Dari kiri ke kanan. Saya, Nanda Indira, Antonius Muhammad Ali, dan Muhammad Ardhiansyah Putra Agung. | Dokumentasi
Dari jam dua siang kemarin, Rabu, 27 Agustus 2025, saya sudah berada di rumah dinas bupati Pesawaran. Ini kesempatan yang keempat saya hadir di rumah dinas ini.
Pertama kali sekitar dua pekan lalu bertemu dengan Bupati Pesawaran periode 2016-2021 dan 2021-2025: Dendi Ramadhona.
Kemarin saya hadir untuk melihat, memperhatikan, dan menikmati suasana ramah tamah dan purnatugas Dendi sebagai bupati. Ia resmi diganti oleh Nanda Indira, istri tercinta, yang juga alumnus SMAN 2 Bandar Lampung angkatan 2003.
Bertemu Nanda, ini yang ketiga. Satu nama penting yang saya sebut perihal kelindan saya dengan keluarga ini adalah Acong.
Dalam foto, Acong ini yang paling kanan. Jabatannya juga mentereng di lingkup Pemerintah Kabupaten Pesawaran: Kepala Bagian Protokol.
Acong ini hanya nama panggilan. Tapi saya hakulyakin ada saja yang tak akrab dengan nama aslinya. Jika belum tahu, saya kasih tahu sekarang.
Nama alumnus SMAN 2 Bandar Lampung tahun 2005 ini adalah Muhammad Ardhiansyah Putra Agung. Bagus dan keren, kan?
Acong sudah beberapa tahun menjadi kabag protokol. Kami bertetangga di Kelurahan Kebonjeruk selama beberapa tahun sebelum orangtuanya pindah ke sebuah rumah asri di Kalibalau Kencana.
Waktu ia masih SMP, saya diminta orangtuanya, Tante Salwa, untuk mengajar mereka membaca Alquran. Total sekitar empat tahun saya mengajar Acong dan dua adiknya, Azmi dan Ila, membaca Alquran.
Lantaran itu pula saya sudah menganggap mereka adik sendiri. Silaturahmi itu tak putus sampai dengan sekarang, sampai dengan cerita ini saya bikin. Doa saya buat Tante Salwa dan Om Satria, semoga keduanya sehat-sehat dan selalu dalam keberkahan Allah swt.
Tetamu yang hadir kemarin sangat ramai. Ada mantan Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, Wakil Gubernur Jihan Nurlela bersama sang kakak eks Wakil Gubernur Lampung Chusnunia “Nunik” Chalim, dan mantan Bupati Way Kanan Raden Adipati Surya.
Usai acara formal, termasuk sambutan Bupati Nanda Indira, salam-salaman tamu dengan tuan rumah dilakukan. Saya menikmati acara di sudut panggung sehingga bisa menikmati alunan musik dengan enak.
Beberapa lagu yang sekarang sedang hits dinyanyikan sehingga hadirin tak sungkan berjoget di bawah panggung.
Kemarin tentu adalah sejarah tersendiri bagi Pesawaran. Mereka memiliki pemimpin baru. Harapan orang sekabupaten tentu besar dengan duet kepemimpinan Nanda-Anton ini.
Sebagaimana lazimnya masyarakat, mereka juga tentu berharap kepala daerahnya mampu mencukupi hal-hal dasar. Misalnya saja infrastruktur jalan, pendidikan, kesehatan, dan lainnya.
Semoga Nanda dan Anton bisa mewujudkannya. Tentu mesti dibantu pemangku kepentingan lain.
Saya memang sudah berniat mesti berfoto dengan tuan rumah. Apalagi dengan pakaian yang mereka kenakan, gagah sekali. Tapi mesti sabar.
Ribuan tamu ingin ketemu semua. Saya sempat menunaikan asar di musala asri di depan rumah dinas bernama Lamban Agung ini.
Usai salat, tentu bersobok beberapa teman ASN di sana. Ada yang alumnus SMAN 2 Bandar Lampung, ada juga yang berkarib sejak SMPN 2 Bandar Lampung. Sampai kemudian kesempatan itu datang.
Setengah jam sebelum masuk azan magrib, ditemani Acong, saya bisa berfoto dengan keduanya.
“Bantuin Nanda ya, Kak Adian. Gimana tadi udah oke belum, Kak?”
Saya mengiyakan sembari menyampaikan selarik kalimat ke beliau sebelum undur pamit. Ia mengangguk.
Namanya di tempat ramai, ya ada saja momentum ketemu orang. Saat mau pamit, bertemulah dengan beberapa alumnus SMAN 2 Bandar Lampung angkatan Nanda ini: 2003.
Salah satunya M Affandi Hasan. Usai berbincang sebentar, termasuk dengan beberapa kepala OPD setempat, saya diajak Affandi masuk ke dalam rumah dinas. Pamitan (lagi).
Di dalam, Nanda dan keluarga sedang makan. Pasti letih beberapa jam berdiri, senyum, berpose, cipika-cipiki, dan lain-lain.
Ia lumayan kaget ketika mengetahui saya dan Affandi ternyata sangat akrab.
Affandi bilang ke Nanda. “Kak Adian ini guru ngaji gua.”
Suami Nanda, bupati periode 2016-2021 dan 2021-2025, Dendi Ramadhona, yang sedang makan, tetiba menyahut. “Sekarang Bang Adian guru ngajinya Nanda kalau begitu.” Kami tertawa.
Kami pamitan. Saya bersalaman dengan Dendi dan memeluknya hangat.
“Dibantu ya, Bang,” ujar Dendi.
Saya mengangguk dan pamit pulang. Azan magrib sudah berlalu sekian menit. []

Tinggalkan Komentar Anda