Opini

Algoritma di Tengah Rumah Tangga Kita

Algoritma di Tengah Rumah Tangga Kita

Busyral Hanif

Oleh Busyral Hanif (Penyuluh Kemenag Bandar Lampung)

Di era digital, ancaman bagi sebuah pernikahan tidak lagi hanya datang dari perselingkuhan, masalah ekonomi, atau campur tangan mertua. Ada ancaman baru yang jauh lebih halus: algoritma media sosial.

Ia tidak mengetuk pintu, tidak meminta izin, tetapi masuk ke ruang paling pribadi dalam rumah tangga. Setiap hari ia menyajikan video berdurasi 30–60 detik yang perlahan mengubah cara seseorang memandang pasangannya.

Belakangan ini, konten bertema relationship, toxic relationship, gaslighting, narcissistic personality disorder (NPD), avoidant attachment, hingga red flag menjadi konsumsi harian jutaan pengguna media sosial. Sebagian memang dibuat oleh psikolog atau praktisi yang kompeten.

Namun tidak sedikit pula yang dibuat demi mengejar algoritma, tanpa konteks ilmiah yang memadai. Persoalannya bukan lagi apakah konten itu viral, tetapi apakah konten itu benar dan diterapkan secara proporsional.

Di sinilah letak bahayanya. Psikologi berubah menjadi hiburan. Diagnosis berubah menjadi konten.

Konflik rumah tangga direduksi menjadi video satu menit yang menawarkan kesimpulan instan: “Kalau pasanganmu begini, tinggalkan!” Padahal dalam praktik psikologi, diagnosis tidak pernah lahir dari satu potongan cerita, apalagi hanya dari sudut pandang salah satu pihak.

Namun, tulisan ini juga perlu adil. Tidak semua konten hubungan di media sosial berbahaya. Banyak konten yang berhasil membuka mata korban KDRT, kekerasan seksual, manipulasi, atau pengendalian yang selama ini dianggap normal.

Bagi sebagian orang, media sosial justru menjadi pintu pertama untuk mencari pertolongan. Mengingkari manfaat itu juga merupakan kekeliruan. Persoalannya adalah ketika edukasi berubah menjadi generalisasi, dan setiap konflik rumah tangga langsung diberi label gangguan mental.

Data juga menunjukkan bahwa teknologi memang memiliki dua sisi. Survei Pew Research Center menemukan mayoritas pasangan mengatakan internet dan media sosial tidak banyak memengaruhi hubungan mereka, bahkan di antara yang merasa terdampak, sebagian besar menilai dampaknya positif. Teknologi membantu komunikasi, kedekatan emosional, bahkan menyelesaikan sebagian konflik.

Tetapi penelitian yang sama menunjukkan sisi lainnya. Sekitar 23% pasangan yang pasangannya aktif di media sosial mengaku pernah merasa cemburu atau tidak aman karena interaksi pasangannya di media sosial.

Pada kelompok usia muda, angkanya jauh lebih tinggi. Selain itu, sekitar 25% mengaku pasangannya sering terdistraksi oleh ponsel saat sedang bersama. Artinya, teknologi bukan penyebab utama rusaknya rumah tangga, tetapi dapat menjadi katalis yang memperbesar konflik yang sudah ada.

Ironisnya, algoritma media sosial memang tidak dirancang untuk menjaga pernikahan. Algoritma dirancang untuk menjaga perhatian pengguna selama mungkin. Semakin lama seseorang menonton, semakin banyak iklan yang dapat ditampilkan. Dalam ekonomi digital, perhatian adalah komoditas.

Karena itu jangan heran jika konten yang paling sering muncul adalah konten yang memancing emosi. Marah, takut, curiga, sedih, dan merasa menjadi korban adalah emosi yang membuat seseorang berhenti menggulir layar, berkomentar, membagikan, dan kembali lagi ke aplikasi.

Engagement naik, pembuat konten diuntungkan, platform memperoleh keuntungan. Yang menanggung akibatnya adalah keluarga.

Di sinilah masyarakat perlu bersikap kritis. Tidak semua istilah psikologi bisa dipakai sembarangan. Misalnya, NPD bukan sinonim dari “orang egois”. Gaslighting bukan sekadar “berbeda pendapat”.

Avoidant attachment bukan berarti setiap orang yang sedang diam karena lelah. Ketika istilah klinis dipakai secara serampangan, pasangan tidak lagi dipandang sebagai manusia yang utuh, tetapi hanya sebagai kumpulan label.

Lebih berbahaya lagi jika suami dan istri sama-sama mengonsumsi konten yang sama. Suami diam-diam yakin istrinya toxic. Istri diam-diam yakin suaminya seorang narsistik.

Keduanya datang ke rumah dengan “amunisi” yang sama. Mereka tidak lagi berusaha memahami, tetapi sibuk mencari bukti untuk membenarkan teori yang baru ditonton semalam.

Fenomena ini sebenarnya telah diperingatkan Alquran sejak 14 abad lalu.

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”
(QS. Al-Hujurat: 12).

Algoritma bekerja dengan memperkuat prasangka. Semakin sering seseorang curiga, semakin banyak konten yang menguatkan kecurigaannya.

Dalam istilah psikologi modern, ini dikenal sebagai confirmation bias—kecenderungan mencari informasi yang mendukung keyakinan sendiri sambil mengabaikan fakta yang bertentangan.

Islam justru memerintahkan tabayyun, klarifikasi, bukan sekadar validasi emosi.

Allah SWT juga berfirman:

“…Dan bergaullah dengan mereka secara makruf. Jika kamu tidak menyukai mereka, boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal Allah menjadikan padanya banyak kebaikan.”
(QS. An-Nisa’: 19).

Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Satu kesalahan pasangan tidak menghapus seluruh kebaikannya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu perangainya, ia akan ridha kepada perangai lainnya.” (HR. Muslim).

Ini bukan ajaran untuk menoleransi kezaliman. Jika terjadi KDRT, perselingkuhan, kekerasan seksual, atau penganiayaan, Islam memerintahkan mencari pertolongan dan keadilan. Tetapi hadis ini mengingatkan bahwa konflik biasa dalam rumah tangga jangan sampai berubah menjadi kebencian total hanya karena sudut pandang yang sempit.

Di Indonesia sendiri, penyebab perceraian terbesar yang tercatat di pengadilan agama masih didominasi oleh perselisihan dan pertengkaran terus-menerus, disusul faktor ekonomi dan penyebab lainnya. Artinya, persoalan utama bukan sekadar hadirnya media sosial, tetapi kegagalan komunikasi yang kemudian dapat diperparah oleh konsumsi konten digital yang tidak sehat.

Karena itu, yang perlu dikritik bukan hanya para kreator konten, tetapi juga kita sebagai konsumen. Mengapa video yang membuat kita marah lebih sering kita tonton sampai habis? Mengapa kita lebih cepat percaya pada influencer yang tidak mengenal kehidupan rumah tangga kita daripada pasangan yang hidup serumah setiap hari?

Rumah tangga tidak dibangun oleh algoritma. Rumah tangga dibangun oleh komunikasi, amanah, kesabaran, saling mendengar, saling mengoreksi, dan saling memaafkan.

Jika ada akun yang setiap hari membuat Anda semakin membenci pasangan, semakin curiga, semakin mudah memberi label, tetapi tidak pernah mengajak introspeksi, mungkin sudah waktunya menekan tombol “Not Interested” atau “Unfollow”.

Sebab tidak semua konten yang viral itu benar. Tidak semua yang terasa “relate” itu sehat. Dan tidak semua yang menghibur akan menyelamatkan rumah tangga.

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus diajukan bukanlah, “Apakah pasangan saya toxic?” Tetapi, “Apakah konten yang saya konsumsi membuat saya menjadi pasangan yang lebih baik, atau justru membuat saya semakin sulit mencintai?” []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda