Direktur Corporate Affairs JAPFA Rachmat Indrajaya. | Dokumentasi JAPFA

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Ismen Mukhtar senyum-senyum sendiri. Ia baru saja “berdebat” dengan seorang teman di kantornya soal rokok.
Keduanya sama-sama bekerja di Dinas Kesehatan Lampung. Soal bahaya merokok dan kandungan beracun apa saja yang ada di dalamnya, keduanya sudah mahfum.
Ismen, pendiri gerakan Generasi Tanpa Rokok (Getar) itu sekadar bercanda diselipi edukasi. Kawan Ismen bilang, merokok itu tidak haram. Maka itu, ia masih tergolong “ahli isap” sampai dengan sekarang.
Ismen tertawa saja. Bagi Ismen, mengedukasi perokok berat memang sulit. Mereka sudah tahu implikasi rokok. Namun, karena sudah kecanduan atau adiksi, sulit untuk menyetopnya.
Ismen lalu berujar. “Kalau memang merokok tidak haram dan bagus menurut kamu, kenapa kamu enggak tawarkan saja rokok itu kepada istri dan anak di rumah. Toh tidak haram kan, dan bagus kata kamu,” ujar Ismen.
Lawan bicaranya pun hanya terkekeh. Ismen sadar sulit untuk menghentikan kebiasaan merokok dari mereka yang sudah bertahun-tahun bibirnya kena nikotin.
Nikotin itu, kata Ismen, yang bikin adanya ketergantungan sehingga merokok menjadi kebiasaan bahkan budaya.
Sejak 2018 ia berusaha mencegah lebih banyak generasi muda terpapar rokok. Bagi Ismen dan kawan-kawannya di Getar, lebih memungkinkan mengedukasi anak-anak ketimbang mereka yang dewasa dan sudah bertahun-tahun jadi perokok.
Ismen mengatakan, sebagian besar perokok itu adalah mereka yang pendapatannya kecil. Bisa dibilang masuk kalangan orang miskin
Ismen mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung pada tahun 2021 yang menyatakan angka konsumsi untuk rokok sebesar 8,0 persen. Angka ini di bawah konsumsi makanan dan minuman jadi sebesar 13,27 persen.
Konsumsi rokok bahkan masih di atas konsumsi telur dan susu yang hanya 3 persen serta daging di angka 2,01 persen.
Ismen bilang, orang miskin yang merokok pasti menghilangkan alokasi untuk kebutuhan telur dan susu bagi anak mereka. Sebagian besar pendapatan sebagian besar habis untuk rokok.
Ismen menyodorkan bukti sahih. Ia bercerita, di kantornya ada staf honorer yang cuma mendapat penghasilan Rp1,75 juta tiap bulan. Dari jumlah itu, saban hari ia mengalokasikan Rp25 ribu untuk rokok.
Jika dikali 30 hari tiap bulan, uang untuk belanja rokok mencapai Rp750 ribu. Angka itu nyaris separuh dari duit yang ia dapat saban bulan.
Menurut Ismen, bagaimana mungkin kepala keluarga dengan penghasilan minim ini bisa mencukupi kebutuhan protein anak-anaknya semisal susu dan telur.
Yang parah, kata Ismen, jika perilaku merokok itu juga terpapar kepada calon ibu. Calon suami yang merokok juga menyumbang saham terhadap kualitas janin yang dikandung ibu.
Maka, ujar Ismen, sedari hendak menikah itu, edukasi soal bahaya rokok mestinya sudah diberikan. Dan diberikan edukasi betapa pentingnya mempersiapkan gizi dengan baik bagi mereka yang akan menikah.
Ismen sadar, perjuangan untuk mengedukasi anak-anak muda agar jauh dari rokok lewat lembaga Getar yang ia inisiasi ini berat. Persoalannya, kata Ismen, iklan rokok bertebaran di mana-mana.
Pendek kata, ujar Ismen, iklan rokok tak menyasar kalangan yang perokok aktif. Tapi mereka menyasar generasi muda agar ada regenerasi perokok sehingga batang-batang sigaret itu akan tetap punya konsumen, bahkan fanatik.

Pernyataan menarik soal rokok dan kaitan dengan pemenuhan konsumsi protein hewani sebagai pencegah stunting pernah disampaikan Rachmat Indrajaya.
Direktur Corporate Affairs PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk atau JAPFA ini dalam seminar bersama jurnalis di Surabaya 3 Agustus 2022 menyampaikan agar orangtua bijak dalam memenuhi kebutuhan protein hewani anak-anak mereka.
“Merokok saja bisa lho sehari sebungkus. Masak untuk beli telur dan susu buat anak agar mereka sehat dan terhindar stunting tidak mau,” ujar Rachmat.
Rachmat bilang, produk protein hewani bisa menggaransi anak-anak kita terhindar dari bahaya stunting atau gagal tumbuh kembang dari sisi fisik dan kecerdasan.
Ikan, daging, telur, dan susu, tegas Rachmat, adalah asupan yang baik bagi anak-anak, bahkan selagi mereka berada di kandungan.
“Kurangilah rokoknya, biar anak-anak bisa dibelikan protein hewani yang bergizi tinggi,” ujarnya.
Ahli gizi dari Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek Lampung, dr. Tutik Ernawati, M Gizi, Sp.GK, mengatakan, masa 1.000 hari pertama anak sejak konsepsi itu adalah usia emas. Pada masa itulah, masa emas untuk pemenuhan kebutuhan utama anak dimulai.
Maka itu, protein hewani yang dikonsumsi ibu hamil dan menyusui, serta balita adalah sangat urgen. Namun, kebanyakan orang tidak menyadarinya. Begitu diberi tahu bahayanya, diberikan bayangan kengerian yang akan dilihat pada tahun mendatang, barusan kesadaran itu lahir.
Dr Tutik mengatakan, hasil BPS soal konsumsi telur dan protein serta daging yang rendah mengisyaratkan beberapa hal. Dengan kata lain, masyarakat belum menjadikan konsumsi protein hewani itu sebagai skala prioritas. Kenapa demikian?
“Masyarakat kita belum paham pentingnya pasokan protein hewani untuk anak-anak dan ibu hamil. Asupan nutrisi protein hewani yang rendah membuktikan kalau kecukupan nutrisi protein hewani juga rendah,” ujarnya kepada wartalampung.id via sambungan telepon, Sabtu, 10/9/2022.
Tutik menjelaskan kekurangan asupan protein hewani yang kurang menyebabkan gangguan atau kegagalan dalam pertumbuhan.
Karena kegagalan itulah, pada banyak kasus, anak-anak terhambat pada tinggi badan yang semestinya dicapai pada usia tersebut. Stunting akan menjadi masalah karena ia menyebabkan kualitas sumber daya manusia rendah.
Tutik juga prihatin dengan konsumsi rokok yang ia sebut seharga Rp10 ribu masih sanggup dibeli. Sementara itu, untuk beli telur tidak mampu. Padahal, dengan mengalokasikan Rp10 ribu untuk telur sudah dapat nyaris setengah kilogram dengan harga sekarang.

“Beberapa linting itu kan kalau setop rokoknya, bisa dibelikan telur dan susu, toh,” ujarnya.
Ia menyatakan, tidak ada kata sulit untuk memenuhi kebutuhan protein hewani untuk anak-anak dan ibu menyusui. Sebab, belanja rokok saja bisa, apatah lagi untuk telur dan susu.
Bahkan, kata Tutik, ada banyak jenis ikan yang harganya murah tapi punya kualitas protein yang super. Tinggal mengolahnya saja supaya disukai anak-anak dan mau dimakan.
Tutik membandingkan antara nutrisi protein hewani dan nabati. Keduanya sama penting. Tapi proses cerna dalam tubuh lebih maksimal protein hewani.
Ia mengamsalkan, 100 gram tempe dan 100 gram daging ayam. Persentase terserap untuk tubuh, kata dia, tentu lebih banyak yang daging ayam ketimbang tempe. Maka itu, tegasnya, protein hewani itu menjadi asupan yang tidak boleh diabaikan.
“Kalau putih telur itu bisa sampai 90 persen lho serapannya untuk tubuh. Apa enggak hebat itu,” kata dia.
Tutik mengatakan, pemerintah tak kurang-kurang untuk terus mengampanyekan agar Indonesia terhindar dari stunting. Bahkan di tiap posyandu juga ada pokja yang khusus menangani itu. Tinggal bagaimana seluruh elemen mendukung edukasi ini.
Tutik mencontohkan, sekarang ini ada program tambahan suplementasi zat besi untuk remaja.
“Remaja putri itu wajib lho sekarang mengonsumsi zat besi supaya tidak anemia. Bagaimana anak dalam janin kalau ibunya anemia. Belum lagi kecenderungan remaja putri sekarang yang senang jajan, asal enak masuk mulut tanpa memperhatikan nutrisi.”
Namun, ketaatan remaja putri kita rendah, padahal tinggal diambil ke puskesmas.
“Udah gratis pun belum tentu taat. Itu bisa dilihat dari angka kunjungan remaja putri mengambil zat besi di puskesmas,” ujar Tutik yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung itu.
Tutik juga menambahkan perihal stunting ini. Kata dia, terkadang, asupan cukup, namun anak-anak sering sakit. Karena terinfeksi semacam itu, protein terpakai untuk infeksi ketimbang untuk tumbuh kembang.
Perihal protein hewani tadi, Rachmat Indrajaya juga sepakat bahwa tidak mahal untuk memenuhinya. Ia juga sepakat dengan pernyataan Tutik bahwa tidak ada alasan bagi keluarga untuk tidak mencukupi kebutuhan protein hewani.
“Beli rokok aja bisa, masak beli telur dan susu enggak bisa. Susu Real Good JAPFA itu terjangkau banget. Banyak dijual di pasar, swalayan, warung-warung juga ada,” ujar Rachmat.
Balik ke Ismen. Meski berat, ia tetap optimistis untuk mengajak sebanyak mungkin generasi muda menjauhi rokok. Ia bahkan sering menggelar acara-acara untuk mengampanyekan tidak merokok bagi generasi muda.
Ismen memimpikan figur publik di Indonesia tampil sebagai teladan supaya generasi muda menjauhi rokok. Jangan malah ada artis atau aktor serta selebrita yang dengan santainya mengenakan kaus rokok.
Jika figur publik mampu menjadi teladan yang baik dan antirokok, ia yakin akan berhasil usaha menjauhkan anak muda dari sigaret itu.
Untuk berhenti merokok pun sebetulnya tidak sulit-sulit amat. Asal ada tekad yang kuat, bisa berhenti. Bahkan, ada terapi khusus untuk itu.

Hasan Ashari, terapis ketergantungan rokok, bercerita kepada wartalampung.id lewat telepon.
Kata Hasan, ia sudah sepuluh tahun terakhir membantu orang yang punya keinginan kuat berhenti merokok. Dengan hipnoterapi, ia akan membantu alam bawah sadar perokok untuk berhenti.
Hasan mengibaratkan lokomotif dan gerbang. Lokomotif merokok ada pada otak. Ada sensor yang menyatakan kuat untuk selalu merokok.
Maka, yang ditangani adalah pada sistem kesadaran itu. Hasan berkata, biasanya ia akan bertanya kepada orang itu, kenapa merokok, apa alasan terkuat mengisap batang-batang sigaret itu. Dari situ ia akan membantu sehingga lokomotif pikiran tadi tidak membawa gerbong tubuh lainnya untuk merokok.
Hasan berupaya memperbaiki dari sisi alasan orang merokok. Misal karena merasa nyaman, merasa gagah, karena pergaulan, dan sebagainya. Hasan berusaha mengubah keyakinan orang itu terhadap alasannya merokok.
“Begitu keyakinan dia tadi itu bisa kita robohkan, orang bisa berhenti merokok. Karena pusat kesadaran dia yang kita treatment,” kata sarjana ekonomi Universitas Lampung itu.
Hasan berujar, rata-rata terapi berhenti merokok ini 60 sampai 90 menit. Tidak hanya privat. Hasan pernah menerapi massal di beberapa puskesmas pasien yang ingin berhenti merokok.
Soal keberhasilan, Hasan mengklaim sejauh ini cukup besar. Namun, tetap bergantung pada orangnya. Lingkungan pergaulan juga memengaruhi sehingga ada yang sudah berhenti kemudian mulai merokok lagi karena lingkungannya mendukung.
Soal lingkungan yang disebut Hasan, mesti ada upaya dari lingkungan yang mendukung.
Orangtua jangan mengajarkan anak merokok. Bahkan, ada kasus di terapi Hasan, ada anak merokok karena disuruh oleh kakeknya. Kata sang kakek, tidak jantan laki-laki kalau tidak merokok. Alamak!
Ismen tetap optimistis upayanya menjauhkan generasi muda dari rokok masih bisa dilakukan. Iklan rokok yang keren-keren itu, bakal ia lawan.
Kata Ismen, ia sedang menyiapkan program agar ada satu baliho besar di pusat kota dengan desain yang menarik agar generasi muda tidak terpengaruh budaya merokok. Ia dan teman-temannya sedang mereka-reka bagaimana konsep desai milenial itu agar terlihat bagus dan pesannya sampai.
Di sudut lain, dr Tutik terus berupaya agar kesadaran masyarakat mengonsumsi protein hewani menjadi budaya keseharian.
“Saya ini ya stunting juga, heheheh. Pendek. Untung masih hidup kata ibu saya. Tapi masak iya kita mempersiapkan generasi mendatang dengan itung-itungan keberuntungan. Kan enggak. Mesti dikonsep dari awal dan dengan matang serta kuat dalam eksekusi di lapangan,” tutup dr Tutik. [Adian Saputra]
