Opini

AI Mempercepat Jawaban, Siapa yang Membentuk Pengalaman?

AI Mempercepat Jawaban, Siapa yang Membentuk Pengalaman?

Romi Aprilyansa

Oleh Romi Aprilyansa (Alumnus SMAN 2 Bandar Lampung dan Fakultas Teknik Unila)

Sekitar dua puluh tahun yang lalu, ketika baru memulai karier, mengikuti rapat sering kali terasa seperti memasuki dunia yang asing.

Senior-senior saya berdiskusi menggunakan berbagai istilah teknis, singkatan proyek, dan konsep yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Tidak mungkin rasanya menghentikan rapat setiap kali ada istilah yang tidak saya pahami. Solusi yang saya lakukan saat itu sederhana, dengan selalu membawa buku kecil. Setiap mendengar istilah baru, saya catat.

Setelah rapat selesai, pekerjaan saya belum benar-benar selesai.

Saya mencari artinya. Saya bertanya kepada senior, membuka buku dan Ketika internet mulai menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari, saya mencarinya melalui Google. Kadang saya baru benar-benar memahami sebuah istilah beberapa hari kemudian. Bahkan ada konsep yang baru terasa maknanya setelah mengerjakan proyek secara aktual.

Saat itu saya sering beranggapan bahawa proses belajar terasa lambat. Hari ini justru saya menyadari bahwa waktu yang panjang itu bukanlah hambatan. Waktu itulah yang diam-diam membentuk cara saya berpikir.

Hari ini semuanya berubah. Ketika mendengar istilah yang belum dipahami, cukup dengan membuka aplikasi AI. Dalam hitungan detik, definisi, penjelasan, contoh, hingga ringkasan dari berbagai buku muncul di layar. Apa yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari, kini dapat diperoleh dalam hitungan detik.

Ini adalah kemajuan yang luar biasa, memanfaatkan AI hampir setiap hari membantu saya mencari referensi, merangkum buku, membandingkan berbagai sudut pandang, bahkan mempercepat proses menulis.

Namun, di balik semua kemudahan itu, muncul satu pertanyaan yang terus mengusik pikiran saya. “Ketika AI mempersingkat waktu mencari jawaban, apakah ia juga tanpa sadar mempersingkat proses kita menjadi benar-benar memahami?”

Pertanyaan ini mengingatkan saya pada pemikiran Peter Drucker dalam buku yang saya baca dengan Judul Lecturer Drucker, tokoh yang sepanjang hidupnya banyak membahas tentang manusia, pengetahuan, dan organisasi.

Drucker tidak pernah mengukur kualitas seseorang dari seberapa banyak informasi yang dimilikinya. Yang ia tekankan adalah kemampuan menggunakan pengetahuan untuk menghasilkan tindakan dan keputusan yang tepat. Pengetahuan baru memiliki nilai ketika diterapkan dalam tindakan.

Di sinilah saya melihat perbedaan mendasar antara AI dan manusia. AI dapat mengumpulkan informasi dari jutaan buku. AI mampu menyusun jawaban yang cepat, rapi, dan logis. Namun AI tidak pernah mengalami satu pun dari apa yang dijelaskannya.

AI tidak pernah merasakan tekanan ketika sebuah keputusan harus diambil.

AI tidak pernah menghadapi kegagalan proyek.

AI tidak pernah belajar dari kesalahan yang dibuatnya sendiri.

Semua itulah yang disebut pengalaman. Pengalaman bukan sekadar mengetahui jawaban. Pengalaman adalah proses ketika pengetahuan bertemu dengan kenyataan.

Saya mulai memahami bahwa dahulu yang sebenarnya sedang saya bangun bukan hanya pengetahuan tentang istilah-istilah teknis. Saya sedang membangun cara berpikir.

Proses mencari, bertanya, membaca, berdiskusi, mencoba, salah, lalu memperbaiki diri adalah perjalanan yang perlahan membentuk kualitas keputusan seseorang.

Mungkin karena itulah dua orang dapat membaca buku yang sama, mengikuti pelatihan yang sama, bahkan menggunakan AI yang sama, tetapi menghasilkan keputusan yang sangat berbeda.

Perbedaannya bukan terletak pada jawaban yang mereka miliki. Perbedaannya terletak pada pengalaman yang dibawa ketika menggunakan jawaban tersebut.

Saya teringat sebuah adegan dalam film The Book of Eli. Di tengah dunia yang porak-poranda, banyak orang mengejar sebuah buku karena menganggap di sanalah letak kekuatan. Namun pada akhirnya kita menyadari bahwa yang paling berharga bukanlah buku itu sendiri, melainkan seseorang yang telah menghidupi isi buku tersebut hingga menjadi bagian dari dirinya.

Pengetahuan dapat disalin. Data dapat dipindahkan. Jawaban dapat dihasilkan dalam hitungan detik. Namun pengalaman tidak bisa diunduh. Pengalaman hanya lahir ketika seseorang benar-benar menjalani sebuah proses.

Karena itu saya tidak melihat AI sebagai ancaman. Sebaliknya, AI adalah alat yang sangat berharga jika digunakan dengan bijak. Ia membebaskan kita dari pekerjaan mencari informasi sehingga kita memiliki lebih banyak waktu untuk berpikir, berdiskusi, mencoba, dan menghasilkan keputusan yang lebih baik.

Tetapi jika seluruh waktu yang dihemat itu hanya digunakan untuk memperoleh jawaban yang semakin cepat, tanpa pernah membangun pengalaman, maka kita sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada waktu itu sendiri.

Mungkin di era Artificial Intelligence, pengalaman akan menjadi aset yang paling langka.

Dan justru karena itulah, pengalaman akan menjadi pembeda utama antara manusia dan mesin.

Jika suatu hari semua jawaban dapat diberikan oleh AI dalam hitungan detik, apakah kita masih bersedia meluangkan waktu untuk membangun pengalaman yang membuat jawaban itu benar-benar bermakna?

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda