Setia Rini

Oleh Setia Rini, Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung
Ada banyak alasan kenapa seseorang memutuskan mempelajari bahasa asing tertentu, termasuk bahasa Prancis. Namun, apakah juga ada banyak motivasi yang menguatkan ketika kita belajar bahasa Prancis? Harusnya jawabannya, ada dong ya.
Ketika kita sudah memutusukan, artinya kita sudah memiliki alasan untuk memulainya. Dan ketika kita sudah berani memulai, maka kita juga harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya sampai akhir.
Seiring dengan dimulainya perkuliahan baru di semester ganjil ini, tentu para mahasiswa baru memiliki alasan masing-masing kenapa memilih melanjutkan studi di bidang A, B, C. Semangat menggebu, tekad baja, motivasi kuat sangat terlihat pada diri setiap mahasiswa baru.
Lalu apakah hal itu juga sama dengan yang dialami oleh mahasiswa semester akhir, atau juga mahasiswa semester tengah? Masihkah dengan semangat dan tekat serta motivasi yang sama ketika masih di semester 1 dulu?
Kita tidak tahu pasti jawabannya. Yang pasti, seharusnya setiap diri memiliki tanggung jawab masing-masing. Berani memutuskan dan memulai, ya berarti berani melanjutkan dan menyelesaikan sampai akhir.
Sejatinya belajar bahasa asing itu sama hal kita belajar bahasa yang lainnya. Namanya bahasa asing, tentu asing bagi kita yang mempelajarinya.
Asing berarti tidak biasa kan? Asing berarti terkesan ada jarak ya, antara kita dengan bahasa itu. Ya pantas saja belajar bahasa asing tidak semudah yang dibayangkan, karena memang seasing itu.
Oke, jadi kita harus bagaimana? Logikanya, kita harus dekat dong dengan bahasa yang dipelajari, intens digunakan, sering dipraktikkan, sampai kita merasa sedekat itu dengan bahasa yang kita pelajari.
Label bahasa asing cukup kita sematkan sekadar label, bahasa itu memang bukan bahasa kita. Tetapi, bahasa asing itu sangat bisa kita pelajari dan kita kuasai dengan baik, bahkan semudah dan selancar kita berkumunikasi dalam bahasa ibu kita.
Jadi, kenapa kita tidak mengubah dalam mindset kita, bahasa asing itu semudah bahasa ibu? Bahasa ibu sejak kecil kita dengar, sejak mulai bisa berbicara kita praktikkan bahasa ibu, semakin besar, semakin dewasa, kita semakin mahir berkomunikasi, berpendapat, bahkan mengkritik.
Kenapa tidak kita posisikan bahasa asing yang sedang kita pelajari seperti itu? Jika kita merasa sulit, ya memang yang terjadi akan sulit.
Sebaliknya, jika kita pikir belajar bahasa Prancis itu mudah, ya betul yang terjadi adalah mudah. Kenapa tidak diatur dulu saja mindset kita dengan sering mengatakan bahwa bahasa Prancis itu mudah?
Bahasa Prancis itu mudah, bahasa Prancis itu bahasa kita sehari-hari, bahasa Prancis itu menyenangkan. Iya harusnya setiap hari kita memupuk diri kita dengan kalimat-kalimat itu.
Motivasi diri sekuat-kuatnya, sampai muncul bahwa saya harus menguasai bahasa Prancis dengan baik supaya suatu hari nanti saya bisa berkomunikasi dengan nyaman ketika berada di Prancis. Iya, menguasai bahasa Prancis dengan baik.
Menguasai bahasa Prancis, tidak melulu hanya diukur dari kemampuan tata bahasanya, atau empat keterampilan berbahasa yang sering dan selalu digaungkan, atau bahkan menjadi mata kuliah di prodi-prodi Prancis.
Tidak sebatas kita bisa menyimak, membaca, berbicara maupun menulis, tetapi sesungguhnya menguasai bahasa Prancis itu adalah bagaimana praktik kita secara nyata dalam bahasa Prancis, terkait orang-orang dan budaya Prancis.
Oleh karena itu, di dalam Pedoman Bahasa-bahasa Eropa atau yang dikenal dengan CECRL (Cadre Éuropéen Commun de Références pour les Langues) yang diterbitkan oleh Dewan Eropa, dijelaskan bahwa dalam mempelajari bahasa Prancis, kita harus paham 4 hal ini: le savoir, le savoir-connaître, le savoir-faire, dan le savoir-être.
Le savoir adalah kemampuan terkait wawasan bahasa maupun budaya Prancis. Kita wajib tahu banyak hal terkait Prancis ya, baik itu negaranya, budayanya, orang-orangnya, dan berbagai hal lainnya terkait Prancis.
Misalnya, hal yang paling mendasark terkait Prancis, kita tahu bahwa Prancis adalah negara barat yang terkenal sebagai kiblat kuliner dan mode.
Le savoir-faire berkaitan dengan praktik berbahasa Prancis itu sendiri, apakah kita dapat berkomunikasi dalam bahasa Prancis dengan baik terkait perbedaan konteks atau situasi sosial masyarakat Prancis.
Misalnya, saja ketika beromunikasi dengan orang Prancis, kita haurs tahu dong kita sedang bercakap-cakap dalam konteks formal atau tidak, sedang berbicara dengan siapa, harus menggunakan bahasa seperti apa.
Le savoir-être artinya kompetensi kita dalam berkomunikasi bahasa Prancis secara sadar paham betul terkait identitas diri kita sendiri baik karakter atau kepribadian, agama, sikap, keyakinan, dan lain sebagainya. Artinya, kita dapat memosisikan diri dalam berkomunikasi dalam bahasa Prancis.
Contohnya saja, kita sebagai seorang muslim, ya kita harus membawa identitas kita sebagai seorang muslim ya, bukan terus kita ikut-ikutan ala-alat Prancis sebagai orang Barat (Baca: Belajar Bahasa Prancis Tidak Harus Menjadi Orang Prancis).
Le savoir-apprendre yaitu berkaitan dengan kesadaran kita untuk belajar bahasa Prancis sebagai bahasa asing dengan berbagai cara yang bisa dilakukan seperti mencatat, banyak membaca, memotivasi diri, selalu memiliki rasa ingin tahu, dan lain sebagainya.
Nah, kompetensi terakhir inilah yang kita masing-masing harus tahu betul, bagaimana cara belajar bahasa Prancis?
Kita sudah memutuskan untuk belajar bahasa Prancis. Kita cari tahu bagaimana cara dan strategi supaya kita bisa cepat dan mudah menguasai bahasa Prancis, bisa casciscus berkomunikasi dengan orang-orang Prancis.
Paling tidak bisa membaca frasa ini dengan benar: le ver vert va vers le verre vert atau ton tonton tond ton thon.
Bisa membaca atau mengucapkannya dengan benar, bisa paham artinya juga. Apa ya artinya?
Artinya, mempelajari bahasa Prancis itu membutuhkan strategi dan cara belajar yang tepat. Belum tentu kita dengan mereka sama cara menyerap bahasa Prancis.
Belum tentu juga cara tangkap kita sama, pasti ada yang berbeda. Belum tentu juga semua suka menonton film Prancis, mungkin lebih banyak yang suka menonton drama Korea. Belum tentu juga semua suka mendengarkan lagu Prancis, lebih banyak malah mendengarkan lagu-lagu Inggris.
Tetapi ada banyak hal yang bisa didekati, supaya bahasa Prancis semakin familiar dengan diri kita, yang sedang belajar berjuang supaya bisa casciscus.
Dekati lewat kuliner, dekati lewat mode, dekati juga dengan tempat-tempat wisata di Paris. Atau belajar bahasa Prancis dengan tahu brand-bramd Prancis, orang-orang terkenal asal Prancis.
Apa pun yang berbau-bau Prancis bisa kok didekati sebagai sarana untuk belajar. Belajar bahasa Prancis itu tidak melulu konjugasi dan artikel, belajar bahasa Prancis itu seluas semesta ini.
Kita bisa mempelajarinya dari berbagai cara dan sudut pandang. Selagi cara dan sudut pandang itu baik, coba saja kita pelajari. []

Tinggalkan Komentar Anda