Berita Foto Ruwajurai Bandar Lampung

Erika Saksono dan Virgo Winatha Jelaskan Indeks Kemahalan Konstruksi dan Indikator Kemiskinan

Erika Saksono dan Virgo Winatha Jelaskan Indeks Kemahalan Konstruksi dan Indikator Kemiskinan

Lokakarya penghitungan inflasi gelaran BPS Bandar Lampung. | Kezia Permata Sari Sihite

Lokakarya penghitungan inflasi gelaran BPS Bandar Lampung. | Kezia Permata Sari Sihite

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandar Lampung menggelar Workshop Teknik Penghitungan Inflasi dan Analisis di Hotel Emersia kemarin. Ini adalah hari kedua setelah dimulai pada Senin, 18/12/2023.

Materi pertama yang disampaikan adalah indeks harga kemahalan konstruksi (IKK) oleh Erika H Saksono, fungsi statistik distribusi BPS Kota Bandar Lampung. Selanjutnya, dilanjutkan dengan materi indikator kemiskinan dan ketenagakerjaan oleh Shista Virgo Winatha, fungsi statistik sosial BPS Kota Bandar Lampung.

Erika Saksono menjelaskan, IKK adalah alat untuk mengukur tingkat kemahalan bangunan konstruksi suatu daerah dibandingkan dengan kota acuan.

IKK merupakan indeks spasial yang hanya digunakan untuk membandingkan antarwilayah, bukan antarwaktu. Ini berbeda dengan indeks time series seperti indeks harga konsumen dan indeks harga perdagangan besar.

“Tidak bisa di-series-kan, ya. Indeks spasial ini mengambarkan perbandingan antarwilayah daftar IKK dengan kota acuannya pada tahun tersebut,” jelasnya.

Pada 2023, Makassar menjadi kota acuan indeks kemahalan konstruksi.

Komponen penyusun IKK meliputi harga barang/jasa konstruksi dan penimbang penghitungan. Pemilihan kota acuan didasarkan pada nilai indeks yang mendekati indeks rata-rata nasional, kelengkapan data material, dan kemudahan akses transportasi.

Perlu diketahui, pemilihan kota acuan tidak akan mengubah makna perbandingan antarwilayah.

Erika juga menjelaskan mengenai alasan dan analogi IKK serta bagaimana IKK merupakan salah satu variabel dalam penghitungan dana alokasi umum (DAU).

Selanjutnya, Shista Virgo Winatha menjelaskan materi indikator kemiskinan dan ketenagakerjaan. Ia memulai dengan menjelaskan konsep kemiskinan yang digunakan oleh BPS, yaitu dengan pendekatan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach).

Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari segi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan, bukan hanya diukur berdasarkan garis kemiskinan.

Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

Virgo menjelaskan, BPS melakukan pengukuran kemiskinan dengan serius. Mereka mengunjungi 790 rumah tangga secara acak di seluruh kecamatan di Kota Bandar Lampung, termasuk rumah tangga miskin dan kaya.

“Jadi, BPS mengukur kemiskinan ini tidak main-main,” tegasnya.

Virgo juga memohon kepada semua peserta workshop ini untuk menerima petugas BPS yang ingin melakukan survei data nasional atau lainnya sesuai angkatan kerja nasional.

Hal ini penting agar sampel data tidak terganggu dan dapat mewakili populasi yang lebih luas.

Selanjutnya, Virgo menjelaskan mengenai tiga indikator kemiskinan yang digunakan berdasarkan pendekatan kebutuhan dasar: Head Count Index (HCI-P0), Indeks Kedalaman Kemiskinan (Poverty Gap Index-P1), dan Indeks Keparahan Kemiskinan (Poverty Severity Index-P2).

Virgo juga menjelaskan perkembangan kemiskinan di Bandar Lampung dan Lampung secara umum. Garis kemiskinan Bandar Lampung pada Maret 2023 adalah Rp761.790 per kapita per bulan.

Kemiskinan di Bandar Lampung selalu berada di bawah kemiskinan Lampung dan nasional dalam periode 2017-2023. Kota ini terus mengalami penurunan tingkat kemiskinan.

Pada tahun 2023, tingkat kemiskinan Kota Bandar Lampung mencapai 7,77%, turun sebesar 0,44% dari tahun sebelumnya yang mencapai 8,22%.

Garis kemiskinan menunjukkan jumlah rupiah minimum yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok, termasuk makanan yang setara dengan 2.100 kilokalori per kapita per hari dan kebutuhan bukan makanan.

Selanjutnya, Virgo menjelaskan tentang indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan. Indeks kedalaman mengindikasikan jarak rata-rata pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan, sedangkan indeks keparahan mengindikasikan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.

Selain itu, Virgo juga menjelaskan konsep kemiskinan dan kemiskinan ekstrem. Kemiskinan ekstrem merupakan fenomena multidimensi yang tidak hanya dilihat dari aspek ekonomi, tetapi juga aspek lainnya dalam upaya pengentasan kemiskinan.

Lebih lanjut, Virgo menjelaskan secara mendalam tentang indikator ketenagakerjaan, termasuk cara BPS melakukan survei, perkembangan tingkat pengangguran (TPT), karakteristik penduduk bekerja, dan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK). [Kezia Permata Sari Sihite]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda