Opini

Mengapa Anak Perlu Belajar Bahasa Asing Sejak Dini?

Mengapa Anak Perlu Belajar Bahasa Asing Sejak Dini?

Rafista Deviyanti

Rafista Deviyanti, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Lampung

Pernahkah Anda membuka sosial media dan melihat video seorang anak kecil berbicara dalam tiga bahasa berbeda dengan lancar? Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana anak sekecil itu dapat menguasai tiga bahasa.

Di balik kemampuan menakjubkan itu, tersimpan rahasia perkembangan otak anak yang luar biasa. Saat anak Anda masih belajar mengeja nama sendiri, sebenarnya ia juga siap menaklukkan bahasa asing.

Akan tetapi, bagaimana caranya memicu minat mereka tanpa memadamkan semangat belajarnya?

Sebenarnya, di Indonesia, bilingualisme bukanlah hal yang baru. Mayoritas anak-anak di Indonesia sudah terbiasa menguasai minimal dua bahasa: bahasa Indonesia dan bahasa daerah mereka, seperti Lampung, Jawa, Sunda, Batak, Bugis dan ratusan bahasa daerah lainnya.

Keberagaman bahasa ini merupakan aset budaya yang tanpa disadari telah memberikan fondasi kognitif yang kuat. Anak-anak yang terbiasa beralih antara bahasa daerah dan bahasa Indonesia baik di lingkungan rumah maupun di sekolah, sebenarnya telah mengembangkan fleksibilitas kognitif yang baik.

Ini menjadi keuntungan tersendiri ketika mereka mulai mempelajari bahasa asing lain seperti bahasa Inggris, Mandarin, Arab maupun bahasa asing lainnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Bialystok menemukan bahwa anak-anak bilingual memiliki keterampilan berpikir tinggi yang lebih baik. Hal ini mencakup kemampuan mengendalikan perhatian, beralih antar tugas, dan menghambat informasi yang tidak relevan.

Bahkan, penelitian jangka panjang Bialystok menunjukkan bahwa bilingualisme dapat menunda gejala demensia hingga 4-5 tahun pada usia lanjut dibandingkan dengan monolingual.

Lebih lanjut, penelitian yang dilakukan oleh Laura-Ann Petitto mengungkapkan bahwa anak-anak bilingual menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam beralih antartugas berbeda. Mereka juga lebih pandai memahami informasi yang sekilas tampak membingungkan.

Yang menarik, anak-anak ini juga lebih jeli dalam mengenali pola dan aturan dalam bahasa baru. Kemampuan ini tentu sangat membantu saat mereka belajar bahasa ketiga atau bahkan keempat di kemudian hari.

Kondisi bilingual alami di Indonesia ini seharusnya disadari sebagai kekuatan, bukan hambatan. Orang tua dan pendidik perlu menanamkan kebanggaan pada anak-anak akan kemampuan berbahasa daerah mereka, sekaligus menjadikannya sebagai jembatan untuk mempelajari bahasa asing.

Dengan memanfaatkan keuntungan bilingual yang sudah ada, anak-anak Indonesia sebenarnya memiliki potensi lebih besar untuk menjadi multilingual yang fasih dalam beberapa bahasa.

Bagaimana cara memotivasi mereka? Jangan paksa dengan cara kaku.

Gunakan permainan, lagu, atau kartun dalam bahasa target. Anak-anak belajar paling baik saat mereka bersenang-senang.

Misalnya, nonton film kesukaan mereka dalam bahasa Inggris atau bernyanyi lagu sederhana dalam bahasa Mandarin. Manfaatkan juga teknologi dengan bijak.

Ada banyak aplikasi menarik yang dirancang khusus untuk pembelajaran bahasa anak. Batasi waktu penggunaan, tetapi jadikan itu kegiatan rutin yang menyenangkan.

Orang tua juga perlu terlibat langsung, dengan cara belajar bersama anak dan tunjukkan ketertarikan Anda pada bahasa tersebut. Anak-anak senang meniru orang tua mereka.

Jangan lupa mengenalkan budaya di balik bahasa tersebut. Ceritakan tentang makanan, pakaian, atau kebiasaan unik dari negara yang menggunakan bahasa itu. Hal ini membuat pembelajaran lebih bermakna.

Tentu ada tantangan dalam proses ini. Anak mungkin akan bosan atau frustasi. Saat itu terjadi, berilah jeda, lalu coba pendekatan berbeda.

Yang terpenting, jangan menjadikan belajar bahasa sebagai beban berat. Ingat, tujuan utamanya bukan menjadikan anak fasih seperti penutur asli dalam waktu singkat.

Tujuannya adalah menumbuhkan cinta pada bahasa dan budaya baru, yang akan memotivasi mereka untuk terus belajar sepanjang hidup.

Dengan kesabaran dan pendekatan yang tepat, belajar bahasa asing bisa menjadi petualangan menyenangkan bagi anak-anak kita, bukan sekadar tugas sekolah yang membosankan. []

Catatan: Rafista Deviyanti fokus penelitian pada pembelajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak. Kini sedang menempuh pendidikan doktor di University of Szeged, Hongaria, dengan topik penelitian TEYL (Teaching English to Young Learners).

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda