Pesisir Barat

Mustika Putri Auli: Ikhtiar Cita-Cita Jadi ASN, Kini Bekerja sembari Kuliah di Universitas Terbuka

Mustika Putri Auli: Ikhtiar Cita-Cita Jadi ASN, Kini Bekerja sembari Kuliah di Universitas Terbuka

Mustika Putri Auli (tengah)

Wartalampung.id, Krui – Mustika Putri Auli, atau yang akrab disapa Tika, lahir dan tumbuh di Pesawaran. Kini Tika tinggal di Kampung Jawa, Pesisir Barat.

Saat ini Tika menginjak usia 22 tahun. Hidupnya berjalan tenang namun penuh perubahan.

Dahulu ia pernah bekerja di sebuah dinas pemerintahan. Namun, jalan tak selamanya lurus. Jabatan yang ditempatinya kemudian dihapuskan dan berubah menjadi formasi P3K.

Sudah beberapa kali Tika mendaftar CPNS, namun belum diterima. Meski begitu, semangatnya tak pernah luntur. Karena itulah akhirnya ia melangkah ke tempat kerjanya sekarang menjadi kasir sebuah toko kue sambil terus berjuang meraih cita-cita yang diimpikan.

Bagi Tika, bekerja memiliki makna sederhana namun tulus: mencari nafkah untuk membantu kebutuhan keluarga dan memenuhi kebutuhannya, terutama saudara-saudaranya yang masih bersekolah.

Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Kakak tertuanya, Fiki yang berusia 27 tahun, telah bekerja di bidang perkantoran, Bandar Lampung.

Adik laki-lakinya, Bagas, yang saat ini berusia 15 tahun masih menempuh pendidikan di bangku SMK. Ayahnya, Agus, bekerja sebagai wiraswasta, sedangkan ibunya, Eka, adalah seorang ibu rumah tangga.

Di sela kesibukan bekerja, Tika juga menempuh pendidikan sarjana di Universitas Terbuka ( UT) dalam program studi Manajemen. Perjalanan pendidikannya berjalan berurutan: dimulai dari TK Al-Hutob, kemudian melanjutkan ke SD Negeri 7 Kampung Jawa, SMP Negeri 2 krui, hingga SMA Negeri 1 Pesisir Tengah.

Kini masa perkuliahannya baru berjalan sekitar satu tahun, dan diperkirakan akan selesai dalam empat tahun mendatang.

Ia memilih Universitas Terbuka karena jadwal perkuliahannya seimbang dengan jam kerja, sehingga dapat menimba ilmu sekaligus memperoleh pengalaman kerja secara langsung. Beban perkuliahan terasa tidak terlalu berat, memungkinkannya membagi waktu dengan baik antara pekerjaan dan studi.

Tika diterima bekerja di tempatnya sekarang melalui jalur penerimaan terbuka. Jumlah gaji yang ia terima dapat mencukupi kebutuhan pribadi sekaligus membantu keluarga.

Gaji pertamanya langsung disisihkan untuk membayar biaya uang kuliah tunggal (UKT) berupa Rp1.300.000. Perpindahan tempat kerja tidak membuat hatinya tertekan; justru karena banyak rekan yang juga terdampak perubahan status di lingkungan Pemda, ia merasa tidak menjalani perubahan itu sendirian.

Di toko, Tika hanya bekerja sebagai kasir. Teman-temannya yang berkeahlian membuat kue bernama Mira dan Lia. Tika telah mencoba seluruh menu yang dijual, dan menu favoritnya jatuh pada sosil solo serta kue pisang.

Sosil solo juga menjadi menu yang paling terjangkau sekaligus paling laku diminati pembeli. Sebaliknya, menu dengan harga tertinggi meliputi burger, barang titipan, kue keju, serta aneka minuman seperti kopi dan susu kurma yang ternyata menjadi jenis minuman yang paling banyak dicari pembeli.

Jam kerjanya berjalan teratur. Toko biasanya paling ramai pada jam istirahat pukul dua belas siang dan saat jam pulang kerja pukul tiga sore. Setiap harinya Tika dapat melayani sekitar 50 hingga 70 orang pembeli.

Pada hari awal bulan, barang dagangan cenderung paling cepat habis; terkadang pukul empat sore sudah ludes sepenuhnya, dan paling lambat pukul enam sore sedikit lewat.

Saat itulah momen yang paling menyenangkan bagi Tika, karena tugas selesai lebih awal dan ia dapat segera pulang ke rumah. Setiap hari Jumat pun ada kegiatan istimewa yang dinamakan Jumat Berkah, di mana menu Sosil Solo dibagikan secara cuma-cuma kepada mereka yang membutuhkan.

Upaya promosi dilakukan melalui media sosial. Banyak pembeli yang datang kembali secara rutin, mulai dari pelajar, pekerja kantoran, hingga mantan rekan-rekan dari lingkungan pemda yang dulu dikenalnya.

Pernah pula datang pejabat dan rekan lamanya. Dalam melayani siapa pun, Tika selalu berusaha bersikap ramah, sopan, dan menempatkan diri sewajarnya.

Ia menyapa pembeli dengan sebutan “Mbak” agar terasa lebih akrab dan hangat. Cara pembayarannya pun beragam, dapat melalui dompet digital maupun pemindahan dana.

Bekerja di tempat ini terasa nyaman baginya. Tidak ada penipuan, tidak ada kecurangan, segala sesuatu berjalan secara jujur dan terbuka. Fasilitas yang tersedia pun cukup mendukung, terdapat sambungan internet, tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja, serta hubungan yang akrab dengan pimpinan.

Jika Tika sedang sakit, sudah ada pengganti yang siap membantu. Apabila terjadi kesalahan pesanan, para pembeli ternyata bersikap baik dan tetap tenang. Ketika toko sedang sangat ramai, seringkali ada rekan yang ikut membantu melayani pembeli. Setiap hari Minggu menjadi hari liburnya sepenuhnya.

Tentu tidak selalu berjalan tanpa halangan. Pernah Tika ditegur oleh pimpinannya karena melakukan kesalahan dalam pekerjaan — sesuatu yang ia jadikan pelajaran berharga.

Jika terdapat kue yang hasil pembuatannya kurang baik, pihak pengelola akan memperbaikinya dan meningkatkan kualitas pada kesempatan berikutnya. Kesalahan yang berjanji tidak akan diulanginya adalah lupa mempromosikan produk; kini ia telah menyusun jadwal rutin untuk membagikan informasi produk setiap hari setelah toko dibuka.

Tika memang belum mampu membuat kue sendiri, hal itu merupakan keahlian khusus teman-temannya. Namun ia berusaha menjadi petugas kasir yang teliti, ramah, dan dapat diandalkan.

Apabila suatu saat toko tutup, hal yang paling akan dirindukannya adalah kegiatan melayani para pembeli sapaan dan kehadiran merekalah yang membuat hari-harinya terasa berwarna.

Di sela waktu luang, hobi sederhana Tika adalah berolahraga, seperti berjalan cepat atau lari pagi. Setiap pagi, jika tidak ada halangan atau kegiatan lain, ia berangkat berolahraga sekitar pukul tujuh pagi, menempuh jarak rata-rata lima kilometer dari arah tempat tinggalnya hingga ke daerah Walur.

Selain itu, ia gemar membaca mulai dari novel seperti Santri Pilihan Bunda, hingga cerita-cerita yang ada di aplikasi Wattpad.

Kata-kata bermakna yang dibacanya sering kali menjadi penyemangat ketika rasa lelah mulai datang. Lagu yang sering didengarkan untuk menguatkan hati antara lain karya Tulus, lagu berjudul Teh Hijau, serta lagu yang berjudul Semua Jomblo Dirayakan.

Kesehariannya berjalan sederhana. Ia bangun sekitar pukul lima atau enam pagi, membereskan rumah, kemudian berangkat bekerja.

Pulang sekitar pukul enam sore, makan malam, membersihkan diri dan lingkungan rumah, lalu beristirahat sekitar pukul sebelas malam. Hubungannya dengan keluarga terjalin hangat, terutama saat anggota keluarga yang lain pulang ke rumah.

Saat ini Tika belum memiliki rencana untuk membentuk keluarga. Cita-citanya tetap menjadi orang yang sukses, dan untuk itu ia bertekad untuk terus mendaftar seleksi CPNS.

Di samping itu, ia juga memiliki keinginan untuk turut mengembangkan usaha tempatnya bekerja saat ini, meskipun belum terbayang untuk mendirikan usaha kue sendiri.

Ia juga pernah ikut berjualan pada bazar bulan Ramadan yang berlokasi di depan kantor Pemda, pengalaman yang ternyata menambah wawasan sekaligus memperluas pergaulannya.

Kepada siapa saja yang sedang berjuang serupa dengannya bekerja sekaligus menuntut ilmu Tika menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna: “apa yang sudah dimulai, hendaknya diselesaikan”.

Jangan berhenti di tengah jalan hanya karena belum berhasil sekali atau dua kali. Tetaplah melanggar, nikmati setiap proses yang dijalaninya, dan yakini bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan tekun akan membawa semakin dekat kepada apa yang diimpikan.

Tika adalah satu dari sekian banyak pemuda yang tidak menunggu kesempatan datang ia melanggar mencarinya, sambil membawa harapan keluarga dan semangat belajar yang tak pernah padam. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda