Opini

Mengapa Madinah Pilihan Tepat Untuk Hijrah?

Mengapa Madinah Pilihan Tepat Untuk Hijrah?

Gufron Azis Fuadi

Sejarawan Islam, Taqiyuddin Al-Maqrizi, mencatat bahwa suku Yahudi Bani Quraizhah terbiasa mengajarkan ciri-ciri dan tempat hijrah Nabi Muhammad SAW kepada anak-anak mereka. Para pendeta Yahudi mempelajari nubuat di dalam kitab Taurat asli mengenai ciri fisik, nama, masa kemunculan, hingga lokasi spesifik tempat hijrah sang nabi, yakni wilayah berbatu hitam yang ditumbuhi pohon kurma (karakteristik geografis Yatsrib).

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Al Baqarah 146:
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Kitab (Taurat dan Injil) mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Sesungguhnya sebagian mereka pasti menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui(nya).”

Bahkan dengan pengetahuannya ini, mereka sering mengancam bangsa Arab Madinah, kalau berani macam-macam, akan menghancurkan mereka bersama nabi akhir jaman yang tidak lama lagi akan turun.

Meskipun akhirnya kaum Yahudi gigit jari karena ternyata nabi akhir zaman bukan dari keturunan nabi Ishak (Bani Israil) tetapi dari keturunan nabi Ismail (bangsa Arab). Tetapi provokasi dan adu domba kaum Yahudi terhadap bangsa Arab Yatsrib (Madinah) sukses membuat permusuhan panjang antara suku Aus dan Khazraj.

Tercatat sekitar 120 tahun dua kabilah tersebut bertikai. Kendati demikian, kedua kabilah tersebut sebenarnya merindukan perdamaian, tetapi tidak menemukan sosok yang menyatukan mereka. Akibat perseteruan dua kelompok suku di Yatsrib itu, setidaknya telah terjadi empat perang besar, yaitu Perang Sumir, Perang Ka’b, Perang Hathib, dan Perang Bu’ats.

Ratusan korban sudah berjatuhan dari kedua belah pihak. Mereka ingin berdamai dan bersatu tetapi belum ada sosok pemersatu yang kuat dan bisa diterima semua pihak.

Kerinduan atas sosok pemersatu ini mereka dapatkan pada diri Nabi Muhammad Saw, yang didalam dirinya juga mengalir darah Madinah. Mengingat kakeknya, Abdul Muthalib, lahir di Madinah dari ibu Salma binti Amr dari Bani Najjar suku Khazraj.
Jadi sampai Nabi Saw hijrah, Madinah belum atau tidak memiliki pemimpin tunggal. Ada Abdullah bin Ubay yang hampir disepakati, tetapi belum final.

Disamping itu, menurut Shalabi, alasan Madinah menjadi darul hijrah:
(1). Adanya jaminan keamanan dari penduduk Madinah yang diikrarkan dalam Baiat Aqabah II.
(2). Mayoritas penduduk Madinah sudah menerima Islam.
(3). Hadirnya Islam dan hijrah nya Nabi Saw menjadi solusi atas konflik yang berkepanjangan.
(4). Secara militer dan geografis, Madinah dikelilingi oleh dataran tinggi, bukit-bukit tandus, serta medan bebatuan hitam (harrah) yang sangat keras di sisi timur dan baratnya. Kondisi alam ini membuat Madinah bertindak sebagai benteng alami yang sangat sulit dimasuki atau diserang oleh pasukan musuh, kecuali dari arah utara.*)
(5). Madinah merupakan sebuah oasis subur yang kaya akan sumber air dan perkebunan kurma. Sehingga ketahanan pangannya lebih terjamin.

Itulah mengapa Madinah layak dipilih menjadi tujuan hijrah Nabi Muhammad Saw. Sementara Habasyah, yang Nabi Saw pernah perintahkan sahabat hijrah kesana dalam doa gelombang hanya menjadi daerah suaka politik, dengan alasan karena wilayah tersebut dikuasai raja beragama Nasrani di mana umat Islam hanya berstatus sebagai pengungsi yang dilindungi.

Nabi dan para sahabat membutuhkan wilayah yang merdeka dan independen untuk mendirikan sistem pemerintahan dan dakwah Islam yang mandiri. Sebagai pengungsi di darul aman (wilayah perlindungan) mereka sudah barang tentu tidak memiliki otoritas politik, hukum, atau militer untuk menegakkan syariat Islam secara independen.

Raja Najasi (Ashhamah bin Abjar) baru masuk Islam secara resmi melalui surat baiatnya kepada Nabi Muhammad Saw pada tahun 7 H (628 M).

Padahal hijrah membutuhkan kekuatan sosial dan politik (seperti suku Aus dan Khazraj di Madinah) yang siap memberikan pembelaan jika kaum kafir menyerang. Habasyah tidak memberikan ruang untuk membangun kekuatan tersebut.
Disamping itu secara geografis, Habasyah yang terletak Afrika Timur dan seberang laut Merah serta bukan merupakan perlintasan dua peradaban besar saat itu (Romawi dan Persia).

Pilihan Madinah sebagai tujuan hijrah dan pusat dakwah terbukti benar dan tepat. Karena hanya dalam sepuluh tahun, Rasulullah Saw dengan 32 ribu pasukannya berhasil memorak-porandakan 200 ribu pasukan Romawi dalam perang Tabuk (750 km utara Madinah) yang menjadi pintu pembuka dalam membebaskan  Arab bagian Utara, Syam dan Mesir dari cengkeraman Romawi.

Dan empat tahun kemudian Saad bin Abi Waqas memimpin 30 ribu pasukan melawan 120 ribu pasukan memulai pembebasan Irak dari cengkeraman dinasti Sasanid Persia di Qadisiyah serta menjadi pintu pembuka untuk dakwak ke Persia, Pakistan, Afghanistan dan wilayah Asia Tengah.

Sejak Nabi Saw hijrah, kota Yatsrib berubah menjadi kota Madinah dan ditambahkan kata Al Munawwarah. Madinah yang bercahaya.
Nama ini disematkan karena kota ini menjadi pusat penerangan dan titik awal menyebarnya cahaya dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]
—
*) Dalam perang Khandak, pasukan ahzab (sekutu) berkumpul dari arah utara, kendati Mekah ada diarah selatan. Khandak (parit) pun di gali di utara Madinah dengan panjang 6 km, lebar 5-6 m dan kedalaman 4,5 m dengan pertimbangan orang dan kuda sulit melewatinya.

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda