Berita Foto Ruwajurai Bandar Lampung

Nurhayani Menjemput Rezeki di Terminal Rajabasa yang Makin Sepi

Nurhayani Menjemput Rezeki di Terminal Rajabasa yang Makin Sepi

Warung milik Nurhayani di Terminal Rajabasa. | Ahmad Fiqih Yudhistira

Warung milik Nurhayani di Terminal Rajabasa. | Ahmad Fiqih Yudhistira

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Terminal Rajabasa yang dulu riuh dengan ramainya penumpang dan aktivitas penumpang kini makin sepi.

Nurhayani, pedagang asal Natar, masih istikamah membuka usaha warungnya di tengah lengangnya penumpang.

Perempuan paruh baya itu sudah menjalani kehidupannya selama bertahun-tahun di terminal ini. Meskipun sepi dan perubahan arus transportasi, dia tetap tegar di lapaknya, menjual aneka makanan dan yang dibutuhkan penumpang.

“Awalnya sulit, tapi saya harus bertahan. Terminal ini adalah tempat saya mencari nafkah dan membangun kehidupan,” kata dia dengan senyum.

Meski situasinya sulit, dia tidak pernah kehilangan semangat untuk terus berusaha.

Nurhayani memulai usahanya dengan membuka warung di terminal. Meskipun pembelinya menurun, dia tetap setia dengan keramahan dan penuh semangat.

Namun, kondisi ekonominya yang sulit memaksa dia untuk terus mencari penghasilan tambahan.

Salah satu cara Nurhayani bertahan adalah dengan berdagang di luar terminal ketika ada acara khusus seperti wisuda di Universitas Lampung.

Dia menyadari, terminal tidak bakal cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya.

Minuman yang dijual di luar terminal saat acara khusus tersebut memberinya penghasilan tambahan.

Kehidupan Nurhayani di terminal tidak hanya menjadi tantangan ekonomi. Dia juga tinggal di terminal tersebut. Ia jarang pulang ke Natar.

Dia pulang ke rumah sebulan hanya 1 sampai 2 kali. Di terminal ini Nurhayani tinggal bersama suami dan anak yatim yang sudah dianggapnya sebagai cucu.

Tak hanya bertahan hidup, Nurhayani juga memiliki hati yang lembut terhadap lingkungannya. Kepala terminal memberinya kesempatan untuk memanfaatkan lahan kosong di sekitar warung dengan menanam tanaman.

Tindakan kecil ini adalah caranya untuk memberikan kembali kepada alam, menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan segar.

Namun, tahun kedua pandemi adalah masa yang paling sulit bagi Nurhayani. Kesulitan ekonomi semakin meningkat membuatnya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari.

Meskipun demikian, semangatnya untuk bertahan tetap berkobar. Dia mencari cara untuk melalui masa-masa sulit itu. [Ahmad Fiqih Yudhistira]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda