Kegiatan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Salah satu program Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura) Provinsi Lampung adalah pertanian berwawasan ramah lingkungan. Hal ini dilakukan dalam bentuk penerapan pengendalian hama terpadu (PPHT).
Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura melaksanakan kegiatan PPHT tanaman pisang di kelompok tani Kuntum Mekar I yang diketuai Sutarso Tasmania di Desa Margodadi, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, Rabu, 22/9/2021.
Kegiatan tersebut dihadiri petugas Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung, petugas lapang (POPT), PPL dan aparat setempat.
Peserta berjumlah 25 orang dari anggota Kelompok Tani Kuntum Mekar I. Diharapkan peserta tersebut aktif untuk mengikuti kegiatan yang dilaksanakan satu kali sepekan.
Tujuan kegiatan ini meningkatan pengetahuan, kemampuan dan keahlian petani/kelimpok tani dalam menganalisis data dan informasi agroekosistem dan pengambilan keputusan tindakan pengendalian berdasarkan hasil pengamatan rutin.
Karsono mengatakan, salah satu unggulan komoditas Tanggamus adalah pisang. Sehingga perlu adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan bagi masyarakat tani untuk pengelolaan budi daya tanaman pisang yang berwawasan ramah lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta langsung praktek diajarkan Karsono sebagai petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yaitu cara pembuatan trichokompos dan bahan pengendali dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar lingkungan rumah. Antara lain batang pisang, sabut kelapa, dan lain- lain yang kita kenal dengan agens hayati.
Penggunaan trichokompos pada tanaman khususnya tanaman pisang sangat penting dan dibutuhkan. Hal ini dapat mengantisipasi penyakit pisang layu fusarium yang diakibatkan oleh jamur yg terdapat dalam tanah.
Karsono berharap dengan adanya PPHT di desa tersebut, dapat menyebarluaskan kepada kelompok tani di sekitarnya untuk dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia.
Dan mulai menggantikan dengan yang alam dan bersifat ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi biaya, meningkatkan pendapatan petani aman konsumsi berdaya saing, dan petani sejahtera.
Beberapa bulan yang lalu ada beberapa kelompok tani dan masyarakat di desa tersebut diambil sampel darahnya untuk penelitian dampak penggunaan pestisida kimia.
Sehingga masyarakat mulai sadar akan pentingnya kesehatan tubuh yang ditimbulkan dari penggunaan bahan kimia yg berlebihan.
Karsono menyebutkan, warga semangat untuk belajar pertanian organik dengan memanfaatkan bahan alami yang ada di sekitar lingkungan. []
melaksanakan kegiatan PPHT tanaman pisang di kelompok tani Kuntum Mekar I yang diketuai Sutarso Tasmania di Desa Margodadi, Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, Rabu, 22/9/2021.
Kegiatan tersebut dihadiri petugas Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung, petugas lapang (POPT), PPL dan aparat setempat.
Peserta berjumlah 25 orang dari anggota Kelompok Tani Kuntum Mekar I. Diharapkan peserta tersebut aktif untuk mengikuti kegiatan yang dilaksanakan satu kali sepekan.
Tujuan kegiatan ini meningkatan pengetahuan, kemampuan dan keahlian petani/kelimpok tani dalam menganalisis data dan informasi agroekosistem dan pengambilan keputusan tindakan pengendalian berdasarkan hasil pengamatan rutin.
Karsono mengatakan, salah satu unggulan komoditas Tanggamus adalah pisang. Sehingga perlu adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan bagi masyarakat tani untuk pengelolaan budi daya tanaman pisang yang berwawasan ramah lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, peserta langsung praktek diajarkan Karsono sebagai petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yaitu cara pembuatan trichokompos dan bahan pengendali dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar lingkungan rumah. Antara lain batang pisang, sabut kelapa, dan lain- lain yang kita kenal dengan agens hayati.
Penggunaan trichokompos pada tanaman khususnya tanaman pisang sangat penting dan dibutuhkan. Hal ini dapat mengantisipasi penyakit pisang layu fusarium yang diakibatkan oleh jamur yg terdapat dalam tanah.
Karsono berharap dengan adanya PPHT di desa tersebut, dapat menyebarluaskan kepada kelompok tani di sekitarnya untuk dapat mengurangi penggunaan pestisida kimia.
Dan mulai menggantikan dengan yang alam dan bersifat ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi biaya, meningkatkan pendapatan petani aman konsumsi berdaya saing, dan petani sejahtera.
Beberapa bulan yang lalu ada beberapa kelompok tani dan masyarakat di desa tersebut diambil sampel darahnya untuk penelitian dampak penggunaan pestisida kimia.
Sehingga masyarakat mulai sadar akan pentingnya kesehatan tubuh yang ditimbulkan dari penggunaan bahan kimia yg berlebihan.
Karsono menyebutkan, warga semangat untuk belajar pertanian organik dengan memanfaatkan bahan alami yang ada di sekitar lingkungan. [Samsiyati]
