Risya Duarsa
Wartalampung.id, Krui – “Jangan takut untuk mencoba. Mungkin hari ini kamu hanya melihat orang lain menari, tapi siapa tau besok giliranmu bersinar di atas panggung. Beranilah melangkah, karena setiap penari hebat juga pernah memulai dari langkah pertama.” (Risya Duarsa)
Risya Duarsa, seorang anak perempuan yang berasal dari Tenumbang, Kabupaten Pesisir Barat. Ia telah memasuki dunia tari sejak umur 11 tahun, dan saat ini telah hapal lebih dari 20 tarian.
Di umur 11 tahun, Risya masih menduduki bangku kelas 5 SD, dan disinilah perjalanan tari seorang Risya Duarsa dimulai. Dimulai dari ajakan sang guru
Risya bersemangat, perasaan menggebu-gebu terasa dalam dirinya. Sontak, dia mengajukan diri dalam kegiatan tari di SDN 49 itu.
Sejak hari itu, Risya mulai berlatih menari, untuk pertama kali, dia akan membawakan tarian muli ngantak pengasan. Latihan di tengah lapangan SDN 49, dengan cahaya matahari yang menyengat sampai ke tulang, namun tetap asri dikelilingi pepohonan di pinggir-pinggir lapangan.
Risya mulai meliukkan badannya, dimulai dari liukan pinggang untuk memulai tarian, dan dilanjut liukan tangan kanan dan kiri.
Untuk kali pertama, Risya masih merasa kurang percaya diri, karena dia berdiri bersama teman-temannya yang memang sudah lebih dulu menekuni dunia tari.
Semangat, juga rasa kurangnya percaya diri menghantui pikiran Risya.
“Bagaimana kalau pas tampil nanti, gerakanku salah?” Kalimat itu berulang-ulang kali terlintas di pikiran Risya.
Untuk pertama kali tampil, dan dia ditunjuk sebagai ratu dalam tarian tersebut. Tanggung jawab yang berat yang dipikul oleh Risya. Membanggakan orang tua, membanggakan pelatih, juga menjaga suasana hati rekan-rekan seperjuangan dengan tidak ada salahnya gerakan.
Namun, kekhawatiran Risya benar-benar terjadi, saat tampil membawa tarian muli ngantak pengasan, Risya buyar di pertengahan tarian, ia tidak tahu apa yang selanjutnya harus dilakukan. Liukan tangankah? Putaran badankah? Atau berbalik ke belakang?
Kesalahan-kesalahan kecil itu terus berulang selama karier seorang Risya Duarsa di dunia tari. Kesalahan yang membuatnya belajar untuk lebih baik ke depannya.
Beberapa bulan kemudian, Sanggar Seni Umbul Dalom didirikan tepatnya di sekitaran rumah Risya, yakni Tenumbang. Risya memutuskan bergabung.
Pada awal-awal saat sanggar seni tersebut didirikan, banyak perkataan kurang pantas untuk diucapkan orang sekitar.
“Masih kecil, udah mamer-mamerin bentuk tubuh.”
“Nari itu cuma buat kecentilan, aurat diumbar-umbar.”
Perkataan tersebut sampai ke kuping Risya dan rekan penarinya, mereka kesal juga sedih mendengarnya.
Menghiraukan perkataan tersebut, Risya dan rekan terus berlatih. Mereka ingin mengembangkan potensi diri dan juga mewariskan budaya.
Saat duduk di SMPN 2 Krui, ia bergabung dengan Sanggar Seni Alam Gemisekh. Sama seperti saat SD, Risya sering tampil pada acara-acara pernikahan untuk menari, dan sering diundang sebagai perwakilan sekolah untuk menampilkan tarian.
Pada masa SMP itulah ia dan teman-temannya diminta ikut lomba jelang HUT RI di kantor pemda. Risya bersama 5 rekannya, Kaffa, Jendia, Khafid, Nanda, dan Faiza berlatih setiap hari untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Risya dan rekannya berlatih ditemani alunan musik tarian bedana juga hembusan angin yang membuat mereka semakin fokus untuk berlatih.
Dimulai dari menghapalkan gerakan, menyelaraskan gerakan, dan membuat variasi variasi yang membuat tarian akan semakin unik dengan pola lantai yang berbeda-beda. Mereka bertukar posisi, dari ujung kanan ke ujung kiri, depan ke belakang, serong kanan serong kiri, terus berulang.
Latihan dari pagi menjelang siang sampai pulang sekolah, Risya merelakan waktu belajar nya tersita untuk berlatih, mengorbankan tenaga yang ia miliki untuk berlatih, selama kurang lebih 2 minggu.
Hari perlombaan tiba, Risya dan rekannya memakai baju berwarna hijau, dengan kain yang membentang di belakang menyerupai pengantin, aksesoris kepala berwarna emas, juga gelang, kalung, dan anting yang menambah keindahan.
Risya dan rekan-rekannya menginjakkan kaki di panggung. Alunan musik terdengar, hentakkan kaki, putaran badan, liukkan tangan terlihat.
gerakan mereka selaras, kompak, dan lugas.
Saat tampil, pikiran Risya berputar, teringat dengan gerakan-gerakan salah yang sering dia lakukan, takut hal tersebut terulang pada saat itu. Namun, Risya tetap santai, mengikuti irama dan percaya bahwa dirinya bisa menaklukkan tarian ini.
Tidak disangka, alunan musik berakhir, mereka tampil dengan sangat hebat, tanpa ada kesalahan dalam gerakan. Akhirnya juara II pun diraih.
Risya memegang teguh sebuah prinsip selama dia berada di dunia tari, bahwa “Aku menari, untuk diriku. Siapa lagi yang mau melestarikan tarian jika bukan aku? Masih adakah orang di luar sana yang semangatnya sepertiku. Selagi aku bisa, kenapa tidak?”
Saat alunan musik terdengar, hentakan kaki terasa, liukan tangan terlihat, dan putaran tubuh yang indah menyejukkan mata, saat itulah tarian terasa sangat perlu untuk tetap dilestarikan.
Indonesia amat kaya dalam keragaman, beribu-ribu tarian yang ada. Risya ingin terus berlatih sepanjang hari untuk melestarikan tarian Indonesia. [Fahmi Irwanda/Sheryn Sherika/Kayla Sabira/Nadia Enjel]

Tinggalkan Komentar Anda