Gubernur Rahmat Mirzani Djausal dan Bupati Pesawaran Nanda Indira. | Dokumentasi Pemprov Lampung
Hari ini Kabupaten Pesawaran mempunyai nakhoda baru. Nanda Indira Bastian, demikian nama perempuan anggun yang akan menjadi nakhoda kabupaten berjuluk Andan Jejama ini.
Nanda dan wakil bupati Antonius Muhammad Ali tadi pagi sudah dilantik oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.
Proses pilkada di Pesawaran ini memang lumayan panjang ketimbang daerah lain di Lampung. Pilkada di kabupaten ini sampai diulang untuk kemudian mendatangkan pemenang yang akhirnya sahih dan sah. Ibarat main bola zaman dulu, pertandingan mesti pakai sudden death.
Soal berita pelantikan, insya Allah sudah banyak di laman-laman sejak tadi siang. Saya tak hadir dalam pelantikan itu. Alasannya hanya satu: tidak diundang. Hahahaha.
Namun, sebagai Wakil Ketua Nomor 12 Bidang Humas dan Publikasi Ikatan Keluarga Alumni SMAN 2 Bandar Lampung (IKA Smanda) 2025-2029, saya bikin yang ringan-ringan saja.
Tentu kami segenap alumnus Smanda senang. Sebab, Nanda ini adalah alumnus sekolah di Kelurahan Gotong Royong itu. Ia lulus tahun 2003.
Jadi, jika Mirza yang notabene Ketua Umum IKA Smanda, seperti kakak melantik adik kelas sendiri. Beda angkatan tak begitu jauh, tipis-tipis saja. Mirza lulus tahun 1998, Nanda tahun 2003.
Bang Juwendra Asdiansyah, mentor menulis saya yang juga alumnus SMAN 2 Bandar Lampung angkatan 1995, pernah bilang, memang sudah tugas Adian menulis segala hal soal Smanda ini. Namanya juga Wakil Ketua Nomor 12 Bidang Humas dan Publikasi. Hehehehe.
Umumnya, jika saya buat status di Facebook atau WhatsApp, ada saja yang komentar. Karena berkaitan dengan Smanda, banyak yang bilang, “Wah, alumni Smanda jadi-jadi semua ya, Bang.”
“Jadi” yang dimaksud teman ini sudah tentu jadi pejabat publik. Salah satunya ya Nanda ini.
Jika merujuk sekarang saja di tingkat eksekutif, selain Mirza dan Nanda, masih ada Irawan Topani, Wakil Bupati Pesisir Barat. Irawan lulus Smanda tahun 2000.
Menanggapi ujaran teman ini, saya mengiyakan. Lepas itu, saya sering jawab, soal ada yang sukses dan belum, ya tidak semata alumni Smanda saja.
Di antara yang sukses yang terkenal karena menjadi pejabat publik, ya banyak juga yang “tidak menjadi apa-apa”. Frasa ini dengan bangga saya tujukan kepada diri sendiri.
Benar kok. Ini bukan semata mau eksis, mau merendah, atau apa. Karena memang faktanya demikian.
Bahkan, kalau ukurannya masa jaya semasa SMA, saya ini mentok. Teman-teman lain jadi kepala dinas, kepala bidang, kepala bagian, dll, saya tidak mengepalai apa pun.
Adik kelas saya, juga Smanda, Mahathir Muhammad, yang punya Universitas Teknokrat Indonesia, secara berseloroh pernah bilang, “Karier organisasi Kak Adian mentok di ketua OSIS.” Hahahaha. Benar juga ini.
Tapi ada untungnya ada orang kayak saya di kumpulan alumni. Mengapa demikian?
Saya menjadi juru bicara dan sering mengajak teman-teman yang lain untuk ikut dalam agenda reuni yang baru lalu. Termasuk datang, ikutan poco-poco, atau ikut turnamen catur, dan lain sebagainya.
Ada teman yang risi dan tak percaya diri untuk hadir. Alasannya ya beragam. Tapi pendek kata: malu.
Malu belum sukses dalam karier atau usaha, malu karena ini, malu karena itu, malu karena hal-hal lain.
Menjawab itu, saya bilang. “Gua aja yang dulunya ketua OSIS dan sekarang tidak menjadi apa-apa aja, enggak malu. Kamu orang kan waktu SMA gak ketua OSIS, jadi ngapa malu. Gua aja yang terkenal semasa SMA sekarang bukan siapa-siapa aja mau ikutan dan berusaha aktif, masak kamu orang yang dulu enggak ketua OSIS dan gak terkenal, mesti malu. Kamu orang ‘gak ada’ latar sejarah selama SMA. Tapi gua punya latar sejarah karena gua pernah terkenal semasa SMA.”
Nasihat rada panjang yang mungkin bagi sebagian orang bikin jengkel itu saya utarakan supanya menyemangati teman-teman lain untuk sama-sama peduli dengan acara reuni. Peduli sesama alumni. Cerita-cerita yang seru-seru, dan lain-lain.
Bukan malah kalau ada reuni kemudian menutup diri. Saya sering bilang di forum rapat bahwa alumni, reuni, kemudian bikin organisasi IKA itu bukan untuk unjuk diri.
Tapi adanya reuni ini dan juga organisasi alumni juga untuk membantu sesama lulusan.
Mungkin ada yang perlu dibantu karena usahanya buntu. Mungkin ada yang ASN berbelas-belas tahun mengabdi, tapi sulit mau dapat amanah yang lebih menantang. Mungkin ada yang sakit dan perlu uluran tangan banyak orang, dan sebagainya.
Ini juga semangat “Deklarasi Gotong Royong” yang dibacakan Rahmat Mirzani Djausal saat reuni akbar di Smanda, Sabtu, 2 Agustus 2025.
Kepanjangan ya status ini? Tak apalah. Balik ke narasi awal.
Selamat buat Nanda yang sudah dilantik. Seneng kan yang melantik kakak kelas sendiri. Jarang lho ada pelantikan pejabat publik gini dalam suasana reuni yang kental.
Kesamaan almamater saat SMA itu buat saya sih keren bener. Makanya, sekarang kalau ketemu orang, ada yang bilang. “Mau sih bang, gua ditulisin kayak yang lain di berita atau status elu di Facebook. Cuma gua bukan Smanda sih.” Saya ketawa renyah saja.
Semoga Nanda dan Anton sukses jadi pemimpin di kabupaten berjuluk Andan Jejama ini.
Kak Adian siap bantu kok. Berkasnya sudah Kak Adian terima dan tinggal teken saja, hahahaha.
Saya ada pantun buat Nanda. Kayaknya sih sama kayak yang tadi dibaca di rumah dinas pas ramah tamah.
Joging pagi keliling Gedong Tatatan
Mampir sebentar cari lontong dekat Museum Transmigrasi
Kalau kita semua mau maju ini Pesawaran
Mari kita perkuat sinergi dan kolaborasi.
Dah gitu aja. Selamat malam. Viva Smanda. Go! Fight! Win! (Ayo, Berjuang, Menang!) [ADIAN SAPUTRA]

Tinggalkan Komentar Anda