Pembekalan KKN tematik. Pj Sekda Firsada (dua kiri) dan Fitrianita Damhuri (tiga kanan). | Dokumentasi
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Sebanyak 76 mahasiswa dari UIN Raden Intan resmi mengikuti KKN Tematik Perlindungan Anak 2025, sebuah program yang dirancang untuk menguatkan sistem perlindungan anak langsung dari tengah masyarakat.
Pembekalan bagi para peserta dibuka secara resmi oleh Pj. Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Muhammad Firsada, dan diselenggarakan oleh Dinas PPPA Provinsi Lampung bekerja sama dengan UIN Raden Intan Lampung dan Yayasan Pembinaan Sosial Katolik (YPSK) Lampung, Kamis, 19/6/2025.
Para mahasiswa dibekali selama empat hari oleh fasilitator yang merupakan aktivis di bidang perlindungan perempuan dan anak.
Mereka akan menjalankan berbagai kegiatan inspiratif seperti edukasi oencegahan kekerasan seksual, penguatan partisipasi anak, serta implementasi modul perdamaian “Ekspedisi Ulun Lampung” yang dikembangkan YPSK bersama ChildFund dan Uni Eropa.
Menurut Fitrianita Damhuri, Kepala Dinas PPPA Provinsi Lampung, kehadiran mahasiswa dalam program ini bukan sekadar pengabdian, tapi juga misi sosial yang berdampak luas.
“Kami percaya, perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil di tingkat komunitas dan mahasiswa adalah pelopornya,” katanya.
Amsir, Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Anak (PHPA), mengatakan, program ini merupakan rintisan dan belum pernah diselenggarakan sebelumnya di Lampung.
Sejumlah aktivis perlindungan perempuan dan anak tidak hanya menjadi fasilitator dalam pembekalan dan pelatihan ini, tetapi bersama Dinas PPPA juga turut membangun konsep pelaksanaan KKN Tematik Perlindungan Anak, di antaranya aktivis dari Save The Children, Children Crisis Center, Yayasan Lamban Puan, dan YPSK.
“Ini adalah kolaborasi dan inisiatif yang dibangun oleh berbagai pihak. Semakin banyak yang terlibat, kami harapkan manfaatnya akan semakin luas terutama bagi anak-anak di Lampung,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menjadi ruang aktualisasi nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial bagi generasi muda.
Dengan interaksi langsung bersama anak-anak dan keluarga, mahasiswa diharapkan mampu membangun empati, mendengar dengan hati, dan menghidupkan semangat perlindungan anak dari akar rumput. []

Tinggalkan Komentar Anda