Harris Turino. | Helen
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino menyoroti pengelolaan utang konsumtif. Menurut Harris, utang konsumtif dapat membebani masyarakat jika tidak dikendalikan.
Masyarakat, kata dia, perlu mempertimbangkan kemampuan keuangan sebelum mengambil utang.
Ia mencontohkan, pembelian ponsel menggunakan layanan utang atau paylater. Kemudahan transaksi tersebut dapat membuat masyarakat lebih mudah berutang.
Kebiasaan membeli barang dengan hutang berisiko menimbulkan beban finansial. Terlebih jika jumlah utang sudah melebihi pendapatan yang diterima.
“Jangan sampai utang lebih besar daripada pendapatan yang dimiliki,” ujar Harris saat menjadi pembicara dalam Lampung Financial Festival 2026 gelaran LPS kemarin di Hotel Novotel.
Ia mengatakan, masyarakat tetap diperbolehkan membeli barang yang diinginkan. Namun, pembelian harus dilakukan ketika kondisi keuangan benar-benar mencukupi.
Selain kemampuan finansial, masyarakat juga perlu mempertimbangkan manfaat barang. Barang yang dibeli sebaiknya memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, pembelian barang tidak seharusnya hanya untuk memenuhi gengsi.
Masyarakat perlu membedakan antara kebutuhan dengan keinginan sebelum berbelanja.
Edukasi mengenai utang konsumtif menjadi bagian dari literasi keuangan masyarakat.
Pemahaman tersebut penting agar masyarakat mampu mengambil keputusan finansial.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan semakin bijak mengelola keuangan. Termasuk mempertimbangkan kemampuan membayar sebelum menggunakan layanan paylater.
Harris juga mengingatkan pentingnya mengatur pendapatan sesuai kebutuhan prioritas. Dengan begitu, masyarakat dapat menghindari beban hutang berlebihan.
Lampung Financial Festival 2026 diharapkan meningkatkan kesadaran finansial masyarakat. Khususnya dalam mengatur pengeluaran, utang, serta keputusan pembelian. [Helen Meldiana]

Tinggalkan Komentar Anda