Berita Foto Opini

Opini: Belajar Bahasa Prancis Artinya Menjadi Orang Prancis

Opini: Belajar Bahasa Prancis Artinya Menjadi Orang Prancis

Elisabeth Siregar. | Dokumentasi

Elisabeth Siregar. | Dokumentasi

Oleh Elisabeth Siregar, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila

Bukan satu atau dua kali masyarakat luas mendengar bahwa Prancis adalah negara romantis. Mulai dari tradisi, sejarah, hingga bahasa.

Tradisi cipika-cipiki, dalam Prancis, la bise, misalnya. Di Indonesia, tradisi cium pipi kiri-cium pipi kanan ini juga ada. Orang-orang memakainya sebagai sapaan hangat, apalagi setelah lama tak jumpa.

Apakah ini membuat Indonesia juga jadi negara romantis? Tidak juga, tetapi, dikenal sebagai negeri yang ramah. Itu Indonesia.

Prancis terkenal akan keindahannya. Menara Eiffel adalah salah satu ikon terkemuka yang sudah masuk Pameran Dunia sejak tahun 1889.

Semakin tua, semakin indah. Bukan hanya Menara Eiffel yang semakin tua semakin indah, tetapi juga bangunan-bangunan apartemen tua yang berdiri hampir di seluruh wilayah Prancis juga menunjukkan eksistensinya sebagai bagian dari peradaban.

Bangunan dengan interior yang juga tua itu dinikmati oleh warga Prancis. Mereka menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di balkon sembari menikmati apa pun itu yang ingin mereka nikmati.

Mungkin itulah salah satu faktor yang membuat negara Prancis dijuluki sebagai negara romantis. Mereka bermesraan dengan apa saja yang ada di hidup mereka, sekalipun itu bangunan tua, atau sekalipun hanya bersama-sama dengan diri mereka sendiri.

Faktor apalagi yang membuat negara ini begitu melekat di hati masyarakat dunia? Selain sejarah yang panjang, negara Prancis memiliki tokoh-tokoh bersejarah.

Victor Hugo, Charles de Gaulle, Napoleon Bonaparte, sampai Ratu Prancis 1774-1793 yang kehilangan kepalanya, Marie Antoinette. Di balik romantisme negara ini, tokoh-tokoh tersebut telah berjuang untuk masyarakatnya.

Perjuangan berdarah dan berpeluh yang ditulis sepanjang 17 tahun lamanya oleh Victor Hugo dalam novel Les Miserables. Les Miserables sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan dipopulerkan ke dalam berbagai adaptasi seni seperti drama musikal dan film.

Maka, novel ini termasuk salah satu novel yang paling terkenal di kalangan pembelajar bahasa Prancis. Di Indonesia, Sastra Prancis dan Pendidikan Bahasa Prancis sudah berdiri di beberapa universitas negeri maupun swasta.

Banyak pula yang sudah berangkat ke Prancis berkat beasiswa dan lainnya. Mereka melibatkan diri dalam sejarah panjang Prancis, mempelajari bahasa dan kebudayaannya, dan bergiat untuk menyebarkan ilmu ke-Prancis-an mereka kepada masyarakat Indonesia.

Buku-buku panduan gramatikal, artikel tempat wisata di Prancis, hingga blog pribadi yang menceritakan bagaimana kehidupan di sana. Sudah sejak lama bagian Prancis ada di Indonesia yaitu bahasa Prancis.

Para pembelajar bahasa Prancis di lembaga akademik berusaha maksimal memahami dan mempelajari bahasa itu. Bahasa yang memiliki sejuta makna. Bahasa yang tidak bisa diartikan begitu saja.

Bahasa dari negara yang kebudayaannya berbeda dengan bahasa Indonesia. Kesulitan yang sebenarnya bagi para pembelajar bahasa Prancis adalah karena mereka melupakan fakta bahwa tiap bahasa adalah bagian dari kebudayaan negaranya, kebudayaan masyarakatnya.

Keengganan para pembelajar bahasa asing untuk sepenuhnya memahami bahasa dari budayanya membuat bahasa itu semakin sulit. Cara suatu masyarakat bahasa Prancis (franchopone) berekspresi berbeda dengan cara masyarakat Indonesia, meskipun pola pikir tidak jauh berbeda.

Dari segi itulah seharusnya para pembelajar bahasa Prancis memulai perjalanan mereka dalam belajar. Masyarakat Prancis bisa dengan mudahnya menghabiskan waktu menyeruput secangkir kopi sembari menilai rasa di tiap sesapnya.

Mereka terbiasa menatap sekeliling dan berkomentar tentang apa yang mereka lihat. Banyaknya komentar membuat mereka punya banyak ekspresi untuk satu kalimat.

Bagaimana pembelajar bahasa Prancis di Indonesia sanggup mencerna semuanya? Jadilah seperti orang Prancis. Menyisihkan waktu untuk sesekali berada seperti di Prancis, menyeruput kopi dan berkomentar bagaimana rasanya atau menulis jurnal harian.

Bukan, bukannya para pembelajar harus menanggalkan tradisi mereka sebagaimana mereka hidup sebagai orang Indonesia, tetapi, mempelajari suatu bahasa dari sudut pandang masyarakat/penutur asli rasanya menyenangkan sehingga kita tidak lagi berkata itu adalah bahasa asing tetapi itu adalah bahasa yang kita sayangi. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda