Opini

Opini: CSV dan Selebrasi Kebaikan

Opini: CSV dan Selebrasi Kebaikan

Iqbal Setyarso. | Dokumentasi

Iqbal Setyarso. | Dokumentasi

Iqbal Setyarso (Indonesia Care)

Adalah Michael Porter dan Mark Kramer tokoh yang memperkenalkan konsep Creating Share Value, yang memublikasikannya dalam artikel di Harvard Business Review. Artikel tersebut berisi pemahaman mendalam dan contoh relevan perusahaan yang telah mengembangkan hubungan mendalam antara strategi perusahaan dengan tanggung jawab sosial. Konsep ini kemudian dibahas lagi secara intens dalam pada artikel Creating Share Value pada tahun 2011.

Tentang hal ini, persis yang saya duga, pada sikap tentang CSV itu, dua hal ingin saya kemukakan: pertama, konsep itu pada gilirannya akan ada saatnya bertemu pada satu titik equilibrium antara strategi perusahaan (yang memburu profit), dan tanggungjawab sosial (yang bernuansa non-profit); kedua, akan ada momentum pendorong inisiatif selebratif pada pencapaian equilibrium itu, yakni terciptanya keseimbangan motif profit dan motif tanggungjawab sosial.

Berangsur Nyata

Hipotesis saya cukup realistis. Equilibrium itu terjadi. Sebutlah contoh nyata dalam kenyataan sehari-hari. Syahdan, ketika Toyota memperkenalkan Prius, sebuah kendaraan hybrid listrik/bensin, Toyota berhasil mendapatkan keunggulan kompetitif dengan memasarkan sebuah kendaraan yang tidak hanya memberikan keuntungan ekonomis, namun juga berdampak positif bagi lingkungan.

Urbi, sebuah perusahaan konstruksi asal Meksiko, mengembangkan pasar perumahan dengan memberikan kredit murah untuk pekerja dengan gaji kecil. Whole Foods Market telah menjadi pemimpin kategori di segmen supermarket dengan menawarkan makanan organik dan alami kepada konsumen yang sadar lingkungan.

Perusahaan juga dapat meningkatkan keunggulan kompetitif dengan melakukan investasi di komunitas di mana mereka beroperasi. Nestlé, misalnya, berhubungan sangat dekat dengan Distrik Susu Moga di India, melakukan investasi pada infrastruktur lokal, dan mentransfer teknologi kelas dunia untuk membangun rantai suplai yang kompetitif sekaligus meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kesehatan masyarakat, pendidikan yang lebih baik, dan pertumbuhan ekonomi. Itu baru sebagian kecil contoh dalam dunia nyata.

Pendek kata Creating Shared Value (CSV) adalah sebuah konsep dalam strategi bisnis yang menekankan pentingnya memasukkan masalah dan kebutuhan sosial dalam perancangan strategi perusahaan. CSV merupakan pengembangan dari konsep tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility, CSR). Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Michael Porter dan Mark Kramer pada tahun 2006.

Konsep CSV didasari pada ide adanya hubungan interdependen antara bisnis dan kesejahteraan sosial. Porter mengkritik bahwa selama ini bisnis dan kesejahteraan sosial selalu ditempatkan berseberangan.

Pebisnis pun rela mengorbankan kesejahteraan sosial demi keuntungan semata, misalnya dengan melakukan proses produksi yang tidak memperhatikan lingkungan atau menciptakan polusi. CSV menekankan adanya peluang untuk membangun keunggulan kompetitif dengan cara memasukan masalah sosial sebagai bahan pertimbangan utama dalam merancang strategi perusahaan.

Lebih Dekat dengan CSV

Bagi para pengusaha, khususnya di sektor industri, istilah Corporate Social Responsibility (CSR) sudah tak asing lagi. Pasalnya, CSR merupakan tanggungjawab sosial perusahaan terhadap masyarakat luas, yang memiliki nilai strategis dan dipandang sebagai keunggulan kompetitif perusahaan serta dapat menumbuhkan nilai kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan.

Namun, pendefinisian ulang istilah CSR dipandang perlu mengingat tanggungjawab sosial bukan hanya kewajiban bagi perusahaan, namun juga bagi semua pihak. Guna mewujudkan tanggung jawab bagi semua pihak, maka perlu diciptakan manfaat bersama atau Creating Shared Value (CSV), sehingga tanggungjawab bersama dapat terbentuk.

CSV sendiri merupakan pengembangan dari konsep tanggungjawab sosial perusahaan (baca. CSR). Artinya, sebuah konsep dalam strategi bisnis yang lebih mengedepankan masalah dan kebutuhan sosial dalam perencanaan strategi perusahaan.

Menurut rekam jejak digital, Michael Porter dan Mark Kramer memublikasikan pandangan ini pada 2006 dalam artikelnya pada Harvard Business Review, tentang berisi pemahaman dan contoh relevan perusahaan yang telah mengembangkan hubungan mendalam antara strategi perusahaan dan tanggungjawab sosial. Konsep ini pun kembali menjadi pembahasan dalam artikel: Creating Shared Value pada 2011.

Publikasi Michael Porter dan Mark Kramer itu mengubah persepsi “kurang ramah” pelaku bisnis atas “ketegangan” yang sempat mengemuka: antara bisns di satu sisi dan kesejahteraan sosial di seberangnya. Cukup lama pandangan bisnis abai pada kesejahteraan sosial, bahkan yang cukup mengemuka, bahkan bisnis di dunia “tercatat punya raport merah” dalam dunia global.

Artikel Porter dan Kramer ini membangun keseimbangan antara keduanya. Dengan kata lain, CSV merupakan transformasi atau pengembangan dari CSR.

Kelebihan Konsep CSV

CSV menawarkan kerangka holistik untuk menyatukan sebagian besar perdebatan atas CSR, strategi non pasar, kewirausahaan sosial dan inovasi sosial. Sehingga, CSV merupakan strategi penting dalam bisnis untuk mendapatkan keuntungan kompetitif melalui kegiatan masyarakat yang dapat menciptakan keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang.

Kelebihan pengembangan konsep ini adalah menjadikan tantangan sosial sebagai jantung strategi serta peluang bisnis dengan menciptakan nilai bagi masyarakat. Tak hanya itu, CSV membuka banyak cara untuk melayani kebutuhan baru, mendapatkan efisiensi, menciptakan diferensiasi dan memperluas pasar.

Konsep ini dapat mengonversi isu sosial dan lingkungan menjadi peluang besar pertumbuhan bisnis dan mencapai daya saing jangka panjang. Perusahaan harus mengintegrasikan perspektif sosial ke dalam kerangka kerja yang kompetitif dalam mengembangkan strategi bisnis, seperti tantangan globalisasi, lingkungan, dan perubahan sosial merupakan peluang untuk menciptakan inovasi.

Agar CSV Sukses

Dalam perbincangan konseptual CSV, sedikitnya ada tiga hal yang menjadi tolokukur. Tiga hal itu adalah:

Pertama, memulihkan produk dan pasar. Menawarkan produk dan layanan yang inovatif dan menciptakan pasar baru. Perusahaan harus terus mengidentifikasi kebutuhan masyarakat yang mungkin dimasukan dalam portofolio produk atau jasa perusahaan, mengidentifikasi apakah produk, layanan, inovasi pasar yang dihasilkan benar-benar bermanfaat, diperlukan, bernilai dan bisa diakses oleh mayoritas masyarakat.

Perusahaan menitikberatkan pada pertumbuhan pendapatan, pangsa pasar, dan profitabilitas yang timbul dari manfaat pembangunan lingkungan, sosial, dan ekonomi yang dilakukan oleh produk dan jasa perusahaan.  

Kedua, mendefinisikan kembali Produktivitas dalam rantai nilai. Mengidentifikasikan apakah usaha yang dijalankan benar-benar bermanfaat untuk produktivitas dan secara simultan dapat meningkatkan kemampuan sosial, lingkungan, dan ekonomi dari segi value chain perusahaan. Strategi CSV dapat membuka jalan bagi penciptaan terobosan-terobosan baru untuk mengatasi persoalan sosial yang sekaligus memberikan pengaruh yang positif terhadap produktivitas perusahaan, dan,

Ketiga, pengembangan klaster lokal. Perusahaan tidak dapat berdiri sendiri disebabkan produktivitas dan inovasi dari suatu perusahaan bergantung kepada tempat di mana perusahaan tersebut berada, suppliernya, penyedia jasa, dan lokasi infrastruktur logistiknya. Perkembangan perusahaan dapat dicapai dalam hubungan kerja sama dengan pemasok dan lembaga lokal, sehingga berkurangnya biaya untuk bisnis dari meningkatnya keamanan rantai pasok atau pendapatan dari jaminan lisensi untuk beroperasi dan berkembang.

Dengan demikian, memperbaiki lingkungan eksternal bagi perusahaan melalui investasi masyarakat dan memperkuat pemasok lokal, institusi lokal, dan infrastruktur lokal merupakan cara meningkatkan produktivitas bisnis. Berupa, pengembangan klaster industri pendukung di sekitar lokasi perusahaan.

Dengan adanya konsep Creating Shared Value (CSV), diharapkan dapat memberantas kemiskinan dan kelaparan, meningkatkan kesehatan dan menjamin daya dukung lingkungan hidup, mendukung adanya persamaan gender dan pemberdayaan perempuan serta meningkatkan kemitraan global untuk pembangunan.

Memanggungkan CSV

Benar, baru pada awal 2011, Creating Shared Value (CSV) mulai populer di Indonesia. Kendati begitu, telah ada beberapa perusahaan yang berhasil menjalankannya dengan baik, bahkan berhasil menciptakan nilai ekonomi bersama sekaligus menyelesaikan persoalan sosial yang ada di masyarakat.

Untuk memberikan apresiasi kepada perusahaan yang telah berhasil menjalankan konsep CSV,  bisa saya sebut selebrasi kebaikan. Adalah TRAS N CO Indonesia yang “memanggungkan” kebaikan kolektif ini, ketika secara spesifik inisiasi itu diapresiasi.

Sebagai event perdana di Indonesia yang diadakan untuk korporat, ada tiga kategori yang dinominasikan:  CSV Concept Aspect, CSV Impact Aspect, dan CSV Branding Aspect. Event ini diselenggaraan bersamaan dengan webinar nasional yang mengangkat tema CSR (Corporate Social Responsibility) to CSV (Creating Shared Value). Ketika itu hadir sebagai narasumber: Drs. Mas Ahmad Daniri, MEc (Dewan Pakar Komite Nasional Kebijakan Governance, pakar Good Corporate Governance dan penulis buku “Lead by CSV”. Beliau membawakan tema Paradigma Baru Penerapan CSV.

Pembicara kedua , Dr. Gancar C. Premananto, CDM, Kepala Departemen  Manajemen FEB Universitas Airlangga, sekaligus Senior Consulant dan mentor CSV, yang akan menyampaikan tema CSV, Smart Corporate Strategi. Sedangkan pembicara ketiga, Tri Rahardjo SE, MM, seorang CEO Tras Co. Indonesia dan founder Indonesia Brand Network (IBN) yang menyampaikan materi Brand Strategy for CSV.

Fenomena apresiasi ini membuahkan impak terkerek brand dan membawa pengaruh positif pada pengembangan brand di Indonesia. Menjadikan sebuah langkah maju bagi perusahaan. Tri Raharjo, CEO TRAS N CO Indonesia menjelaskan, proses penilaian dilakukan dalam dua tahap. Pertama mengumpulkan data perusahaan yang menjalankan CSV dan pendaftaran yang dilakukan oleh perusahaan yang memiliki program CSV dan telah menjalankan program CSV. Dari tahap pertama, setidaknya terdapat 54 perusahaan yang lolos untuk mengikuti tahap berikutnya.

“Dari 54 peserta tersebut yang lolos seleksi awal kami undang secara resmi untuk hadir melakukan presentasi dan memaparkan program CSV yang sedang dijalankan di hadapan dewan juri melalui aplikasi zoom meeting,” ungkap Tri Raharjo. Berikutnya CSV Impact Aspect, menilai kegiatan CSV yang memiliki dampak positif untuk internal perusahaan, serta berkesinambungan terhadap keberlangsungan bisnis yang bersifat menguntungkan dan memiliki dampak efisiensi bagi perusahaan. Dan eksternal perusahaan, dengan menilai kegiatan yang memberikan dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat melalui Sustainable Development Goals (SDGs).

“Terakhir, CSV Branding Aspect, menilai kegiatan CSV yang memiliki nilai branding bagi perusahaan, terhadap produk/jasa, yang mampu meningkatkan brand image perusahaan, yang memiliki diferensiasi dengan kegiatan lainnya,” jelas Tri Raharjo. Selain fokus terhadap tiga aspek penilaian tersebut yang dipaparkan, dalam presentasinya perusahaan peserta juga diminta untuk memaparkan unsur masalah dan kebutuhan sosial di perencanaan strategi perusahaan dalam menjalankan program CSV yang berfokus pada 3P yaitu; Profit, People dan Planet. “Program CSV harus selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang dapat diukur tingkat keberhasilannya berdasarkan SROI (Social Return On Investment) yaitu mengukur dampak program social yang dilakukan bagi perusahaan, lingkungan dan sosial,” imbuh Tri Raharjo.

Dari proses penjurian yang dilakukan, lanjut Tri Raharjo, ada 20 perusahaan yang berhak mendapatkan penghargaan Top CSV Award 2021, mereka adalah: PT Pertamina (Persero) (program CSV Pinky Movement), PT Taspen (Persero) mengunggulkan program CSV Wirausaha Pintar), PT Jasa Raharja dengan program CSV Traffic Hero & Youth Traffic Innovation, PT Pembangkitan Jawa-Bali dengan program CSV Inovasi PJB Co-Firing Untuk Negeri, Magister Manajemen Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Airlangga (diganjar award dengan program CSV This Is Ability Not Disability – Metode Melukis dengan Aroma untuk Tuna Netra), PT Semen Gresik (dengan program CSV Social Enterprise – Gerakan Pemberdayaan Masyarakat Yang Berkesinambungan dan Bersifat Inklusif Dengan Pembentukan Perusahaan Patungan). Selanjutnya, PT Pelindo Marine Service (dengan program CSV Donor Darah & Plasma Konvalesen di RS Terapung Ksatria Airlangga), PT Pupuk Kujang (program CSV Kampung NanasKu), PT Campina Ice Cream Industry Tbk (program CSV It’s Time To Share & Care – Creating Value With Happiness), PT Astra Tol Nusantara (program CSV Strengthening Sustainability Strategy Through Astra Infra’s Toll Road Safety Performance), PT (Persero)  Bio Farma (mengunggulkan program CSV Sustainability To Improve Quality Of Better Life), PT Astra Graphia Tbk (mengunggulkan program CSV Kelas ASIK – Kelas Astragraphia Untuk Industri Kreatif).

Pemberian penghargaan bertujuan untuk mengapresiasi perusahaan yang telah berhasil menjalankan program CSV untuk membangun keunggulan kompetitif perusahaan. Dan tentunya penghargaan yang diterima tentunya akan semakin meningkatkan citra, reputasi dan kepercayaan terhadap brand atau perusahaan di mata publik.

“Melalui penghargaan ini, juga diharapkan dapat mendorong brand atau perusahaan di Indonesia untuk semakin meningkatkan program CSV yang akan berdampak positif bagi lingkungan sosial dan perusahaan,” jelas Tri Raharjo.

Susilowati Ningsih, CEO INFOBRAND Group, menambahkan,”Penghargaan TOP CSV Award 2021 diberikan bersamaan dengan penyelengaraan Webinar Nasional pada tanggal 14 Oktober 2021, dengan Tema “CSR to CSV”. Webinar bertujuan untuk mengedukasi para pelaku CSR untuk melakukan transformasi program CSR menjadi CSV (Creating Shared Value) bukan hanya konsen pada dampak sosial saja tetapi juga dampak ekonomi.

“Harapan saya penghargaan TOP CSV Award 2021 adalah meningkatnya motivasi perusahaan untuk terus menciptakan program CSV berkelanjutan, yang tentunya mampu memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan ekonomi, lingkungan dan sosial,” tutup Susilowati Ningsih. (Kompas.com, 14 Oktober 2021).

Pada perkembangannya, awarding yang telah terlaksana pada 2021, tahun ini dilanjutkan. Untuk tahun kedua, CSV Award 2022, telah terlaksana. Event penjurian berlangsung 31 Oktober – 3 November 2022. Dari infobrand.id menyebutkan, awarding ini diikuti 12 perusahaan yang saling adu baik program CSV-nya. Shohibul hajat-nya, infobrand masih bersama Tras N Co sebagai pelaksana selebrasi kebaikan itu. Perusahaan-perusahaan itu mengajukan 15 program.

“Puncak kegiatan, awarding ceremony, rencananya kami selenggarakan pada 30 November 2022. Dan saat ini kami masih membuka kesempatan bagi perusahaan yang ingin menjurikan programnya,” ujar Susilowati Ningsih, sebagaimana dimuat infobrand.id. (7 November 2022). []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda