Bandar Lampung

DPRD Lampung Buka Pelatihan Leadership Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia

DPRD Lampung Buka Pelatihan Leadership  Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia

Yanuar Irawan (tengah) buka Leadership Education Program 2026 di UTI. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Mewakili Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar, Ketua Komisi V DPRD Lampung Yanuar Irawan hari ini membuka dan menjadi narasumber pada Leadership Education Program 2026 gelaran Universitas Teknokrat Indonesia hari ini di Gelanggang Mahasiswa Dr HM Nasrullah Yusuf kampus setempat.

Yanuar memaparkan empat kompetensi inti pemimpin muda: Kolaboratif, Adaptif, Peka Peluang, dan Berjejaring Luas.

Kepemimpinan hari ini tidak lagi cukup dibangun di atas kecerdasan intelektual semata. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, seorang pemimpin, apa pun skalanya, organisasi kampus, komunitas, hingga lembaga negara, dituntut memiliki empat kompetensi yang saling menopang; kemampuan bekerja sama secara kolaboratif, sikap adaptif terhadap perubahan, kepekaan dalam memanfaatkan peluang, dan keluasan relasi yang dibangun secara sehat.

Keempat kompetensi ini bukan teori yang berdiri sendiri-sendiri. Ilmuwan kepemimpinan Ronald Heifetz dari Harvard Kennedy School, dalam kerangka besar yang dikenal sebagai Adaptive Leadership, menegaskan bahwa tantangan zaman modern umumnya adalah adaptive challenges, persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan solusi teknis lama, melainkan menuntut perubahan pola pikir, kolaborasi lintas pihak, dan kemauan menavigasi hal-hal baru.

Materi ini akan membedah keempat kompetensi tersebut satu per satu: definisinya, dasar teorinya, contoh penerapannya dalam praktik kebijakan publik, serta bagaimana mahasiswa dapat mulai melatihnya sejak di bangku kuliah.

Kerja sama kolaboratif adalah kemampuan menyatukan berbagai pihak dengan kepentingan, latar belakang, dan cara pandang yang berbeda, untuk mencapai tujuan bersama yang tidak dapat dicapai sendirian.

Stephen R. Covey, dalam bukunya yang menjadi rujukan klasik ilmu kepemimpinan, menyebut prinsip ini sebagai sinergi. Kebiasaan ketujuh dari tujuh kebiasaan manusia yang sanga efektif, yaitu prinsip di mana keseluruhan hasil kerja sama jauh lebih besar daripada jumlah kontribusi masing-masing individu.

”Sinergi adalah aktivitas tertinggi dalam kehidupan; ujian sekaligus wujud nyata dariseluruh kebiasaan lainnya yang bekerja bersama.” (Stephen R. Covey, The 7 Habits of Highly Effective People)

Dalam proses legislasi di DPRD, tidak ada satu Peraturan Daerah pun yang lahir dari satu tangan. Ia adalah hasil dialog panjang antara eksekutif, legislatif, akademisi, dan masyarakat sipil. Perdebatan lintas fraksi yang tajam, jika dikelola dengan semangat kolaborasi, justru menghasilkan kebijakan yang lebih matang dan lebih mudah diterima oleh semua pihak.

  • Kolaborasi menuntut kemampuan mendengar sebelum berbicara.
  • Kolaborasi menuntut kesediaan mendudukkan perbedaan pada tempatnya, bukan menghindarinya.
  • Kolaborasi yang sehat selalu berorientasi pada tujuan bersama yang lebih besar dari ego kelompok.

Filosofi lokal Lampung sendiri, Sang Bumi Ruwa Jurai, sesungguhnya berbicara hal yang sama, kebersamaan di tengah keberagaman dua unsur masyarakat adat yang berbeda. Ini adalah modal budaya yang bisa menjadi rujukan praktik kolaborasi di daerah kita sendiri.

Adaptif berarti kemampuan menyesuaikan cara berpikir dan bertindak ketika situasi berubah, tanpa kehilangan arah dan nilai inti. Ronald Heifetz dan Marty Linsky, dalam buku Leadership on the Line, membedakan dua jenis persoalan.

Technical problems yang dapat diselesaikan dengan pengetahuan dan prosedur yang sudah ada, dan adaptive challenges yang menuntut pembelajaran baru, perubahan pola pikir, bahkan perubahan nilai dan kebiasaan lama.

Dunia kebijakan publik adalah dunia yang penuh ketidakpastian. Regulasi berubah, kebutuhan masyarakat bergeser, krisis datang tanpa pemberitahuan. Tugas seorang pembuat kebijakan bukan hanya mengesahkan aturan, tetapi memastikan aturan itu tetap relevan ketika keadaan berubah.

Sikap adaptif inilah yang membuat sebuah kebijakan tetap hidup dan bermanfaat, bukan sekadar dokumen yang usang begitu ditandatangani.

Bagi mahasiswa, sikap adaptif dapat dilatih dari hal-hal sederhana; keberanian mencoba peran baru dalam organisasi, keterbukaan menerima kritik, dan kemauan mempelajari hal-hal di luar bidang studi utama. Latihan-latihan kecil inilah yang membentuk daya tahan besar ketika kelak memegang tanggung jawab yang jauh lebih besar.

Memanfaatkan peluang adalah kemampuan mengenali momentum yang tepat, lalu bertindak sebelum momentum itu berlalu. Malcolm Gladwell, dalam bukunya Outliers, menunjukkan melalui berbagai riset bahwa kesuksesan besar jarang lahir semata dari bakat, melainkan dari pertemuan antara kesiapan seseorang dan peluang yang muncul pada momen yang tepat.

Banyak orang menunggu peluang datang dalam bentuk yang sempurna dan mudah dikenali. Padahal, peluang paling besar sering kali datang dalam bentuk yang tidak nyaman: tugas yang berat, forum yang menantang, atau situasi yang penuh risiko.

Provinsi Lampung sendiri berada pada titik strategis; posisi geografis sebagai gerbang Sumatera, potensi sektor pertanian dan kemaritiman yang besar, serta bonus demografi anak muda yang sedang berada pada puncaknya.

Ini adalah peluang nyata yang harus disambut dengan kesiapan, bukan ditunggu dengan pasif.

  • Peluang perlu dikenali lebih dulu, bukan menunggu ditawarkan.
  • Kesiapan dibangun jauh sebelum peluang itu datang, melalui kompetensi yang terus diasah.
  • Keberanian mengambil risiko terukur adalah bagian tak terpisahkan dari memanfaatkan peluang.

Relasi yang luas bukan sekadar soal memiliki banyak kenalan. Reid Hoffman, salah satu pendiri LinkedIn, dalam bukunya The Start-up of You, memperkenalkan konsep bahwa setiap individu pada dasarnya adalah pengelola jaringannya sendiri, dan relasi yang sehat dibangun dari kepercayaan yang terus-menerus dipupuk, bukan sekadar koneksi yang dikumpulkan.

Dalam tugas legislasi sehari-hari, jaringan yang luas dan sehat memungkinkan aspirasi masyarakat sampai ke meja kebijakan, dan sebaliknya, memungkinkan kebijakan itu kembali dikomunikasikan secara utuh kepada masyarakat.

Relasi yang baik membuka pintu, mempertemukan gagasan, dan memperbesar dampak dari apa pun yang dikerjakan.

  • Relasi yang bermakna dibangun dengan memberi manfaat lebih dulu, sebelum meminta manfaat.
  • Konsistensi dan kejujuran adalah fondasi kepercayaan jangka panjang dalam berjejaring.
  • Relasi lintas kampus, lintas daerah, bahkan lintas negara adalah investasi yang nilainya terasa bertahun-tahun ke depan.

Keempat kompetensi ini tidak berdiri sendiri-sendiri. Kolaborasi yang baik membutuhkan relasi yang sudah dibangun.

Relasi yang luas memperbesar peluang yang bisa dilihat dan diraih. Peluang yang diraih menuntut sikap adaptif agar dapat dieksekusi di tengah perubahan. Dan sikap adaptif yang matang justru lahir dari pengalaman berkolaborasi dengan berbagai pihak yang berbeda cara pandang.

Kuliah di Teknokrat dengan mengakses spmb.teknokrat.ac.id. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda