Opini

Kandungan Alquran

Kandungan Alquran

Gufron Azis Fuadi

Abdullah bin Umar berkata:

“Kami mengalami masa di mana kami belajar iman sebelum belajar Alquran. Saat diturunkan surah Alquran kepada Nabi saw, kami mempelajari hukum halal dan haram yang terkandung di dalamnya. Juga perintah dan larangannya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi. Seperti detailnya kalian sekarang mempelajari cara membaca Alquran. Namun hari ini aku menyaksikan orang belajar Alquran sebelum belajar iman. Ia lancar membaca surah al-Fatihah hingga surah an-Nas. Namun tidak mengerti perintah dan larangan yang terkandung di dalamnya. Serta aturan-aturan yang harus dipatuhi.” (HR Al-Baihaqiy dan disahihkan oleh al-Hakim juga adz-Dhahabiy)

Ungkapan Abdullah bin Umar ra di atas disampaikan kepada generasi berikutnya, generasi tabi’in, apa kiranya yang akan beliau ungkapkan bila bertemu dengan generasi muslim masa kini?

Yang jangankan memahami Alquran dengan pemahaman yang komprehensif dan mendalam, membacanya saja terbata bata dan cepat lelah.

Ya, cepat lelah, karena kita tidak memahami dan tidak bisa menikmati apa yang kita baca.

Sesuatu yang kita tidak bisa merasa menikmatinya, pasti akan membuat kita enggan berlama-lama. Seperti menunggu sesuatu atau seseorang.

Sebaliknya bila kita bisa/mampu mendapatkan kenikmatan maka kita tidak ingin segera menyudahinya. Kita ingin berlama-lama menikmatinya.

Seperti pecinta musik (dangdut) meski hanya dalam pertunjukan organ tunggal, sambil merem melek, para penikmatnya akan berteriak, goyang terus sampai pagi. Padahal pertunjukan dan goyangan mereka itu sudah mulai sejak jam sembilan malam!

Kita tidak bisa menikmati keagungan dan keindahan Alquran karena kita tidak memiliki kuncinya. Dan kunci pertama adalah beriman sebelum yang lainnya.

Iman, meyakini dengan sepenuh hati, kepada Allah Yang Maha Suci yang tidak punya kebutuhan apa apa dari kita kecuali bahwa Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada kita.

Mengimani bahwa malaikat yang membawa wahyu (kitab Allah) adalah makhluk Allah yang tidak memiliki keinginan menyimpang sedikit pun dari perintah-Nya.

Juga beriman bahwa wahyu Allah dalam kitab suci Alquran adalah benar dari Allah sebagai manual produk bagi manusia dan alam semesta agar selamat nyaman dunia akhirat.

Mengimani bahwa Rasulullah adalah manusia pilihan yang tidak mungkin berbohong, dusta dan menyembunyikan kebenaran dari-Nya. Karena semua nabi memiliki sifat sidik, amanah, fatanah, dan tablig.

Juga beriman pada hari kiamat/hari akhir termasuk kehidupan akhirat sehingga kita merasa tertarik dan senang mempelajari dan memgetahui apa itu hari akhir.

Sebagaimana kita sering ingin mengetahui destinasi wisata yang ingin kita kunjungi, baik makanan khasnya, hotel penginapannya, telaga, pantai atau gunung yang perlu dikunjungi serta keramahtamahan penduduknya. Dan tidak lupa tentang biaya atau harga dan syarat untuk masuk ke sana. Begitupun dengan iman kepada qada dan qadar.

Dengan landasan iman ini, maka saat kita mempelajari Alquran akan menemukan, seperti apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Umar di atas, bahwa Alquran berisi setidaknya 5 hal:

1). Pengenalan tentang Allah.

2). Pengenalan tentang manusia.

3). Pengenalan tentang tata cara hidup.

4). Pengenalan tentang sejarah hidup manusia.

5). Pengenalan tentang akhirat yang bila hanya dengan nalar dan pikiran kita tidak mungkin bisa memikirkannya.

Lima poin mendasar ini, bila kita tadabbur kembali dengan saksama, dapat kita temukan pada surat Al Fatihah.

Kita tahu bahwa Al Fatihah adalah surat pembuka dan fungsi pembukaan dalam sebuah tulisan, seperti paragraf pembuka, kata pengantar, atau pembukaan presentasi, adalah untuk memperkenalkan topik-topik yang akan dibahas, menarik perhatian pembaca atau audiens, memberikan konteks, dan membangun dasar untuk isi selanjutnya.

Secara naluri, semua manusia ingin bergantung dengan sesuatu yang lebih kuat dari dirinya (tuhan/dewa). Sehingga mereka mencari dan menetapkan sesuatu yang lebih perkasa dari dirinya menjadi tuhan/dewa yang mereka sembah.

Tuhan itu pada akhirnya bukan hanya pohon besar, batu, patung, bulan dan matahari tetapi juga bisa akal pikiran dan hawa nafsu nya sendiri. Ilahahu hawahu…

Saya teringat dengan pelajaran PMP saat SMA kelas 1, guru saya menjelaskan tentang sang causa prima.

Causa prima adalah istilah Latin yang berarti “penyebab pertama” atau “sebab utama”. Dalam konteks filsafat dan teologi, causa prima merujuk pada Tuhan sebagai sumber segala sesuatu dan penyebab pertama dari semua yang ada, tanpa ada penyebab lain sebelumnya.

Jadi, causa prima adalah konsep yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini memiliki penyebab.

Pikiran manusia yang paling tinggi sekalipun, hanya mampu berkesimpulan bahwa alam semesta ini ada karena Ada yang menyebabkannya. Siapa Dia?

Ya Sang Causa Prima atau Sang Hyang Tunggal!

Maka, Maha Benarlah Allah ketika menceritakan kisah Nabi Ibrahim:

“فَلَمَّا رَأَى ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ”

“Maka ketika dilihatnya bulan terbit, dia (Ibrahim) berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”

(Al An’am: 77).

Manusia hanya akan tahu Allah, bila Allah sendiri yang memperkenalkan Nya. Di mana?

Di dalam firman-Nya, Alquran yang suci.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

[ طه: 14]

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.

(Thaha: 14)

Tanpa ilmu atau pemberitahuan dari-Nya, manusia akan tersesat dan menuhankan sesuatu selain-Nya.

Karena akal pikiran manusia sangat terbatas sedangkan Allah tidak terbatas! Wallahualam bissawab. [Gufron Azis Fuadi]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda