terbatas dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, dan/atau pembelajaran daring.

Yang menarik dari keputusan ini, perguruan tinggi akan menerapkan model pembelajaran tatap muka dan daring (blended learning) pada semester berjalan. Pada dasarnya, konsep blended learning sudah tidak asing lagi bagi para dosen dan mahasiswa di perguruan tinggi.

Hanya saja yang menarik adalah bagaimana konsep blended learning ini diterapkan dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran dan mencapai capaian pembelajaran di masing-masing program studi.

Ada banyak model pembelajaran yang mengusung konsep blended learning.  Salah satu model pembelajaran yang dapat diadaptasi dan digunakan selama penerapan blended learning yakni model flipped classroom (pembelajaran terbalik).

Flipped classroom adalah model pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa melakukan pembelajaran secara sinkronus (pembelajaran siknronus di kelas) dan asinkronus (pembelajaran mandiri).

Pembelajaran asinkronus dapat dilakukan dengan menggunakan platform belajar daring seperti Google Classroom, Google Meet dan Learning Management System (LMS) lainnya. Secara teknis, terdapat empat tahapan implementasi model pembelajaran ini di kelas.

Tahap pertama, dosen menyediakan bahan ajar berupa video pembelajaran, materi ajar dan forum diskusi. Dalam hal ini, dosen diperkenankan untuk membuat video pembelajaran sendiri dan menjelaskan materi yang akan dipelajari oleh mahasiswa dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Video juga dapat diambil dari YouTube dengan mempertimbangkan keselarasan konten video dengan materi yang dibahas. Seluruh materi dapat diunduh oleh mahasiswa agar dapat ditonton dan dibaca secara berulang-ulang untuk memahami materi yang diajarkan.

Tahap kedua, mahasiswa diarahkan untuk dapat menonton video pembelajaran dosen. Selanjutnya, mahasiswa diarahkan untuk menyimak dan mencatat poin penting yang pada materi yang telah disampaikan melalui video.

Lalu, mahasiswa diminta untuk membaca materi yang disediakan dalam bentuk salindia/slide. Kemudian, mahasiswa diminta untuk membaca poin diskusi pada forum yang telah disediakan dan membuat catatan (note taking) serta melengkapi forum diskusi secara asinkronus.

Pada tahap ini, aspek pembelajaran yang ditekankan adalah pembelajaran mandiri. Mahasiswa diharapkan dapat memahami materi pembelajaran dengan menerapkan model belajar secara individu.

Tahap ketiga, mahasiswa mengikuti pembelajaran di kelas. Pada tahap ini, mahasiswa melakukan diskusi dengan teman sebaya terkait dengan materi yang telah dipelajari selama pembelajaran daring.

Kegiatan diskusi dilakukan secara kelompok agar terjadi pertukaran informasi dan mahasiswa memperoleh pemahaman yang sama terkait dengan materi yang telah dibahas.

Dalam hal ini, dosen berfungsi sebagai fasilitator yang bertugas untuk memantau jalannya diskusi dan memberikan kesempatan mahasiswa untuk bertanya hal-hal yang kurang dipahami.

Tahap keempat, mahasiswa diberikan asesmen formatif berupa tes tertulis ataupun tes lisan. Materi asesmen ini berasal dari materi yang telah dibahas.

Penerapan model pembelajaran flipped classroom ini memberikan dampak positif bagi mahasiswa.

Pertama, mahasiswa dilatih untuk dapat belajar secara mandiri. Aktivitas pembelajaran daring memungkinkan mahasiswa untuk belajar sendiri dengan cara mempelajari materi yang telah disediakan.

Kedua, mahasiswa dilatih untuk belajar berfikir kritis. Aktivitas menonton video pembelajaran, membaca materi ajar secara berulang-ulang dan melengkapi forum diskusi memungkinkan mahasiswa untuk memperoleh banyak informasi.

Selanjutnya, informasi yang mereka peroleh akan didiskusikan di kelas. Dalam aktivitas tersebut, akan ada proses menyampaikan pendapat dan pemecahan masalah.

Ketiga, mahasiswa memiliki kesiapan belajar yang lebih tinggi ketika mengikuti kelas tatap muka. Hal ini dkarenakan mereka telah diarahkan untuk membaca materi secara daring di rumah masing-masing.

Keempat, kemandirian belajar mahasiswa akan berdampak pada peningkatan kepercayaan diri serta partisipasi dalam diskusi di kelas.

Selain berdampak bagi mahasiswa, model pembelajaran flipped classroom juga berdampak positif bagi dosen. Dosen memiliki banyak waktu untuk dapat menyiapkan video dan materi ajar yang menarik.

Selain itu, dosen juga dapat menyiapkan berbagai proyek yang memicu kreativitas dan peningkatan kemampuan mahasiswa.

Dalam rangka mengoptimalkan penerapan model pembelajaran flipped classroom ini, dosen dan mahasiswa perlu menyadari berbagai tantangan yang mungkin dihadapi, di antaranya yakni koneksi internet yang tidak stabil.

Mahasiswa, terutama, perlu memastikan bahwa mereka bisa mengakses platform belajar online dengan menggunakan koneksi internet yang lancar sehingga hal ini bisa memudahkan mereka untuk mengunduh materi yang tersedia pada platform dan melengkapi forum diskusi secara asinkronus.

Sementara itu, dosen pun perlu meningkatkan kemampuan adaptasi teknologi dalam rangka mendukung terlaksananya pembelajaran blended learning.

Hal ini tentu perlu direspons positif. Teknologi akan semakin berkembang.

Jika kita tidak mengikuti perkembangan teknologi, maka kita akan tertinggal oleh zaman. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda