Sebaran abu vulkanik GAK
Oleh Firman Ghazali dan rekan Fakultas Teknik Unila
Sabtu, 5 September 2026 lalu, menjadi puncak kegiatan tumbuh kembangnya Gunung Anak Krakatau (GAK). Setelah melalui serangkaian erupsi ”kecil”, pada tanggal tersebut sukses menjadi perhatian.
Kewaspadaan bisa saja berubah menjadi kekhawatiran, apabila GAK kembali memaksa air laut dari Selat Sunda menyapa pesisir di Teluk Lampung dan Banten. Oleh sebab itu, tsunami, 22 Desember 2018 bisa saja terjadi lagi.
Beruntungnya, otoritas pewarta kebencanaan di republik ini, termasuk Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMGB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tidak memberitakan adanya tanda-tanda yang serupa dengan yang dijumpai delapan tahun lalu pada erupsi GAK kali ini. Artinya, untuk sementara aman.
Tidak akan terjadi tsunami untuk ketiga kali (setelah tahun 1883 dan 2018). Faktanya, GAK terletak jauh dari Kota Bandar Lampung (Provinsi Lampung) dan Serang (Banten). Tidak mungkin rasanya lelehan lava dan lontaran batuan vulkanik sampai di kedua kota ini. Namun, di balik rasa aman tersebut, terdapat satu hal yang dilupakan.
GAK masih punya material vulkanik yang bisa terdistribusi lebih jauh dengan bahaya yang tidak kecil. Abu vulkanik yang keluar dari GAK harusnya menjadi perhatian lebih. Abu yang di dalamnya terdapat partikel kaca halus (silika) tapi tajam ini bisa bergerak bebas, sebebas angin berhembus. Faktanya, erupsi terus berlanjut, sampai dua hari berikutnya.
Normalnya, angin berhembus dari arah benua Australia ke Asia di bulan musim kemarau. Tetapi pada kenyataannya, abu GAK tidak menyebar ke arah yang sama dengan angin tersebut.
Hasil survei cepat yang dilakukan oleh tim dosen Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila), tidak kurang dari 700 responden melaporkan bahwa abu vulkanik telah sampai di tempat, di mana mereka tinggal saat kejadian erupsi (lihat titik biru dan merah pada Gambar 1 untuk lokasi sebaran responden).
Dari laporan tersebut dapat disampaikan bahwa abu telah sampai di Kabupaten Pesisir Barat dan Tanggamus pada pagi hari tanggal 6 September 2026. Secara keseluruhan, hanya di Mesuji, Tulangbawang dan Tulangbawang Barat, sebagian Way Kanan dan Lampung Tengah yang tidak terpapar abu vulkanik GAK, berdasarkan hasil penelusuran tim.
Hal ini disebabkan oleh pola dispersi abu vulkanik yang tidak selalu mengikuti satu arah secara seragam. Abu vulkanik yang terangkat ke atmosfer dapat terbawa oleh angin pada berbagai ketinggian, sementara arah dan kecepatan angin dapat berbeda di setiap ketinggian di lapisan atmosfer.
Kondisi tersebut memungkinkan abu vulkanik tersebar ke wilayah yang lebih luas dan mencapai beberapa kota/kabupaten di Lampung.
Data sebaran diambil dan diolah pada 6 September 2026. Gambar berwarna hitam di latar belakang adalah citra satelit Himawari-9 yang diakses pada 7 September 2026. Objek berwarna putih adalah awan, sementara asap vulkanik dari GAK bergerak ke arah barat daya pada pukul 14.10 berwarna kelabu, dan wilayah laut berwarna hitam gelap.
Respons cepat dibuat oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung dan Provinsi Lampung, diikuti oleh beragam unit kerja lainnya. Termasuk, mengarahkan work from home (WFH) bagi banyak pegawai dan siswa sekolah dasar, menengah dan perguruan tinggi (PT).
Sampai tulisan ini dibuat, tidak diketahui adanya informasi terkait dengan upaya mitigasi yang sama dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota lainnya. Di beberapa ruas jalanan Kota Bandar Lampung, petugas pemadam kebakaran sudah mulai terlihat sibuk. Upaya meredakan sebaran abu vulkanik dilakukan dengan menyemprotkan air ke arah jalan raya.
Masyarakat kota pun merespons kebijakan ini dengan langsung mencari masker yang direkomendasikan untuk mengurangi dan menghalangi paparan abu tersebut. Namun, ketersediaan masker di pasaran, termasuk toko obat, apotek, dan swalayan, terlalu cepat habis sampai hilang dari peredaran.
Tingginya kesadaran pimpinan daerah (Wali Kota dan Gubernur, bersama dengan jajarannya) dapat menggambarkan people’s awareness of safety and a great response to disasters yang baik. Idealnya, tangan politik bisa mengarahkan sekaligus menyediakan informasi valid, khususnya bagaimana caranya mendapatkan masker, di toko obat, apotek, dan swalayan mana, lengkap dengan ketersediaannya.
Tidak berharap bahwa di suatu hari terjadi erupsi lagi dan paparan abu yang lebih hebat. Tetapi, selayaknya orang yang bisa belajar dari bencana di masa lalu, GAK pernah tsunami, sering erupsi dengan jumlah yang banyak. Perlu melihat catatan dari https://magma.esdm.go.id/v1/gunung-api/informasi-letusan/KRA?page=2 untuk tahu berapa jumlahnya pastinya.
Abu vulkanik terdistribusi acak, dengan banyak kota/kabupaten yang juga terpapar. Masker hanya salah satu logistik yang perlu disiapkan ketika bencana serupa terjadi lagi di kemudian hari.
Halaman rumah warga, tempat berjualan mereka sehari-hari, dan juga sekolah tempat belajar sudah terlihat dibersihkan dari abu vulkanik. Kabar gembiranya, erupsi boleh dikatakan sudah berakhir. Paparan abu vulkanik sudah terhenti. Selanjutnya
, terdapat ruang untuk belajar hidup berdampingan dengan GAK. Gunung kecil ini pernah tiada, kemudian muncul, dan hilang kembali. Tetapi proses alam tidak berhenti sampai di sini. GAK masih bisa tumbuh lebih besar lagi.
Kekuatan erupsinya juga bisa lebih kuat lagi. Masyarakat yang tinggal di sekitar GAK harus mulai lebih menyadari bahwa, dia adalah sumber bahaya.
Di sisi lain, bukan hanya merupakan laboratorium alam, tetapi juga menjadi sumber belajar tentang gunung api terdekat bagi kami, penduduk yang berada di sekitarnya.
Besar harapan bahwa ada sebuah konsolidasi dari banyak pihak terkait. Tidak hanya Kota/Kab. di Prov. Lampung, melainkan melibatkan pemerintah daerah dan pusat di dua pulau Sumatera dan Jawa yang syarat penduduk. Dari keduanya terdapat banyak sumber daya vital dan strategis bagi Republik Indonesia.
Mengingat dalam satu rangkaian kegiatan mitigasi bencana, memberikan respons saja tidak cukup. Masih ada aspek preparation (persiapan untuk mitigasi) dan recovery (pemulihan) yang juga perlu dipikirkan.
Dalam sistem mitigasi bencana yang utuh, aspek mitigasi harus terintegrasi dengan preparation, response, dan recovery, guna membentuk kesiapsiagaan dan tangguh dalam menghadapi bencana. Sampai suatu saat nanti, memang kita sudah bisa bersahabat dengan GAK. []

Tinggalkan Komentar Anda