Telaga Ngebel
Aku menyerapmu diuj “ung mentari
ketika ujungnya menebar
Memana yang mungkin mengadu
Ketika petak tertindas, anginpun berderak
Pelan dan senyap
Sesaat.
Aku menyerapmu dipucuk pekat
Kumajukan tatap, bayangmu memedar
Berdamai malam, gemuruh luka memerih
Berserak tanpa jiwa
Mengulum senyum membekas
Sesaat….
Memikat.
Menapak marga, melalukanmu
Pada asa tak tentu
Mataku memudar, pada batu
Bahkan rembulan pun tak mengantar rindu
Berkhabar indah
Saat gerimis memeluk hati.
Aku menyerapmu dipucuk
Tak berujung
Mengalun detik mengganti
Sobekan membara dan diam
Ujung yang memang berbeda
Aku menyerapmu dipucuk
Sayap
Tak bertepi hinggap
Mengantar tawa berdering
Beberapa mentari kemarin
Memang…hanya serpihan perca
Padahal angin mulai membelai
Pelan….
Menitip tanpa jejak
Aku menyerapmu di hembusan
Sketsa memacu redup yang berganti
Menyisa diujung senja
Sepenggal kugenggam
Rapat mengerat
Setapak makin
Tak mampu berlari.
Aku menyerapmu diujung abstrak
Guratan yang tak terjawab
Membatu bercerita
Sembunyikan butiran niat
Menggelepar tak berair
Ketika hujan tak kirimkan kerinduan
Aku menyerapmu dalam
Jemari berlari…
Membelai
Pada sinarnya yang tak berujung
Pada senyummu yang kurengkuh
Walau tak pasti
Aku menyerapmu di rongga
Hanya lembaran
Bahkan malam perlahan mengayun
Aku merindu
Telaga ngebel kian berdesir
Salam terkirim disudutnya
Bahkan mungkin tak terbaca
Aku tergores di ujung.
Merayu Sang Khalik yang lembut terucap
Pada keindahan hawa
Aku mengecapmu di ujung rintik
Tentang khidmat, sepenggal jiwaku
Yang tersisa
Ketika hampa terbentur reriak
Berkejaran
Kumenantimu diujung waktu
Andalas….
Menjelang pagi

Tinggalkan Komentar Anda