Rektor UTI Prof Dr HM Nasrullah Yusuf SE MBA (tiga kanan) dalam sebuah ekspo di kampus. | Dokumentasi
Wartalampung.id, Bandar Lampung — Komitmen Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) sebagai kampus berbasis riset dan teknologi yang berdampak kembali mendapat pengakuan di tingkat nasional.
Sebanyak 21 produk inovasi hasil riset dosen dan mahasiswa UTI lolos kurasi Pameran Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 yang akan berlangsung pada 10–13 November 2026 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya.
Pencapaian ini sejalan dengan arah kebijakan Kemdiktisaintek yang mendorong perguruan tinggi menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi melalui riset yang aplikatif. Bagi UTI, KSTI 2026 bukan sekadar ajang pameran, melainkan etalase untuk menunjukkan bahwa riset kampus mampu menjawab tantangan pembangunan, dari desa hingga industri.
KSTI 2026: Menghubungkan Riset Kampus dengan Industri Strategis
KSTI pertama kali diselenggarakan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Agustus 2025 sebagai inisiatif Presiden Prabowo Subianto. Pada 2026, rangkaian KSTI diawali Sarasehan Kebangsaan di JICC Jakarta pada 26–28 Juni 2026 yang mengusung tema “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia”.
Sarasehan tersebut membahas bidang-bidang prioritas pembangunan nasional, antara lain ekonomi dan keuangan, pertanian, energi, hilirisasi dan industri, kelautan dan perikanan, serta ketahanan pangan.
Puncaknya, pameran dan rangkaian kegiatan utama KSTI 2026 digelar di kampus ITS Surabaya. Kemdiktisaintek menyebut KSTI 2026 sebagai forum strategis yang mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, industri, investor, dan pemangku kepentingan lain untuk memperkuat sinergi pengembangan dan pemanfaatan hasil riset, serta membuka peluang kerja sama, investasi, dan komersialisasi.
Kurasi produk dilakukan dengan kriteria yang menekankan kesiapan teknologi. Produk yang diusulkan diharapkan memiliki Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) tinggi, telah atau sedang dikerjasamakan dengan mitra industri, serta siap memperoleh investasi atau dikomersialisasikan.
Karena itu, lolosnya 21 produk menjadi indikator kuat bahwa riset di UTI telah bergerak dari tahap gagasan menuju tahap penerapan.
Peta Inovasi UTI: Empat Klaster Berdampak
Jika dipetakan, 21 produk inovasi UTI tersebar dalam empat klaster utama yang selaras dengan bidang prioritas riset nasional.
Pertama, klaster pangan, peternakan, dan lingkungan.
Di klaster ini, Dr. Dedi Darwis menghadirkan Digital Smart Collar dan RFID Monitoring Pertumbuhan Sapi, Agrobot Feed, serta Alat Kompster Cerdas V2.
Ketiganya menjawab kebutuhan peternakan presisi dan pengelolaan limbah organik. Rohmat Indra Borman melengkapi klaster ini lewat Smart Food Waste, alat pendeteksi sisa makanan berbasis AI yang mendukung upaya pengurangan limbah pangan, sementara Lilik Ariyanto membawa Tekno Plasting.
Kedua, klaster energi terbarukan dan mobilitas hijau.
Elka Pranita tampil paling produktif dengan enam karya: Mobil Listrik Tenaga Surya, Skuter Listrik, PLTB Archimedes 3 Sudu, Pohon Energi Hibrida Surya–Angin dengan Lampu Peringatan Kuning, Robot Mobil Pemotong Rumput Bertenaga Surya dengan Kontrol Smartphone, serta Sepeda Statis. Deretan karya ini menunjukkan keseriusan UTI dalam mendukung transisi energi dan swasembada energi nasional.
Ketiga, klaster kecerdasan artifisial dan transformasi digital masyarakat.
Ridwan Mahenra bersama tim menghadirkan CekInfo, ruang cek informasi berbasis AI untuk melawan disinformasi, serta Desa Kita AI yang mendorong digitalisasi layanan desa. Erliyan Redy Susanto dan Dimas Fitri Prasetyo membawa SIG-PELAS, sistem informasi geografis untuk pelaporan kondisi sungai di Kota Bandar Lampung, sedangkan Ryan Randy Suryono menghadirkan V-Commerce 2.0.
Faruk Ulum turut mewarnai klaster ini dengan metode produksi video musikalisasi puisi beraksara Pegon berbasis AI generatif dengan kendali manusia, perpaduan teknologi mutakhir dan pelestarian budaya.
Keempat, klaster pariwisata cerdas dan edukasi imersif
Yuri Rahmanto memperkenalkan AI Instruktur Berbasis Roblox dan Edufarm Berbasis Roblox, serta berkolaborasi dengan Qadhli Jafar Adrian dan tim dalam Metatourism Way Kambas, eksplorasi wisata virtual taman nasional kebanggaan Lampung.
Di sektor wisata, Nirwana Hendrastuty, Damayanti, dan tim membawa BeachFinder yang memanfaatkan data geospasial untuk rekomendasi wisata pantai berkelanjutan, sementara Auliya Rahman Isnain dan tim menghadirkan MutunTrip.
Riset yang Berangkat dari Masalah Nyata
Benang merah dari seluruh produk tersebut adalah orientasi pada dampak. Hampir setiap karya berangkat dari persoalan nyata yang dekat dengan masyarakat, mulai dari produktivitas peternak sapi, sampah organik dan sisa makanan, pencemaran sungai, maraknya hoaks, hingga pengembangan potensi wisata daerah.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat “Diktisaintek Berdampak” yang mendorong kampus tidak berhenti pada publikasi, tetapi juga menghadirkan produk, paten, dan solusi yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dan industri. Banyak inovasi UTI dikembangkan melalui skema hibah penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan kolaborasi dengan mitra, sehingga memiliki fondasi riset yang kuat sekaligus jalur hilirisasi yang jelas.
Konsistensi Sejak KSTI 2025
KSTI 2026 merupakan kali kedua UTI berpartisipasi dalam konvensi ini. Pada KSTI 2025 di Sasana Budaya Ganesha ITB, 7–9 Agustus 2025, UTI memamerkan Digital Smart Composter, inovasi pengolah limbah organik yang dilengkapi sensor dan penyimpanan data berbasis cloud.
Inovasi yang dikembangkan oleh mahasiswa Deka Ramadani dan Fadhlurohman Mergo Penateh bersama dosen pembimbing Dr. Dedi Darwis itu mendapat perhatian pengunjung dan apresiasi dari Rektor IPB University, Prof. Dr. Arif Satria.
Dari satu produk andalan pada 2025 menjadi 21 produk pada 2026, lonjakan ini memperlihatkan bahwa ekosistem riset UTI tidak hanya konsisten, tetapi juga terus berkembang pesat. Semakin banyak dosen dan mahasiswa yang terlibat, semakin beragam pula bidang yang digarap.
Menyongsong Kolaborasi dan Hilirisasi
Melalui KSTI 2026, UTI berkesempatan memperkenalkan produk-produk inovasinya kepada masyarakat, pemerintah, dan mitra industri. Agenda seperti business matching, klinik bisnis, CEO Forum, dan penandatanganan perjanjian kerja sama diharapkan menjadi jembatan bagi produk-produk UTI untuk menemukan mitra strategis dan investor, sehingga hilirisasi dapat berjalan lebih cepat.
Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Prof. Dr. HM. Nasrullah Yusuf, SE., MBA., memberikan apresiasi tinggi kepada seluruh inventor dan inovator yang karyanya lolos ke KSTI 2026.
“Sejak awal kami menempatkan riset dan teknologi sebagai jantung pengembangan Universitas Teknokrat Indonesia. Lolosnya 21 produk ke KSTI 2026 menegaskan bahwa komitmen itu berjalan di jalur yang benar. Riset di Teknokrat tidak boleh berhenti di rak perpustakaan; ia harus berdampak bagi peternak, petani, nelayan, pelaku wisata, dan masyarakat luas,” tutur Prof. Nasrullah.
“Terima kasih kepada para dosen dan mahasiswa yang telah bekerja keras. Kampus akan terus mendukung, mulai dari pendanaan riset, perlindungan kekayaan intelektual, hingga pendampingan hilirisasi. Kami ingin karya Teknokrat dikenal dan dimanfaatkan di seluruh Indonesia,” pungkasnya.
Dengan capaian ini, Universitas Teknokrat Indonesia semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terdepan di Sumatra yang konsisten menghadirkan riset dan teknologi berdampak bagi bangsa. []

Tinggalkan Komentar Anda