Nusantara

Dari Lyon ke Lampung, Cerita Empat Mahasiswa Prancis Menjelajahi Tanah Sai Bumi Ruwa Jurai

Dari Lyon ke Lampung, Cerita Empat Mahasiswa Prancis Menjelajahi Tanah Sai Bumi Ruwa Jurai

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Selama dua bulan terakhir, empat mahasiswa asal Prancis menjalani program magang di Lampung. Mereka tiba pada pertengahan April dan masih akan berada di Indonesia selama dua bulan ke depan.

Keempat mahasiswa Prancis tersebut berasal dari 2 kampus berbeda, Joris Onillon dan Mathilde Bure berasal dari kampus ENTPE (École Nationale des Travaux Publics de l’État). Kampus ini  fokus pada perencanaan kota dan teknik sipil, sedangkan Anaïs Merzouk dan Myriam Chibani berasal dari Université Lumière Lyon 2, kampus dengan latar belakang ilmu sosial dan humaniora.

Bagi Joris, Mathilde, Anaïs, dan Myriam, iklim Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Suhu panas dan kelembaban tinggi sempat menyesakan mereka saat beraktivitas. Bahkan Joris mengaku hanya mampu berlari jarak pendek, berbeda jauh dengan rutinitas olahraganya di Prancis.

Selain itu meski masakan Indonesia sangat enak, keempatnya sempat mengalami masalah pencernaan. Namun secara keseluruhan mereka tetap bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Di Lampung, mereka tersebar dalam beberapa dinas pemerintahan. Joris menulis laporan mengenai proyek di Kota Baru, yaitu rencana pembangunan kota pemerintahan yang bertujuan memusatkan institusi-institusi penting.

“Ini sangat menarik untuk melihat proyek kota yang baru, karena di Eropa tidak ada proyek kota yang baru dan semua adalah bangunan lama. Di Indonesia semuanya berkembang, sangat menarik untuk melihat proyek kota yang baru dari awal dan bukan saat proyek sudah selesai,” ujar Joris saat wawancara (19/6).

Mathilde sedang mengerjakan penelitian mengenai keterkaitan antara kesejahteraan perempuan dan anak-anak dengan kualitas infrastruktur,  khususnya akses terhadap air bersih dan sanitasi. Ia sedang mengumpulkan data dan berencana menyusun hasil penelitian menjadi artikel ilmiah.

Baca juga: Mahasiswa Asal Prancis Kagumi Pertunjukan Fraparts 2025 di Kampus A FKIP Unila

Sementara itu, Anaïs dan Mariam sedang magang di Dinas Perhubungan. Mereka terlibat dalam proyek analisis data terkait dampak kemacetan lalu lintas. Bagi mereka, tantangan di Indonesia lebih besar karena harus menciptakan sistem transportasi dari nol.

Berbeda dengan Prancis yang lebih fokus pada pemeliharaan sistem yang sudah ada. Namun mengenai disiplin mahasiswa Indonesia, keempatnya sepakat bahwa mahasiswa di Indonesia sering terlambat.

“Di Prancis, kita sangat fokus dengan waktu, guru bisa menghukum kamu kalau kamu terlambat. Sementara di sini, bahkan guru pun juga terlambat. Orang Indonesia kurang ketat dengan peraturan waktu,” ujar Mathilde dan Joris.

Berbeda dengan Joris dan Mathilde, Anaïs dan Myriam yang mengenakan hijab memiliki kesan tersendiri tentang kebebasan beribadah di Indonesia. Di  Prancis, penggunaan hijab di sekolah, tempat kerja atau ruang publik sering dibatasi dan membuat mereka merasa terasing.

“Di Prancis, kamu harus menutupi diri kamu ketika kamu salat. Kamu harus salat di ruangan kecil dan ketika kamu menggunakan hijab, orang-orang memerhatikan kamu. Tapi di Indonesia, ketika kamu menggunakan hijab, itu normal, tidak ada yang memerhatikan kamu,” jelas Myriam.

Setelah dua bulan berada di Indonesia Joris, Mathilde, Anaïs, dan Myriam memiliki sejumlah memori bakal tak terlupakan.  Bagi Joris, momen paling berkesan adalah saat mengunjungi kota Padang dan Gunung Teratai. Dia mengaku sangat terkesan dengan keindahan matahari tenggelam di Gunung Teratai dan kekayaan budaya di Padang.

Sementara Mathilde dan Myriam sangat menikmati momen saat mengikuti kelas musik di Kampus A, FKIP, Universitas Lampung.  Di sana, mereka belajar memainkan alat musik gamolan (cetik) dan mencoba mengaransemen lagu tradisional.

Soal masa depan, Joris memiliki kewajiban untuk bekerja selama 8 tahun di pemerintahan Prancis sebagai imbal balik atas biaya pendidikan. Dia berharap bisa ditempatkan di daerah pegunungan karena sangat menyukai suasana alam.

Sementara Mathilde akan melanjutkan program double degree di bidang arsitektur dan ingin tetap berkarier di Prancis. Dan Myriam masih mempertimbangkan beberapa opsi yang sudah disusun setelah lulus. [Pricylla Kalifa Putri/Louis Bernando Wibowo/Dandy H.R]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda