Masjid Al Wasi'i. | Dokumentasi
Oleh Admi Syarif (Guru Besar Unila)
Sore tadi ketika pulang dari kampus Universitas Lampung, saya melihat sebuah spanduk besar membentang di atas Masjid Al-Wasi’i, bertuliskan “Al Wasii bukan Monumen Mangkrak”. Saya berhenti sejenak di bangunan masjid yang pembangunannya untuk kesekian kalinya terhenti.
Di pagar seng yang mengelilingi masjid kita disuguhi tulisan “dilarang berjualan di sini”, “dilarang parkir di sini”. Melihat kondisi pembangunan masjid ini memang pantas membuat kita bersedih, meskipun tidaklah harus menangis.
Sebagai pengingat, masjid yang sangat bersejarah dan kebanggaan civitas akademika Unila ini dibangun sekitar 50 tahunan lalu, yang peletakan batu pertamanya sudah masa kepemimpinan rektor Prof. Dr. Sitanala Arsyad.
Beliau adalah rektor pertama Unila dan putra daerah asal Negara Bumi Ilir, Lampung Tengah. Masjid ini begitu kokoh dan artistik bernuansa kearifan lokal berlapis marmer asli Lampung. Karenanya wajar saja apabila kita beribadah di dalam terasa sangat nyaman dan sejuk.
Dibongkarnya masjid ini, untuk dipugar, sudah cukup lama, hampir satu dekade lalu, sejak kepemimpinan Rektor Prof. Hasriadi. Hasriadi berencana merenovasi Al-Wasi’i menjadi lebih indah dan megah dengan dana puluhan miliar.
Sayang hingga akhir kepemimpinan beliau, renovasi tidak berjalan mulus, jauh dari kata selesai.
Pada saat awal renovasi ini, saya sempat melamun membayangkan masjid ini kelak menjadi bangunan monumental seperti piramida di Mesir, Taj Mahal di India. Saya terbayang tentang pelajaran “peradaban”. Al-Wasi’i kelak tidak hanya akan memberikan nilai ketauhidan, nilai keindahan, peradaban dan nilai ketempatan (kearifan lokal Lampung).
Saat itu saya juga teringat, ketika mengunjungi Masjid Nabawi beberapa tahun lalu. Saya begitu sangat terkesan dengan desian arsitektur gaya jazirah Arab.
Masjid kedua yang dibangun Nabi Muhamad setelah Masjid Quba ini dalam sejarahnya menggunakan bata dan pelepah kurma sebagai atapnya. Meski kini telah direnovasi oleh arsitek asal Jerman Dr. Ing. Bodo Rasch, tiang-tiang yang berkesan antik dan berkarakter tetap dipertahankan.
Ah, saya kembali melamun membayangkan Al Wasi’i dengan arsitektur Lampung.
Pada awal 2023, Karomani, rektor pengganti Hasriadi, kembali melakukan ground breaking renovasi masjid kebanggaan masyarakat kampus tersebut. Saat itu foto Rektor Unila di atas alat berat di halaman masjid beredar luas.
Kita semua diajak berdoa dan mendukung pembangunan masjid di halaman media sosial.
Kala itu, setelah mendengar kabar segera dibongkarnya masjid tersebut, saya membayangkan betapa megahnya masjid ini nantinya.
Alhamdulillah, saya sempat mengambil beberapa foto masjid Al Wasi’i sebagai kenangan. Hampir dapat diyakini bahwa semua civitas akademika dan masyarakat sekitar, khususnya yang beragama Islam, memiliki kenangan dengan masjid ini.
Dari berbagai informasi, rencana biaya renovasi pembangunan masjid kali ini akan menelan biaya yang lebih dari Rp36 miliar dan direncanakan selesai akhir 2023.
Saya membayangkan masjid ini kelak menjadi landmark baru kebanggaan sivitas akademika dan masyarakat Lampung. Bangunan yang mengadopsi nilai peradaban kelampungan.
Ternyata saat itu saya melamun. Meskipun 2023 berakhir dan pimpinan Unila berganti kepada Lusmeilia Afriana, renovasi ini masih juga belum kunjung dapat berjalan sesuai harapan atau bisa disebut jalan di tempat.
Saya kembali jadi teringat sahabat saya, Prof. Sunarto, yang wafat pada Jumat 11 Juni 2021, saat melaksanakan tugas mulia memimpin renovasi masjid ini.
Kini setelah hampir empat tahun kepemimpinan Lusmeilia Afriani, dan rektor baru segera dipilih, nampaknya kita masih harus melamun.
Kita melamun seraya menyayangkan kenapa tidak ada penjelasan dari Humas Unila untuk mengklarifikasi mangkraknya pembangunan masjid ini.
Sebagaimana kita ketahui, status Masjid Al Wasi’i adalah masjid kampus yg memiliki fungsi sebagai laboratorium pembentukan karakter intelektual muslim sebagaimana Masjid Salman ITB.
Karena itu, penyelesaian renovasi ini harus menjadi prioritas pertama dan yang utama, siapa pun rektor terpilih.
Ekspresi yang dinarasikan pada spanduk ini menunjukkan bahwa seluruh civitas akademika Unila masih menggantungkan harapan untuk selesainya renovasi masjid.
Harapan kita, kelak hadir masjid yang sarat keindahan dan kemegahan yang dapat menambah kecintaan kita terhadap Allah swt dan juga bumi Lampung serta Unila. Semangat terus berbuat baik untuk Unila yang lebih baik. []

Tinggalkan Komentar Anda