Berita Foto Ruwajurai Lampung Timur

Dorong Partisipasi Aksi Perubahan Iklim, Pattiro-YKWS Luncurkan Program VICRA di Lampung Timur

Dorong Partisipasi Aksi Perubahan Iklim, Pattiro-YKWS Luncurkan Program VICRA di Lampung Timur

Peluncuran VICRA  (Voice of Inclusiveness Climate Resilience Action) atau suara untuk perubahan iklim yang inklusif. | Dokumentasi

Peluncuran VICRA  (Voice of Inclusiveness Climate Resilience Action) atau suara untuk perubahan iklim yang inklusif. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Sukadana – Pattiro Lampung berkolaborasi dengan Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) menyelenggarakan peluncuran program VICRA  (Voice of Inclusiveness Climate Resilience Action) atau suara untuk perubahan iklim yang inklusif, Kamis, 21/4/2022.

Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk mendorong komitmen pemerintah daerah dalam menjalankan kebijakan pembangunan berketahanan iklim yang inklusif dan memperhatikan suara-suara kelompok rentan.

Kegiatan dilakukan secara daring dan luring dan dihadiri oleh Asisten II Lampung Timur sebagai perwakilan. Selain itu, hadir pula Kepala Dinas PPPA, Dinas KPTPH, UPTD Wil II PSDA Prov. Lampung, dan UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan Dan Hortikultura Provinsi Lampung sebagai narasumber.

Sebelumnya, Pattiro dan YKWS telah melakukan kajian lapangan untuk menilai kerentanan dan kapasitas komunitas dalam menghadapi perubahan iklim.

Dipandu Fadli Febriansyah, Kepala Bidang Prasarana Wilayah sebagai perwakilan Kepala Bappeda Kabupaten Lampung Timur, kegiatan diisi dengan paparan oleh empat narasumber.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lampung Timur Heri Alpasa menyampaikan, dampak perubahan iklim memiliki dampak yang lebih besar terhadap perempuan daripada laki-laki. Hal ini karena peran perempuan sering bersinggungan dengan alam.

“Berdasarkan data UN Mowen, perempuan dan anak-anak memiliki risiko hingga 14 kali lebih tinggi daripada laki-laki ketika terjadi bencana alam yang dipicu oleh perubahan iklim,” katanya.

Heri juga menjelaskan, kesetaraan gender dalam hal ini yang berkaitan dengan perubahan iklim dapat diukur dengan empat indikator, yakni akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat.

Hal ini juga berkaitan dengan sistem dan norma sosial budaya yang berlaku.

Selain, Heri Sutrisno, perwakilan Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Hortikulturan (KPTPH) Lampung Timur, mengatakan, produksi padi di Lampung Timur dalam lima tahun terakhir mengalami penurunan produksi.

Penurunan produksi pada tahun 2021 disebabkan oleh adanya perbaikan jaringan irigasi sekampung sistem, bencana banjir, curah hujan tinggi, serta serangan hama, dan penyakit tanaman.

“Produksi padi pada tahun 2021 mencapai 489 ribu ton, turun sekitar 31,52% dibandingkan tahun 2020. Kecamatan Batanghari merupakan wilayah dengan peroduktivitas padi tertinggi,” ungkapnya.

Berbeda dengan produksi padi yang mengalami penurunan, produksi jagung di Lampung Timur justru terus meningkat. Pada 2021, produksi jagung mencapai 1 juta ton, naik 24,34% dibandingkan tahun 2020.

Perubahan iklim juga memengaruhi perkembangan hama penyakit tanaman. Menurut Mujianto, Koordinator POPT-PHP Lampung Timur, perubahan iklim dapat menyebabkan perubahan periode fase-fase pada tumbuhan yang seharusnya terjadi secara alami serta memengaruhi kisaran inang serangga.

“Petani kita selama ini masih menggunakan prediksi alami, bergantung pada kebiasaan,” ujarnya.

Sebelumnya, Pattiro dan YKWS telah melakukan kajian kerentanan dan kapasitas komunitas di Desa Tulusrejo, Kecamatan Pekalongan, Lampung Timur.

Kajian tersebut menunjukkan, dampak perubahan iklim yang paling banyak terjadi adalah kekeringan dan serangan hama penyakit. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda