Pesisir Barat

Tio Ramonda, Nelayan Muda dari Krui

Tio Ramonda, Nelayan Muda dari Krui

Tio Ramonda

“Sruuush… sruuush…”

Deburan ombak yang tak pernah berhenti memecah kesunyian pagi menjadi suara pertama yang menyambut hari di pesisir Krui.

Mentari pagi bahkan belum sepenuhnya menyinari ufuk timur ketika sebuah perahu kecil mulai membelah ombak di perairan Krui, Pesisir Barat, Lampung. Di atasnya, Tio Ramonda menggantungkan harapan pada laut yang tak pernah menjanjikan hasil pasti. Ombak, angin, dan cuaca menjadi teman sekaligus lawan yang harus ia hadapi setiap hari.

Di balik ketegaran itu, tersimpan kisah seorang pemuda yang pernah mengejar mimpi di kota besar, namun akhirnya memilih kembali ke kampung halaman untuk menantang ganasnya laut demi memenuhi kebutuhan.

Setiap hari, sekitar pukul 05.00 WIB, Tio memulai rutinitasnya. Udara pagi yang dingin, aroma asin air laut, serta suara mesin kapal menjadi teman setia selama berjam-jam di tengah lautan.

Sesekali burung-burung laut melintas rendah di atas permukaan air, seolah memberi petunjuk keberadaan gerombolan ikan. Dengan mengandalkan tanda-tanda alam dan perangkat GPS Garmin, ia menyusuri perairan mencari lokasi yang diyakini menyimpan hasil tangkapan.

“Kalau lagi bagus, saya bisa pulang sekitar jam dua belas siang. Tapi kalau ikan lagi banyak, bisa sampai jam tiga sore baru kembali,” ujarnya.

Ikan tongkol menjadi hasil tangkapan yang paling sering diperoleh. Namun, ia pernah mendapatkan ikan tuhuk sepanjang sekitar dua meter, bahkan pernah memperoleh tongkol berukuran sangat besar hingga diibaratkannya sebesar perahu.

Hasil tangkapan dari perairan sekitar Pulau Pisang kemudian dijual ke berbagai daerah, termasuk Teluk dan Jakarta.

Dalam bekerja, Tio menggunakan kapal milik Bapak Abdul dengan sistem bagi hasil. Kapal tersebut berukuran sekitar 9 meter dengan lebar 1 meter dan menggunakan bahan bakar Pertalite yang dicampur dengan oli.

Untuk menentukan lokasi penangkapan ikan, Tio mengandalkan tanda-tanda alam serta perangkat GPS Garmin agar tidak tersesat saat berada di tengah laut.

Kapal itu telah menemaninya menghadapi panas matahari, hujan, dan ombak yang tak menentu. Penghasilannya pun tidak pernah pasti. Saat musim ikan sedang bagus, ia bisa memperoleh hingga Rp2.000.000 dalam sehari. Namun ketika cuaca buruk datang, penghasilannya bisa turun drastis, bahkan hanya sekitar Rp100.000.

“Kalau musim barat datang, kadang kami tidak bisa melaut. Mau tidak mau harus menunggu cuaca membaik,” katanya.

Meski penghasilannya tidak menentu, Tio kini memiliki tujuan yang berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Sebagian hasil melaut disisihkannya untuk tabungan pernikahan. Ia juga bercita-cita membangun gudang penyimpanan ikan agar suatu hari nanti dapat mengembangkan usahanya sendiri.

Melihat Tio begitu akrab dengan kehidupan di laut, tak banyak yang menyangka bahwa jalan hidupnya tidak selalu berada di atas perahu. Sebelum menjadi nelayan, ia pernah mencoba mengadu nasib di kota besar dengan pekerjaan yang sama sekali berbeda.

Bahkan, semasa kecil, ia memiliki cita-cita yang jauh dari dunia kelautan.

“Dulu saya ingin jadi polisi,” kenangnya sambil tersenyum tipis.

Semasa kecil, cita-cita Tio layaknya anak-anak pada umumnya: menjadi polisi. Namun, impian itu kandas setelah sebuah kecelakaan tragis saat Lebaran. Karena terlalu bahagia, ia berlarian menggunakan sandal baru, lalu terpeleset hingga mengalami patah tangan.

Butuh waktu sekitar tiga minggu untuk sembuh, namun insiden itu meninggalkan perubahan bentuk pada tangannya hingga kini, meski fungsinya tetap normal.‎

“Ya sudah, jalannya memang ke sini,” ucap Tio sambil mengenang peristiwa yang mengubah arah cita-citanya.

Tio ramonda atau yang kerap di sapa Tio. Lahir pada tahun 2000 dan tinggal di pesisir tengah hingga usianya mencapai 12 tahun. Setelah itu, Tio dan keluarganya memutuskan pindah di Kuala Stabas dan menetap hingga sekarang.

Ia merupakan anak ke tiga dari tiga bersaudara, putra dari pasangan bapak safri sebagai kuli bangunan dan ibu Sri Karyatina yang berprofesi sebagai guru SD. Latar belakang keluarga yang sederhana ini turut membenntuk jalan hidup Tio hingga sekarang.

Lalu pendidikan yang ia tempuh di mulai dari tingkat SD hingga tingkat SMA, lulus pada tahun 2018 , setelah lulus SMA, Tio sempat menganggur selama 1 tahun. Pada usia ia akhirnya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman dengan merantau ke Pualu Jawa , tepatnya di Kota Tangerang.

Di kota itu, ia bekerja sebagai pramuniaga di The Nest Apartemen dengan gaji sekitar Rp3.500.000 per bulan. Meski sudah bekerja, penghasilannya sebagian besar habis untuk memenuhi kebutuhan hidup di perantauan.

Ia harus membayar biaya kontrakan, makan, dan kebutuhan sehari-hari. Agar penghasilannya bertambah, pada malam hari ia kembali bekerja sebagai pengemudi ojek daring.

“Namanya merantau, jadi harus pintar mengatur uang. Yang penting bisa bertahan,” kenangnya.

Rutinitas bekerja dari pagi hingga malam dijalaninya selama kurang lebih delapan bulan. Saat itu, ia mulai merasa kehidupan di kota besar memberikan banyak pengalaman baru. Namun, harapan tersebut tidak berlangsung lama.

Pandemi Covid-19 menjadi titik balik dalam kehidupannya. Tio memutuskan pulang ke Krui dan mulai menjadi nelayan pada usia 20 tahun. Awalnya, kedua orang tuanya tidak mengizinkan karena pekerjaan ini memiliki risiko yang tinggi.

Namun, karena sulitnya mencari pekerjaan lain, ia tetap memilih melaut sebagai mata pencaharian.

“Karena sayang orang tua saja, makanya saya pulang,” ucapnya. Keputusan itu bukan sepenuhnya keinginannya, melainkan karena rasa sayang kepada keluarga.

Sekembalinya ke Krui, Tio dihadapkan pada kenyataan bahwa lapangan pekerjaan saat itu sangat terbatas. Pandemi membuat banyak sektor terdampak, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Di tengah kondisi tersebut, ia memutuskan mengikuti jejak para nelayan di kampung halamannya dengan turun ke laut untuk mencari nafkah.

Keputusan itu sempat mendapat penolakan dari kedua orang tuanya. Mereka memahami betul bahwa menjadi nelayan bukanlah pekerjaan yang mudah. Ombak besar, cuaca yang tidak menentu, hingga berbagai risiko di tengah laut selalu mengintai keselamatan.

“Orang tua sebenarnya enggak ngizinin karena risikonya besar. Tapi waktu itu memang belum ada pekerjaan lain,” tutur Tio.

Meski begitu, tekadnya sudah bulat. Sejak usia 20 tahun, ia mulai belajar memahami karakter laut, membaca arah angin, mengenali tanda-tanda keberadaan ikan, hingga mengoperasikan kapal. Pengalaman demi pengalaman membuatnya semakin terbiasa menghadapi kehidupan sebagai nelayan.

Setiap pagi sebelum matahari terbit, Tio sudah bersiap menuju pantai. Perahu yang digunakannya perlahan meninggalkan daratan, membelah ombak yang terkadang tenang, tetapi tak jarang bergulung tinggi.

Di tengah perjalanan, angin laut menerpa wajahnya, sementara aroma asin laut memenuhi udara. Namun bagi Tio, itulah rutinitas yang kini menjadi bagian dari hidupnya.

Untuk menentukan lokasi penangkapan ikan, Tio mengandalkan tanda-tanda alam serta perangkat GPS Garmin agar tidak tersesat saat berada di tengah laut.

Menjadi nelayan tentu tidak lepas dari berbagai risiko. Tio pernah mengalami badai di tengah laut yang menjadi pengalaman paling menegangkan dalam hidupnya. Saat itu, ia mengaku merasa sangat waswas dan takut. Meski demikian, pengalaman tersebut kini justru menjadi salah satu kenangan yang paling berkesan baginya.

“Lucu saja jika diceritakan kembali dengan teman, saat itu perasaan saya waswas, alhamdulillah kami kembali ke daratan dengan selamat,” ucapnya.

Meski demikian, menjadi nelayan berarti harus siap menerima ketidakpastian. Ada hari ketika ia pulang membawa hasil melimpah, tetapi tidak sedikit pula ia harus kembali dengan hasil yang jauh dari harapan. Saat musim barat tiba pada sekitar Oktober hingga Desember, ombak tinggi membuat aktivitas melaut nyaris terhenti.

“Kalau musim barat, kadang enggak bisa melaut sama sekali. Mau enggak mau harus menunggu cuaca membaik,” ujarnya.

Namun, ada salah satu pengalaman yang juga masih membekas baginya. Ketika sedang menarik tali pancing, kail yang terlepas melesat dan menancap ke kulitnya. Rasa sakit langsung menjalar, sementara posisi perahu masih jauh dari daratan. Setelah berhasil kembali ke pantai, ia harus menjalani perawatan di rumah sakit.

“Masih sakit, tapi besoknya saya tetap melaut. Kalau enggak kerja, ya enggak ada pemasukan,” katanya.

Pertama kali dalam hidupnya Tio melihat fenomena alam yang sangat cantik layaknya lampu neon berkelap kelip di lautan yang luas saat malam hari.

Sehingga permukaan laut tampak terang pada malam hari. Meski pernah pula tersengat ubur-ubur hingga mengalami pembengkakan, ia mengaku tidak pernah kehilangan rasa kagumnya terhadap laut.

Di balik wajahnya yang tenang saat mengarungi lautan, tersimpan perjalanan hidup yang penuh perubahan. Dari seorang anak yang bercita-cita menjadi polisi, merantau ke kota besar sebagai pramuniaga apartemen dan pengemudi ojek daring, hingga akhirnya kembali ke kampung halaman untuk menjadi nelayan, Tio membuktikan bahwa setiap perjalanan hidup memiliki jalannya masing-masing.

“Untuk saat ini saya mengandalkan hasil laut untuk mencukupi kebutuhan saya. Selama masih diberi kesehatan, saya akan terus bekerja,” tuturnya.

Bagi Tio Ramonda, ombak dan laut bukanlah penghalang untuk melangkah, melainkan pengingat bahwa setiap impian membutuhkan keberanian untuk diperjuangkan.

Laut mungkin tidak selalu memberikan hasil yang pasti, tetapi kerja keras, ketekunan, dan rasa syukur selalu menjadi bekal untuk menatap hari esok yang lebih baik. [[Natasya Deswita/Thalisa Artanti Hasan/Rahma Putri Sanjaya/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda