Berita Foto Opini

Opini: Belajar Bahasa Asing Tak Harus Jadi Orang Asing, Belajar Bahasa Prancis Tak Mesti Jadi Orang Prancis

Opini: Belajar Bahasa Asing Tak Harus Jadi Orang Asing, Belajar Bahasa Prancis Tak Mesti Jadi Orang Prancis

Setia Rini. | Dokumentasi

Setia Rini. | Dokumentasi

Oleh Setia Rini, Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung

Bahasa asing, satu kompetensi yang menurut saya, wajib dikuasai saat ini oleh siapa pun dengan latar belakang apa pun. Tidak ada ruginya sedikit pun menguasai bahasa asing, malah melalui bahasa asing pintu-pintu kesuksesan semakin terbuka lebar, apa pun profesinya.

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu, dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui,” (QS. Ar-Rum: 22).

Betapa Allah Maha Besar dengan segala firman-Nya, menciptakan jutaaan bahasa yang berbeda agar orang-orang di bumi saling mengenal satu sama lain. Bagaimana jutaan bahasa itu bisa menjadi media perantara untuk saling berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia yang berbeda.

Kalau kata Google, ada 7117 bahasa yang digunakan di seluruh dunia. Nah, bagaimana bisa kita menguasai sekian ribu bahasa asing tersebut supaya bisa sekadar berbicara dengan orang asing?

Jawabannya adalah dengan kita menguasai bahasa internasional, maka kita bisa berkomunikasi dengan orang asing tanpa harus menguasai 7117 bahasa tersebut. Hasil penelusuran Mbah Google melalui https://edufund.co.id/blog/bahasa-inggris/ dijelaskan bahwa ternyata bahasa Inggris menjadi bahasa internasional sejak abad 18.

Dan sampai dengan saat ini abad 21, bahasa Inggris masih menjadi bahasa internasional pertama di dunia. Artinya, kita harus menguasai bahasa Inggris (paling tidak) supaya bisa berkomunikasi internasional.

Selain itu, paling tidak kita menguasai 4 bahasa asing lainnya yang juga merupakan bahasa internasional. Artinya, bahasa yang jumlah penuturnya terbanyak di dunia selain bahasa Inggris.

Bahasa apa sajakah itu? Ada bahasa Mandarin, bahasa Spanyol, bahasa Prancis, dan bahasa Arab. Dalam hal ini, rasanya menarik sekali mengulas tentang bahasa Prancis, bahasa romantis, bahasa yang saya ajarkan di Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila.

Suatu kebanggaan tersendiri bagi saya sebagai dosen, peneliti, penggiat, salah satu bahasa internasional, yaitu bahasa Prancis. Saat ini, tidak hanya bahasa Inggris yang wajib dikuasai sebagai bahasa internasional, buktinya bahasa Prancis semakin banyak digunakan di berbagai organisasi dunia (PBB, UNESCO, NATO, IRC, UE, FIFA, IOC, dll)

Bahasa Prancis juga merupakan bahasa pasar kerja internasional, bahasa budaya, bahasa mode, bahasa kuliner, bahasa pendidikan, bahawa wisata, dan masih banyak lagi. Oleh karena itu, dengan bangganya saya sebagai dosen bahasa Prancis akan menyarankan siapa pun untuk belajar bahasa Prancis selain bahasa Inggris yang sudah tentu dipelajari sejak SD bahkan sejak TK.

Belajar bahasa asing tidak hanya belajar kosakata dan tata bahasanya, tidak hanya belajar fonetik dan semantiknya, aksen maupun gaya bicaranya.

Belajar bahasa asing berarti belajar juga negaranya, budayanya, dan berbagai hal terkait bahasa itu. Bahasa Prancis misalnya, tentu semua orang tahu betul bahwa bahasa Prancis adalah bahasa paling romantis di dunia, bahasa cinta, bahasa sensual dan menggoda yang memikat.

Ada banyak alasan mengapa bahasa Prancis disebut sebagai bahasa romantik. Seperti kata https://id.quora.com/Mengapa-bahasa-Prancis-didapuk-menjadi-bahasa-paling-romantis bahasa Prancis disebut romantis karena pada abad pertengahan dulu, karya sastra-karya satra tentang percintaan ditulis dalam bahasa Roman.

Di Prancis sendiri, bahasa Roman itu ya bahasa Prancis, sedangkan karya sastra tinggi ditulis dalam bahasa latin.

Oleh karena itu, “romantis” sendiri yang secara harfiah bermakna dalam bahasa Roman, berhasil mendefinisikan sebuah bahasa Prancis yang romantis.

Kalau saya sendiri, terlepas dari banyak alasan mengapa bahasa Prancis disebut sebagai bahasa romantis, saya punya alasan tersendiri setelah sekian tahun saya belajar dan mengajarkan bahasa Prancis.

Menurut saya, kenapa bahasa Prancis itu romantis? Karena pengucapan bahasa Prancis itu seksi, ada desahan hampir di setiap ujung kata, dan banyak kata-kata yang diucapkan bertautan karena pertemuan huruf konsonan dan vokal, sehingga terkesan orang Prancis kalau berbicara tidak putus.

Misalnya je t’aime tous le jours mon amour [ze tem..tu le zur mong namur..].

Kalau kata Ajeng Kamaratih, Prencong amsyong! Alih-alih menguasai bahasa Prancis, terkadang banyak pemelajar yang dibuat tertantang untuk bisa mengucapkan sesuai aksen Prancis.

Dan buktinya, meskipun sulit dikuasi, banyak dari mahasiswa saya sendiri yang memiliki pengucapan/aksen mirip seperti orang Prancis, gaya berbicara seperti orang Prancis.

Salah satunya Renaldi Fany Putra yang berhasil memperoleh beasiswa BGF ke Prancis selama 1 semester tahun 2022 lalu.

Coba kalian simak dia berbicara bahasa Prancis, kalian tidak akan percaya bahwa Renaldi yang sedang berbicara, melainkan seperti orang Prancis asli.

Haruskah belajar dan menguasai bahasa Prancis juga harus berbicara layaknya orang Prancis? tentu saja akan saya jawab, tidak.

Kita bisa berkomunikasi dengan orang asing, dalam hal ini orang Prancis atau orang-orang Frankofon (penutur bahasa asing), adalah saling mengerti satu sama lain, komunikasi jalan, saling menyampaikan dan menerima pesan yang dimaksud, dan selesai.

Toh banyak pemelajar Indonesia yang belajar bahasa Prancis dengan kekhasan aksen masing-masing karena pengaruh bahasa daerah seperti Jawa, Sulawesi, Medan, dan lain-lain.

Tentu bukan menjadi sesuatu yang memalukan bahasa Prancis kita tidak seperti orang Prancis, bahasa Prancis kita medok dengan aksen Jawa. Tidak masalah.

Sebaliknya, kalaupun ada yang bisa memiliki aksen seperti orang Prancis, menjadi poin plus yang membuat setiap diri menjadi lebih percaya diri ketika berkomunikasi dengan penutur bahasa Prancis.

Lalu, bagaimana dengan budayanya? Katanya menguasai bahasa asing itu, juga harus tahu banyak hal terkait bahasa itu, ya negaranya, ya pemerintahannya, ya budayanya, apa pun.

Ok, saya pribadi di sini sangat tergelitik dengan fenomena pemelajar, orang-orang Indonesia yang belajar bahasa Prancis, yang bisa bahasa Prancis juga menginternalisasikan, bahkan mempraktikkan budaya Prancis dalam kehidupan dan pergaulannya.

Apakah saya sebagai dosen juga menyuruh dan mengajarkan mahasiswa-mahasiswa untuk mengetahui dengan baik budaya Prancis? Iya tentu saja, wajib, sangat wajib.

Saya selalu berulang-ulang ketika mengajar menekankan kepada mahasiswa untuk banyak membaca, banyak melihat, banyak diskusi, bagaimana budaya Prancis, bagaimana orang Prancis, bagaimana kehidupan di Prancis, bagaimana pergaulannya, bagaimana-bagaimana yang lainnya.

Tapi saya pun juga berulang-ulang menegaskan kepada mahasiswa, bahwa belajar bahasa Prancis, bukan berarti kalian harus menjadi orang Prancis!

Kok begitu, bukannya malah bagus, kalau budaya-budaya Prancis itu dipraktikkan, diinternalisasi dalam budaya kita, Indonesia?

Iya, tetapi tentu saja tidak semua. Prancis sebagai negara barat dan Indonesia sebagai negara timur, tentu sudah cukup menunjukkan perbedaan arah yang luar biasa dari ujung barat ke ujung timur.

Bagaimana barat dan timur bisa menyatu? Kita memberikan sesuatu dengan tangan kanan kita, sedangkan mereka memberikan dengan tangan kiri mereka.

Analogi yang sederhana bukan?

Saya sebagai dosen, tentu saja memperlihatkan banyak budaya positif dari sebuah negara Prancis, bagaimana orang-orang Prancis sangat menghargai waktu, tepat waktu, tepat janji.

Bagaimana orang-orang Prancis sangat prioritas dalam hal pekerjaan serta keluarga dan waktu luang, mereka akan sangat memanfaatkan waktu luang maupun waktu libur bersama keluarga di rumah dan sebaliknya, mereka juga akan sangat fokus ketika bekerja.

Orang-orang Prancis juga dikenal sangat menjaga kesehatan, hidup sehat, pola makan yang baik dengan banyak sayuran dan buah.

Tetapi sisi lain budaya Prancis juga tidak bisa dipaksakan untuk ditiru, apalagi diinternalisasi, apalagi dipraktikkan. Terlebih untuk kita, pemelajar Indonesia yang sebagian besar adalah muslim.

Bagaimana mungkin, seorang muslim mengonsumsi alkohol, sampanye, vin, bière, mabuk dan lain-lain. Bagaimana mungkin seorang muslim makan daging babi dalam bentuk dan olahan apa pun?

Bagaimana mungkin seorang muslim selama di Prancis tidak salat? Bagaimana mungkin seorang muslim pergi dan berkumpul, nongkrong di diskotik sampai larut malam dan berkumpul tanpa ada batasan?

Dan menurut kacamata saya, kita sebagai orang timur, terlepas dari apa pun agamanya, pasti diajarkan untuk tidak berpakaian bebas, tidak bercinta di tempat umum sekalipun sudah menikah, dan hal-hal lainnya yang sangat bersifat prinsip.

Prancis itu negara ateis, artinya negara yang tidak mengakui adanya Tuhan, adanya Allah. Bahkan Prancis menerapkan la laïcité (sekularisme) sejak 1905 dengan memisahkan negara dengan agama yang dampaknya hingga saat ini Prancis melarang penggunaan berbagai simbol keagamaan di ruang publik terutama di sekolah.

Oleh karena, bagaimanapun kita mempelajari bahasa Prancis sebagai sebuah pilihan untuk berhasil di masa depan, berhasil di tingkat internasional, bukan berarti kita harus menelan bulat-bulat semua yang kita pelajari terutama budaya.

Kita harus tahu semua budaya Prancis, tetapi bukan berarti kita harus mengikuti budaya itu. Orang-orang Prancis sebagian besar ateis, mereka tidak beragama, mereka tidak mengenal Tuhan.

Tentu saja mereka selalu merasa aneh melihat orang-orang yang beribadah terutama salat, bagi umat muslim. Tidak heran, banyak film-film Indonesia yang menceritakan kehidupan muslim di Eropa dengan menggambarkan bagaimana sulitnya seorang muslim hanya untuk sekadar berwudu dan salat di sana, termasuk di Prancis.

Dan ya, memang sesulit itu. Tidak perlu jauh-jauh kita membahas budaya cipika cipiki mereka, atau budaya minum anggur mereka, atau juga budaya gaya bercinta mereka di tempat umum.

Bahkan untuk urusan kita menjaga salat kita di Prancis, saya yakin Anda semua akan sangat merasa beruntung tinggal di Indonesia kapanpun dan di manapun bisa berwudu dan salat dengan tenang.

Jadi, apakah belajar bahasa Prancis, mahir bahasa Prancis, harus menjadi orang Prancis? Saya jawab dengan tegas dan yakin, tidak. Kita pelajari bahasanya, kita pelajari ilmunya, kita pelajari hal-hal baiknya, tapi kita filter berbagai hal yang tidak sesuai dengan norma dan agama kita. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda