Ilustrasi. | Dokumentasi
Amalia Sabilla Mukhtar
Di dasar laci
sebuah kancing hitam
terjepit di antara kuitansi
dan foto yang terlalu kecil
untuk mengenali siapa pun
aku mengambilnya
tidak ada yang hilang
dari benda sekecil itu
kecuali pasangannya
Di belakang foto
ada tanggal
angka-angka yang sudah pucat
namun masih cukup jelas
untuk membuat seseorang
berhenti sebentar
Aku tidak tahu
siapa yang menulisnya
tetapi aku tahu
mengapa beberapa angka
lebih sulit dilupakan
daripada nama
Dulu
orang-orang gemar memindahkan nama
dari satu percakapan ke percakapan lain
di teras
di dapur
di sela piring
yang belum selesai dikeringkan
nama-nama itu berubah bentuk
setiap kali berpindah mulut
ada yang menjadi tawa
ada yang menjadi bisik
ada yang mendadak berhenti
ketika langkah kaki mendekat
Aku belajar diam
sebelum belajar menjawab
Barangkali sejak itu
aku mulai mengumpulkan sesuatu
bukan benda
hari-hari
angka
pekerjaan yang belum selesai
nama tempat
yang kelak bisa disebut
tanpa harus menjelaskan
mengapa aku pernah berada di sana
Satu selesai
kucari satu lagi
satu dipuji
kucari yang berikutnya
seperti seseorang
yang terus menambah tinggi pagar
padahal orang yang ditakutinya
sudah lama pindah rumah
Suatu petang
sebuah cerita kembali diletakkan
di meja
tentang hari yang panjang
tentang orang-orang
yang tidak ada di sana
tentang sesuatu
yang sudah terlalu sering
mencari tempat untuk diceritakan
aku mendengarkan
sampai pikiranku
tidak lagi berada di meja
lalu mulutku bergerak
lebih dahulu
hanya satu kalimat
setelah itu
aku melihat sebuah tangan
berhenti di atas gelas
Tidak ada yang pecah
justru itu yang membuatnya
lebih lama tinggal
Malamnya
aku mencuci gelas yang sama
berulang kali
air mengalir
melewati jari-jari
yang tidak melakukan kesalahan apa pun
tetapi tetap saja
aku menggosoknya
sampai permukaannya
memantulkan wajahku sendiri
Aku mematikan keran
dari kamar sebelah
terdengar batuk kecil
lalu tidak ada apa-apa
Aku berdiri cukup lama
di depan pintu
tidak mengetuk
tidak pula pergi
Barangkali ada orang
yang sepanjang hidupnya
belajar menyembunyikan lelah
di dalam percakapan
Barangkali ada orang lain
yang belajar berlari
agar tidak sempat
mendengarnya
Keduanya bisa tinggal
di dalam tubuh yang sama
Pagi selalu datang
tanpa menanyakan
siapa yang kalah semalam
aku berangkat
membawa nama
membawa pekerjaan
membawa segala sesuatu
yang bisa dibuktikan
pernah kukerjakan
dan ketika orang-orang
mengucapkan selamat
aku tersenyum
seperti seseorang
yang akhirnya menemukan
rumah dari alamat
yang sejak kecil
salah dibacanya
Malam berikutnya
aku membuka laci
kancing hitam itu masih di sana
aku mengambil benang
mencoba memasukkannya
ke lubang kecil
di tengah benda itu
sekali gagal
dua kali
tiga kali
lalu berhasil
Aku hampir memasangkannya
pada sesuatu
tetapi tidak ada kain
yang sedang menunggu
Maka benang itu
kubiarkan menjuntai
dan untuk pertama kalinya
aku melihat
betapa panjang
sesuatu yang tampak kecil
ketika ditarik
dari tempatnya semula

Tinggalkan Komentar Anda