Sri Wahyuni (dua kiri). | Dokumentasi
“Kukuruyuk…”
Suara ayam jantan berkokok memecah keheningan pagi. Semburat cahaya matahari mulai muncul dari balik ufuk timur, menyinari pepohonan, rumah-rumah, dan jalanan yang masih lengang. Udara sejuk yang berembus perlahan menjadi pertanda dimulainya aktivitas masyarakat.
Di tengah suasana itu, kesibukan telah lebih dahulu dimulai di depan SMAN 1 Pesisir Tengah. Sejak matahari belum tinggi, Sri Wahyuni dan suaminya, sudah menata dagangan dengan rapi dan bersiap menyambut para siswa yang datang.
Satu per satu nasi kepal diletakkan dengan rapi, menunggu pembeli yang mulai berdatangan sebelum masuk ke kelas.
Suasana yang semula tenang perlahan berubah menjadi ramai. Para siswa mulai menghampiri dagangan Sri untuk membeli sarapan. Dengan harga yang terjangkau dan pilihan rasa yang beragam, nasi kepal buatan Sri perlahan menjadi salah satu pilihan sarapan bagi para pelajar di SMAN 1 Pesisir Tengah.
Di balik ramainya pembeli setiap pagi, terdapat kisah perjuangan seorang perempuan berusia 60 tahun yang tidak pernah berhenti berusaha untuk keluarganya. Sri Wahyuni merupakan penjual sekaligus pembuat nasi kepal yang senantiasa menyambut pembeli dengan ramah.
Ia tidak sendirian. Setiap pagi, ia ditemani sang suami, Enuel Amin, untuk menyiapkan dan menjual nasi kepal.
Sebelum berjualan nasi kepal, Amin bekerja sebagai kontraktor. Sementara itu, Sri pernah menjalankan usaha pakaian dalam di sebuah ruko bersama keluarganya. Ruko tersebut merupakan usaha turun-temurun keluarga mereka. Saat itu, usaha tersebut sempat memberikan penghasilan yang cukup besar bagi keluarga.
“Alhamdulillah ya, Pak, penjualan kita hari ini melonjak drastis,” ucap Sri kepada wartalampung.id baru-baru ini sambil tersenyum bahagia ketika dagangan mereka berhasil terjual.
Omzet penjualan usaha tersebut bahkan bisa mencapai Rp10 juta per bulan. Namun, masa kejayaan itu tidak berlangsung lama.
Seiring berkembangnya penjualan secara daring, usaha pakaian dalam yang mereka jalankan mulai mengalami penurunan. Persaingan dengan penjual yang berjualan secara online membuat usaha tersebut semakin sulit berkembang.
Hingga akhirnya, Sri dan keluarganya terpaksa menutup ruko tersebut karena usaha yang mereka jalankan tidak lagi mengalami kemajuan.
Menutup usaha yang telah dijalankan bukanlah hal yang mudah. Namun, Sri tidak ingin terus berhenti pada kegagalan.
Setelah ruko tersebut ditutup, muncul ide untuk membuka usaha nasi kepal kecil-kecilan di depan SMAN 1 Pesisir Tengah.
Pada awal berjualan, Sri hanya menyiapkan sekitar 10–15 bungkus nasi kepal. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan dagangan yang disiapkannya sekarang.
Ia berdiri sambil menawarkan dagangannya kepada siswa dan siswi yang berlalu-lalang. Tidak setiap hari nasi kepal tersebut habis terjual.
“Sisa dagangannya saya sumbangkan kepada tetangga atau anak yatim piatu biar berkah,” ucap Sri lirih ketika menceritakan dagangan yang tidak habis terjual.
Ada rasa berat ketika melihat makanan yang telah dibuat sejak pagi masih tersisa. Namun, keadaan tersebut tidak membuatnya berhenti berjualan.
Pagi demi pagi, Sri kembali menyiapkan nasi kepal dan berjualan dengan semangat. Setiap langkahnya selalu diawali dengan bismillah.
Perlahan, para siswa mulai mengenal rasa dan kualitas nasi kepal buatannya. Dari yang awalnya hanya membawa belasan bungkus, jumlah dagangannya semakin bertambah seiring semakin banyaknya pembeli.
Nasi kepal tersebut memiliki tiga varian rasa, yaitu ayam suwir teriyaki, sambal ijo, dan sambal merah. Ayam suwir yang dibalut dengan nasi menjadi menu yang setiap pagi disiapkan Sri bersama suaminya.
Mereka harus menyiapkan banyak bungkus sebelum berangkat berjualan agar dapat memenuhi permintaan para pembeli.
Di tengah kesibukan merintis usaha, Sri dan suaminya juga harus mengurus cucu mereka karena anak pertama mereka, Sahafura Nabila Ridlanuel, harus bekerja di Jakarta. Tanggung jawab keluarga tersebut menjadi bagian lain dari kehidupan yang harus mereka jalani bersamaan dengan usaha nasi kepal.
Bagi Sri, berjualan nasi kepal bukan sekadar mencari keuntungan. Usaha tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga. Setiap pagi, ia dan suaminya menyiapkan dagangan tanpa mengenal lelah.
Tidak hanya berjualan di depan SMAN 1 Pesisir Tengah, Sri juga membawa nasi kepalnya ke Bazar Community.
Kegiatan kuliner tersebut dilaksanakan pada Minggu pagi di dekat Pantai Labuhan Jukung Krui. Di tempat itu, nasi kepal buatan Sri kembali ditawarkan kepada masyarakat yang datang.
Usaha yang dahulu dimulai dengan belasan bungkus perlahan berkembang. Kini, Ibu Sri dapat menyediakan sekitar 100 bungkus nasi kepal setiap harinya. Bahkan, tidak jarang ada pembeli yang tidak kebagian karena dagangannya telah habis terlebih dahulu. Perubahan tersebut menjadi salah satu hasil dari kesabaran Ibu Sri dalam menjalankan usahanya.
Namun, di balik usaha tersebut terdapat tanggung jawab lain yang juga harus dipikulnya. Sri turut membantu membiayai kebutuhan hidup anak ketiganya, Iqra Muhammad Fathan Akbar, yang berkuliah di Mesir dalam bidang filsafat.
Begitu pula dengan adiknya, Hanivel Rais Ramadlan, yang juga berkuliah di Mesir dalam bidang bahasa.
Bagi Sri, perjalanan hingga berada di titik ini tidak terjadi dalam waktu singkat. Ia masih mengingat bagaimana dahulu usaha pakaian dalam yang menjadi bagian dari kehidupan keluarganya perlahan mengalami penurunan.
Setelah itu, ia kembali memulai usaha dari awal melalui nasi kepal, meskipun pada awalnya belum banyak orang yang mengenal dan membeli dagangannya.
Kini, ketika melihat sekitar 100 bungkus nasi kepal yang disiapkannya setiap hari, Sri dapat melihat sendiri perubahan yang telah terjadi.
Dagangan yang dahulu sering tersisa kini justru dapat habis dan dikenal oleh banyak orang. Perjalanan tersebut menjadi pengingat baginya bahwa kegagalan bukan berarti akhir dari sebuah usaha.
Perjalanan hidup Sri memang tidak selalu mudah. Ada masa ketika ia harus menerima kenyataan bahwa usaha yang telah dijalankan bertahun-tahun harus berhenti.
Ada pula masa ketika ia harus berdiri setiap pagi dengan dagangan yang belum tentu habis terjual. Namun, ia memilih untuk terus mencoba dan menjalani setiap proses dengan sabar.
Bagi Sri, setelah hujan badai akan selalu ada pelangi. Begitu pula dengan kehidupannya.
Kesulitan yang pernah dilalui tidak membuatnya berhenti, melainkan menjadi bagian dari perjalanan yang membawanya sampai pada titik ini. [Dio Wahyu Pratama/Deas Aina Tasya/Raisya Despita Kurniawan/Zakia Adila Putri/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Tinggalkan Komentar Anda