Bandar Lampung

Michelle Sasha Sidabalok Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis Unila: Indonesia Emas 2045 Dimulai dari Kita

Michelle Sasha Sidabalok Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis Unila: Indonesia Emas 2045 Dimulai dari Kita

Michelle Sasha Sidabalok

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Michelle Sasha Sidabalok, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Lampung, membuktikan tekadnya untuk menjadi agen perubahan bagi remaja.

Berangkat dari motivasi sederhana: ingin mengedukasi teman sebaya tentang pentingnya menjauhi pergaulan bebas dan menjaga masa depan. Langkah itu justru membawanya meraih juara III Duta Genre Provinsi Lampung 2025. Senin, 17/9/2025.

Awal perjalanannya dimulai di kampus, saat Sasha mengikuti ajang Duta Genre Unila. Kala itu, ia masih berada di semester dua.

Di tengah padatnya jadwal kuliah, ia harus membagi waktu untuk mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, mempelajari materi, hingga mengasah keterampilan komunikasi.

“Awalnya aku belum terlalu paham tentang dunia duta. Tapi semakin dijalani, aku merasa ditempa untuk belajar banyak hal, mulai dari materi, public speaking, sampai manajemen waktu. Rasanya berat, tapi justru itu yang membuatku berkembang,” ungkapnya.

Dengan penuh perjuangan, Sasha berhasil terpilih sebagai Duta Genre Unila. Dari sinilah langkahnya berlanjut ke panggung yang lebih besar: Duta Genre Provinsi Lampung.

Persaingan semakin ketat karena yang harus ia hadapi bukan lagi teman seuniversitas melainkan harus bertemu dengan finalis dari berbagai daerah di Lampung.

Prosesnya tidak mudah. Sasha harus menjalani mentoring intensif, begadang hingga larut malam untuk belajar.

“Aku belajar dan meresume materi dari pagi siang dan malam sampai tidur cuma 2-3 jam. Sempat merasa kacau, tapi aku jadikan itu sebagai tantangan untuk memacu diri agar tetap memberikan yang terbaik,” kenangnya.

Meski penuh tekanan, Sasha tetap merasa beruntung. Ia berkesempatan terjun langsung ke lapangan, mengunjungi ke panti asuhan, panti jompo, hingga bertemu teman-teman penyandang down syndrome.

“Itu pengalaman paling berkesan. Aku bisa langsung berinteraksi dengan masyarakat, mengedukasi, dan mendengar cerita mereka,” ujarnya dengan senyum hangat.

Kerja kerasnya terbayar ketika Shasha berhasil meraih juara III. Baginya, prestasi ini lebih dari sekadar gelar.

“Menjadi finalis saja sudah membuatku bangga. Tapi ternyata aku bisa lebih dari yang aku bayangkan. Juara III ini jadi afirmasi positif bahwa aku mampu melampaui batas diri,” ujarnya penuh rasa syukur.

Menurutnya, Duta Genre berperan sebagai agen perubahan yang mendampingi remaja melewati lima transisi kehidupan: pendidikan, perencanaan pernikahan, membangun keluarga, menyiapkan pekerjaan, dan lebih aware akan kesehatan.

Mereka juga menjadi contoh dalam pencegahan pernikahan dini, penyalahgunaan narkoba, serta membangun life skill.

Bagi Sasha, capaian ini merupakan langkah awal.

“Indonesia Emas 2045 butuh generasi sehat, cerdas, dan berkarakter. Itu bisa dimulai dari diri kita hari ini,” pungkasnya. [Delima Kurnia B]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda