Kacamata Adian

Desi Ari Pressanti, “Hadiah” untuk Literasi Lampung

Desi Ari Pressanti, “Hadiah” untuk Literasi Lampung

Desi Ari Pressanti (baju hijau) bersama tim Biro Adpim. | Dokumentasi

Bulan November 2023 saya menjadi mentor untuk teman-teman di Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Sekretariat Provinsi Lampung di Hotel Marcopolo. Kurang lebih lima hari saya menjadi mitra kerja lima staf biro ini. Ada Elfride Purba, Putri Anggun, Selviani Oktavia, Waluyo, dan Winarto.

Barangkali mereka bosan juga berhari-hari hanya lihat wajah saya di kelas. Saya memang ingin menghadirkan bintang tamu. Semacam narasumber tamu. Persoalannya adalah anggaran untuk itu tidak ada.

Semula saya hendak meminta adik kelas semasa di SMAN 2 Bandar Lampung, Marindo Kurniawan, untuk menjadi narasumber tamu. Marindo adalah Kepala Badan Pengelola Kekayaan dan Aset Daerah (BPKAD) Lampung yang juga pernah jadi Pj Bupati Pringsewu.

Pesan WhatsApp saya kirim. Tak lama Marindo malah menelepon. Usai ringkas saya paparkan hajat, Marindo berucap maaf belum bisa.

Saya berpikir lagi. Kali ini bidikan saya Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Desi Ari Pressanti.

Pesan via ponsel saya kirim. Desi mengiyakan. Persoalannya ia baru bisa lusa. Sebab, Desi masih di Jakarta.

Saya mengiyakan. Tak masalah. Alhamdulillah ada narasumber tamu.

Saya minta Desi untuk memberikan paparan soal kebahasaan. Sebab, teman-teman yang saya latih ini ke depan akan menjadi tim penulis rilis dari Biro Adpim Pemprov Lampung.

Di pesan WhatsApp, saya bilang ke Desi bahwa kali ini saya minta tolong dan tidak ada honorarium. Desi malah ketawa. Dia bilang tenang saja. Saya lega.

Pas hari yang dinanti, Desi datang. Dari bandara ia langsung menuju lokasi, Hotel Marcopolo. Sebuah hotel legendaris di Kota Bandar Lampung. Kolam renangnya mungkin yang paling luas di antara hotel seantero kota ini.

Desi kemudian bertemu peserta dan mulai memberikan materi. Usai itu, kami bertanya jawab. Teman-teman juga senang ada narasumber tamu selain saya sebagai mentor.

Saya bilang ke peserta, Desi ini hadir sebagai teman baik. Soalnya, saya tak bisa memberikannya honorarium.

Padahal kantor yang Desi pimpin selama ini kasih banyak pekerjaan kepada saya sebagai narasumber atau pembicara. Sekalinya Desi saya mintakan hadir, malah gratis, hehehe.

Dua jam lebih Desi memberikan materi. Peserta senang karena mendapat perspektif baru. Saya juga bilang kalau ruangan Adpim itu dekat sekali dengan Kantor Bahasa Provinsi Lampung. Masih dalam kompleks yang sama di Pemprov Lampung.

Bedanya Kantor Bahasa, kini Balai Bahasa namanya, tidak punya garis komando ke Pemprov. Kantor bahasa adalah entitas di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ristek yang sekarang dipecah dalam tiga kementerian.

Sebelum Desi pamit, saya memesan dua bungkus makan siang dari hotel. Pagi sebelum ke lokasi, saya sudah pula membeli buah tangan di sebuah swalayan. Ya meskipun tak memberikan honorarium, saya ingin punya kesan baik terhadap Desi.

Usai materi kelar, Desi langsung ke kantor. Saya uluk salam kepadanya. Juga ucapan terima kasih. Bingkisan yang sudah saya siapkan saya letakkan di jok depan. Desi duduk di tengah mobil dinasnya.

Esai ini saya tulis sebagai bentuk takzim kepada Desi. Kami kayaknya seumuran. Meski kenal, tak begitu sering kami bertemu.

Bahkan, saat awal Desi menjabat, saya sudah sering mendapat order kerjaan dari kantor yang Desi pimpin.

Kalau saya tak salah ingat, saya menjadi pemateri penulisan esai buat para Duta Bahasa pada Ramadan tahun 2022. Saya juga mengisi kelas menulis rilis Jambore Literasi di Wira Garden.

Kantor bahasa semasa Desi juga meminta saya jadi narasumber penulisan cerita anak di Hotel Regency, Gadingrejo.

Bulan Mei 2024, saya juga diminta menjadi salah seorang juri untuk memilih Duta Bahasa Provinsi Lampung.

Dari sekian kegiatan itu saya baru bertemu Desi saat menjadi pembicara acara Forum Lingkar Pena Bandar Lampung di Kantor Bahasa. Kami bertemu di ruangan sebelum acara dimulai.

Ketemu lagi saat saya mengisi pelatihan di Hotel Regency Gadingrejo. Saya duduk satu forum dengan Desi sampai sesi makan siang malahan.

Waktu menjuri Duta Bahasa Provinsi Lampung saya juga bersua Desi. Yang terakhir saat malam penganugerahan Duta Bahasa di Hotel Novotel, saya juga jumpa beliau.

Ini belum beberapa permintaan dari pemangku kepentingan literasi di Lampung yang berkontak dengan Kantor Bahasa. Saya pernah menjadi narasumber kegiatan literasi di  Semaka dan Gisting oleh taman baca setempat yang berkelindan dengan entitas bahasa di provinsi ini.

Desi kini bergeser tugas. Masih di Sumatera, bahkan provinsi tetangga: Sumatera Selatan.

Nama kantor untuk yang di Lampung, mungkin juga daerah lain, sudah berganti menjadi Balai Bahasa.

Saya mendoakan agar Desi sukses di tempat barunya. Ia terbilang lincah untuk pejabat di entitas bahasa. Sekian program selama di Lampung sukses dijalankan. Kedekatannya dengan pemangku kepentingan juga ok.

Para Duta Bahasa bahkan memberikan hadiah kepadanya.

Waktu pertama kali ketemu Desi saya bertanya, kenapa di namanya ada unsur ”Pressanti”. Saya menduga ayahnya suka dengan media massa dalam kosakata bahasa Inggris sehingga ada unsur ”press”.

Desi bilang bukan. Pressanti itu asal kata dari ”present” dalam bahasa Inggris yang artinya hadiah. Boleh juga nih ayahnya Desi kasih nama anak dengan unik.

Buat kami, Desi adalah salah satu hadiah dari Tuhan untuk literasi di tanah Lampung. Tabik.

Bandar Lampung, 27 Februari 2025, pukul 09.37. [ADIAN SAPUTRA]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda