Nusantara

Dua Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila Harum di Panggung Duta Bahasa Lampung

Dua Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila Harum di Panggung Duta Bahasa Lampung

Amanda Saras Ayu Anggita dan Hudzaifah Ubaidillah Irfani

WARTALAMPUNG.ID, BANDAR LAMPUNG – Amanda Saras Ayu Anggita (angkatan 2024) dan Hudzaifah Ubaidillah Irfani (angkatan 2025) sama-sama menyandang gelar Duta Bahasa Provinsi Lampung dan turut ambil bagian dalam kegiatan Krida Duta Bahasa 2026 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Lampung bersama Ikatan Duta Bahasa Provinsi Lampung, belum lama ini.

Krida Duta Bahasa 2026 bukan sekadar lokakarya biasa. Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional Badan Bahasa untuk membangun karakter generasi muda melalui penguatan literasi dan kebanggaan berbahasa Indonesia berbasis kompetensi.

Tahun ini, program tersebut diwujudkan dalam bentuk Lokakarya Penulisan Esai bagi Generasi Muda Terbina Literasi Provinsi Lampung, dengan tujuan membangun kebiasaan berpikir kritis, meningkatkan literasi, dan menumbuhkan kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Dalam acara ini, Amanda berperan sebagai pendamping peserta—mendampingi generasi muda selama proses penulisan esai, mulai dari mengembangkan ide, menyusun argumen, hingga menghasilkan tulisan yang orisinal dan berkualitas.

Sementara Hudzaifah berkontribusi dari sisi dokumentasi, menjalankan tugas memotret dan merekam jalannya acara.

Amanda menyebut latar belakang Pendidikan Bahasa Prancis justru menjadi modal besar dalam perjalanannya sebagai Duta Bahasa.

“Semakin banyak saya belajar bahasa asing, semakin saya sadar pentingnya bahasa Indonesia sebagai identitas bangsa. Nilai yang saya pelajari di Pendidikan Bahasa Prancis sangat sejalan dengan semangat Duta Bahasa,” kata Amanda.

Senada dengan itu, Hudzaifah menegaskan bahwa mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis memiliki nilai tambah yang nyata.

Di Lampung, Unila adalah satu-satunya perguruan tinggi yang memiliki program studi tersebut—sebuah keunikan yang menurutnya sayang untuk tidak dimanfaatkan.

Ia bahkan membuktikannya langsung saat proses pemilihan Duta Bahasa, ketika ia melantunkan kutipan berbahasa Prancis di babak final dengan pelafalan yang fasih.

“Jangan pernah merasa bahwa jurusan kita tidak relevan untuk ruang-ruang seperti ini. Kita punya sesuatu yang berbeda — dan perbedaan itu justru kekuatan kita,” ujar Hudzaifah.

Keduanya juga menekankan bahwa menjadi Duta Bahasa bukan hanya soal penampilan di atas panggung. Di balik itu ada proses panjang—mulai dari belajar berbicara di depan publik, mengelola waktu antara kuliah dan tugas sebagai duta, hingga membangun empati dalam komunikasi.

Melalui Krida Duta Bahasa 2026, keduanya berharap semakin banyak generasi muda yang bangga menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, sekaligus membuktikan bahwa Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila terus melahirkan mahasiswa yang berprestasi dan berdampak luas bagi masyarakat. [Najwa Kamila Faradisa]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda