Kacamata Adian

Komputer Igo

Komputer Igo

Saya dan Igo Febrianto

Igo Febrianto dan saya sama-sama alumnus SMPN 2 Tanjungkarang dan SMAN 2 Tanjungkarang. Kini nama Tanjungkarang berubah menjadi Bandar Lampung.

Igo sejak SMP memang aktif di organisasi. Saya sekadar tahu saja semasa SMP. Bertegur sapa pun seingat saya tak pernah. Saya aktif di olahraga voli, sedangkan dia banyak di musik. Kemana-mana Igo sering membawa gitar.

Kami mulai akrab di SMAN 2 Bandar Lampung. Di OSIS kami sama-sama menjadi wakil ketua bidang masing-masing saat kami kelas I. Saya ditempatkan di bidang keagamaan, Igo di musik.

Intensitas lebih intim tentu saat kami kelas II sampai III SMA. Saat saya didapuk menjadi ketua umum OSIS, Igo menjadi ketua bidang seni. Ia termasuk ketua bidang yang benar-benar saya andalkan.

Momentum legendarisnya tentu saja tahun 1996. Waktu itu ikatan alumni Smanda yang diketuai Sjachroedin ZP mengadakan temu alumni akbar. Sjachroedin ZP ini kelak menjadi gubernur Lampung dua periode.

Panitia utama tentu saja alumni. Meskipun demikian, banyak kerja teknis di lapangan diserahkan kepada kami di OSIS. Saya meminta Igo menjadi ketua pelaksana di lapangan. Ia menjalankan tugas dengan baik.

Bahkan, saking totalitasnya, semua kembang mamanya diangkut pakai angkot untuk ditempatkan di depan panggung utama. Saya tak kepikiran ke sana, Igo yang punya ide itu. Walhasil, panggung menjadi lebih menarik dan enak dipandang.

Selesai masa SMA, saya dan Igo diterima di jurusan yang sama di Unila: Manajemen. Pilihan kegiatan ekstrakurikulernya pun sama: Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi. Bergabung bareng dua alumnus Smanda lainnya, Suci Diah Warastri dan Esti Malasofia. Satu lagi kawan ikut memperkuat lima sekawan ini. Namanya Juliyan Virdaus.

Tapi saya sempat setahun vakum karena mencutikan kuliah jelang pemilu 1999. Barulah usai pemilu saya bergabung lagi dan masuk struktur yang dikomandoi Igo sebagai pemimpin umum. Saya meminta jabatan redaktur pelaksana dan bertukar posisi dengan Juliyan Virdaus di pelaksana usaha.

Waktu itu saya bilang, daripada saya ditaruh di pelaksana usaha, mending jadi redaktur saja karena lebih kena sisi jurnalistik ketimbang usahanya.

Di masa inilah, 2000-2001, cerita dalam judul esai ini bermula.

Tahun 2000 itulah masa di mana saya sangat produktif menulis opini ke Lampung Post. Hampir tiap minggu ada saja tulisan yang dikirim.

Tulisan opini pertama dimuat pada akhir tahun 1999. Saya minta tolong dengan Esti untuk mengetik. Saya belum punya komputer dan tak pula pandai mengetik.

Barulah ketika ada Igo, komputer rumah Igo menjadi andalan. Komputer Igo termasuk salah satu komponen pertama yang saya pegang untuk bisa menulis sendiri. Tak lagi minta diketikkan orang.

Saking semangat menulis, komputer kami bawa ke sekretariat Pilar. Igo kadang geleng-geleng betapa benda privatnya akhirnya dipakai beramai-ramai. Tentu porsi terbesar adalah saya.

Kadang jika Sabtu dan Minggu saya memaksa untuk ke rumahnya di Gang Onta, Kedaton. Beberapa kali bahkan minap. Incaran saya ya komputer itu. Sebab, dari benda itulah saya bisa menulis dan menghasilkan uang.

Opini saya waktu itu lumayan sering dimuat. Honor satu opini kisaran Rp75 ribu sampai dengan Rp100 ribu. Itu belum ditambah dengan resensi buku dan cerita anak yang kadang juga dimuat.

Bagi saya, komputer Igo di rumahnya di Gang Onta itu jasanya besar banget. Dari yang tak bisa mengetik, sampai bisa mengetik sendiri. Dari yang tak paham menyimpan file sampai piawai menyimpan file tulisan.

Dari komputer rumah Igo itulah saya juga berkenalan dengan internet. Igo memasang internet di rumahnya: Telkomnet. Lumayan masa itu bisa baca beberapa referensi yang selama ini hanya dari versi cetak.

Sebetulnya tak hanya komputer yang Igo ikhlaskan dipakai beramai-ramai di sekretariat kala dia menjadi pemimpin umum kami. Motor, mobil, juga tape-nya kami pakai untuk keperluan keseharian di sekretariat. Motor Igo, Suzuki, sering benar saya pinjam untuk mengirim tulisan ke Lampung Post maupun liputan ke luar Unila.

Mobil Igo, Suzuki Jimny Katana, andalan kalau kami ada kegiatan yang butuh beramai-ramai. Mudah-mudahan pahala semua ya, Go. Aamiin.

Kurang lebih setahun penuh itulah semua perangkat Igo saya gunakan dengan leluasa. Kompensasinya paling traktir kawan-kawan kalau ada tulisan masuk dan honornya sudah bisa diambil. Sekadar mi ayam di kantin kampus jadilah.

Komputer Igo itu memang benar-benar manfaat. Tugas liputan dan membuat majalah juga semua nyaris dikerjakan di sana. Semua file tersimpan di komputer itu. Dari bahan membuat buletin, majalah, sampai desain.

Ketimbang menulis, Igo lumayan jago mendesain halaman buletin dan majalah. Dulu masih pakai PageMaker.

Adanya komputer Igo jika dibandingkan dengan menyewa di tempat persewaan komputer, lumayan ekonomis.

Saya lupa-lupa ingat berapa harga satu jam menyewa satu unit komputer di tempat persewaan.  Untunglah ada komputer gratisan yang bisa dimanfaatkan. Sekali lagi, terima kasih ya Go.

Bahkan, kala bulan puasa, komputer Igo lebih banyak dipakai saya ketimbang si empunya. Ramadan adalah momentum saya menulis banyak hal.

Saya mempunyai tema-tema yang dikejar untuk ditulis selama Ramadan. Pendek kata, Ramadan membuat ide saya tumbuh dengan baik dan mampu mengeksekusinya juga dengan sama baiknya.

Oh iya, Igo kini sudah jadi dosen di almamaternya. Ia diterima menjadi dosen di fakultas ekonomi dan bisnis Unila pas saat usianya 35 tahun. Itu agak dekat dengan kelahiran putra saya yang kedua, Mirai Al Biruni, pada 1 Maret 2014.

Gelar akademik Igo juga sudah doktor dari kampus di negeri jiran Malaysia. Saya tak bertanya lanjut, ke mana komputer legendaris yang dahulu pernah saya pinjam berpuluh-puluh kali untuk menulis opini ke Lampung Post.

Entah ke mana juga sepeda motor dan mobil milik orangtunya yang satu merek: Suzuki.

Semoga Igo sekeluarga sehat dan sukses.

Kebonjeruk, 19 Maret 2025/19 Ramadan 1446 Hijriah. [ADIAN SAPUTRA]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda