Gufron Azis Fuadi
Sebutan “Londo Ireng” sedang ngetren atau viral. Sebabnya karena istilah ini digunakan oleh Presiden Prabowo dalam pidatonya pada bulan Juli 2026 lalu sebagai metafora untuk menyindir pihak lokal seperti pengamat, jurnalis, atau anggota LSM yang dianggapnya bekerja demi kepentingan atau pendanaan dari pihak asing.
Londo Ireng mulanya adalah sebutan untuk 3.000-an tentara bayaran dari Ghana dan Burkina Faso, Afrika yang dibawa Belanda ke Jawa untuk menggantikan ribuan pasukan kulit putih dan pribumi yang terbunuh dalam perang Diponegoro (1825-1830). Kemudian dibawa untuk perang Paderi dan perang Aceh.
Belakangan sebutan Londo Ireng (Zwarte Hollanders) tidak hanya untuk mereka tetapi untuk para pribumi yang memihak Belanda.
Mengapa orang Jawa menyebut Belanda dengan Londo? Awalnya dari nenek moyangnya Cristiano Ronaldo, orang Portugis yang lebih dahulu tiba di Jawa, mereka menyebut orang Belanda (Hollanda) a Olanda.
Karena penyebutan ini terasa sulit dilidah Jawa, maka terjadilah proses aferesis (peluluhan atau penghilangan bunyi di awal kata). Sehingga a Olanda atau Holanda berubah menjadi Landa (dialek Banyumasan) dan Londo (dialek Mataraman).
Kembali ke Londo Ireng yang sedang viral. Karena, mungkin, kurang terima dengan metafora tersebut di atas maka mulai dikuliklah silsilah Prabowo yang ternyata nasabnya melalui jalur ibu ternyata adalah seorang Londo Ireng, yakni Benjamin Thomas Sigar.
Berdasarkan catatan sejarah Minahasa, Benjamin Thomas Sigar merupakan tokoh asal Langowan yang ditunjuk menjadi kapiten (pemimpin) Hulptroepen atau Pasukan Tulungan, semacam pasukan bayaran (kontrak) yang membantu (menolong) tentara KNIL Belanda.
Dalam catatan sejarah, Thomas Sigar dikirim ke pulau Jawa tahun 1829 untuk membantu Belanda melawan pasukan Diponegoro. Kemudian kembali ke Minahasa setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dan perang usai.
Dari jalur ibu, jelas Prabowo adalah keturunan Londo Ireng. Tetapi uniknya, melalui jalur ayah, silsilahnya nyambung ke salah satu panglima nya Pangeran Diponegoro, yaitu panglima Banyak Wide.
Adalah Raden Tumenggung Kertanegara yang dikenal luas dalam sejarah sebagai Panglima Banyak Wide (Eyang Banyak Wide). Beliau adalah kakek buyut dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo (pendiri Bank BNI sekaligus ayah dari Sumitro).
Silsilah ini juga sering menjadi candaan di internal keluarga. Istri Sumitro, Dora Marie Sigar (ibu dari Presiden Prabowo Subianto), berasal dari Minahasa dan memiliki leluhur bernama Toean Sigar yang tercatat membantu pasukan Belanda (pimpinan Jenderal De Kock) selama Perang Jawa.
Sumitro sering menggoda istrinya dengan gurauan bahwa pernikahan mereka adalah “hukuman sejarah” karena keturunan pembela Diponegoro akhirnya menikah dengan keturunan pendukung Belanda. Dan Prabowo adalah keturunan keduanya.
Oleh karenanya, ada baiknya para pembisik Prabowo mencarikan istilah istilah yang baik dan membangun, bukan istilah yang provokatif dan memecah belah. Serta tentu saja informasi yang benar saat akan berpidato. Jangan sampai seperti kata pepatah, “menepuk air di dulang terpercik muka sendiri.”
Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Tinggalkan Komentar Anda