Wahyu Sasongko. | Dokumentasi

Nama Wahyu Sasongko pada akhir tahun 1990-an dan 2000-an sering berseliweran di media massa cetak. Koran besar seperti Lampung Post dan Radar Lampung, kemudian diikuti Tribun Lampung, rajin mengutip pendapat dosen senior Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila) itu.
Saya yang lama bekerja di Lampung Post, hampir saban hari melihat nama mendiang ini di pemberitaan. Ulasannya tajam, pendapatnya trengginas, dan kritis kepada pemerintah dan dewan.
Ia pernah bersama almarhum Armen Yasir yang juga dosen Fakultas Hukum Unila, dan Jauhari Zaelani, dosen UBL, membuat Lampung Parliament Watch, semacam lembaga kajian untuk memberikan masukan kepada dewan.
Misalnya berita soal APBD, nyaris selalu ada pendapat dari mereka, wabilklhusus Wahyu Sasongko. Sebelumnya, saat bekerja sebagai editor buku di LMS Komite Antikorupsi (Koak) Lampung, saya beberapa kali satu forum dengan almarhum. Bisa dibilang, di mana ada diskusi, di situ ada Wahyu Sasongko.
Sewaktu masih aktif sebagai pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung sebagai sekretaris, Wahyu Sasongko juga banyak dilibatkan dalam diskusi dan acara lain. Nama Wahyu Sasongko untuk mereka yang bergerak sebagai aktivis lingkungan, aktivis hukum, dan kelompok masyarakat sipil prodemokrasi, nama Wahyu Sasongko pasti punya tempat tersendiri. Wajar kalau banyak yang merasa kehilangan saat ia dipanggil ke haribaan Allah Swt hari ini.
Ia takkan berhenti diskusi kalau ketemu kawan ngobrol yang pas. Maka itu, almarhum memang dekat dengan banyak jurnalis, senior-senior saya di AJI kala itu. Dengan Mas Oyos Saroso HN, dengan Bang Firman Seponada, dengan Mas Budisantoso Budiman, dengan Bang Juwendra Asdiansyah, juga dengan beberapa jurnalis yang belakangan gabung di AJI seperti Wakos Reza Gautama, Yoso Muliawan, M Hardiansyah, dkk yang lain.
Bahkan sewaktu Bang Juwendra mengaktifkan lagi Bengkel Jurnalisme, Pak Wahyu acap hadir dalam diskusi soal jurnalisme dengan para jurnalis muda kampus dan media arus utama. Pak Wahyu tak berjarak jika sudah ada di satu forum. Ia tampil total dengan gagasannya sehingga kami mendapat perspektif baru menyimak isi pembicaraannya.
Satu momen yang tidak bisa saya lupakan bersama almarhum kala ada diskusi di kantor Pussbik (Pusat Studi Strategi dan Kebijakan) yang dipimpin Aryanto. Saya mewakili AJI Bandar Lampung. Pak Wahyu juga menjadi pemantik diskusi. Temanya seingat saya soal pencegahan korupsi.
Diskusi dimulai sekitar jam 10 sampai dengan jam 12 siang. Saat diskusi selesai, Pak Wahyu pamit duluan. Saya ingat dia bilang seperti ini.
“Saya duluan ya kawan-kawan. Mas Adian, saya duluan. Saya juga anggota AJI soalnya. Antar jemput istri, hahahaha.” Kami tertawa usai Pak Wahyu ngomong demikian.
Semoga amal saleh dirimu semasa hidup diterima Allah Swt. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kesabaran. Allahummagh firlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu. []
