Bandar Lampung

Wisuda Universitas Teknokrat Indonesia, 3 Wisudawan Sampaikan Orasi dalam 3 Bahasa

Wisuda Universitas Teknokrat Indonesia, 3 Wisudawan Sampaikan Orasi dalam 3 Bahasa

Orasi ilmiah tiga bahasa wisudawan Universitas Teknokrat Indonesia. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Lazim dalam wisuda di Universitas Teknokrat Indonesia adalah orasi ilmiah dalam tiga bahasa. Tiga lulusan terbaik menyampaikan orasi dalam tiga bahasa.

Kali ini mereka adalah David Oktvianus (Terbaik/MBI /FSIP) dalam bahasa Inggris, Risma Oktaviani (Teladan 1/Informatika/FTIK) dalam bahasa Lampung, dan Yolanda Mutiara (Terbaik 3/Manajemen/FEB) bahasa Indonesia. Wisuda diadakan kemarin di Gelanggang Mahasiswa Dr HM Nasrullah Yusuf kampus setempat.

Berikut resume orasi ilmiah dalam tiga bahasa itu.

Dunia yang kita masuki hari ini bukan lagi dunia yang stabil dan dapat ditebak. Kecerdasan buatan menulis kode, mendiagnosis penyakit, dan menyusun laporan keuangan dalam hitungan detik.

Batas antara pekerjaan manusia dan mesin terus bergeser, dan tidak ada satu profesi pun yang benar-benar kebal dari perubahan ini.

Forum Ekonomi Dunia dalam laporannya tahun 2025 mencatat bahwa para pemberi kerja memperkirakan 39 persen keterampilan inti yang dibutuhkan pasar kerja akan berubah pada tahun 2030.

Namun kabar baiknya, laporan yang sama juga memproyeksikan terciptanya 170 juta lapangan kerja baru secara global, dengan 92 juta posisi mengalami pergeseran, sehingga menghasilkan penambahan bersih 78 juta pekerjaan pada dekade ini.

Artinya, disrupsi bukanlah akhir dari kesempatan, melainkan pemindahan kesempatan, dari mereka yang berhenti belajar kepada mereka mau yang terus bertumbuh.

Futuris Alvin Toffler pernah menulis dalam buku Future Shock, bahwa buta huruf di abad ini bukan lagi soal tidak bisa membaca dan menulis, melainkan soal ketidakmampuan untuk belajar, melepaskan yang usang, dan belajar kembali.

Kalimat itu ditulis lebih dari lima dekade lalu, namun hari ini terasa seperti ditujukan langsung kepada kita, para lulusan tahun 2026.

Zaman tak pernah menunggu yang ragu untuk siap, ia hanya merangkul yang berani berubah dan tak gentar oleh gelap.

Universitas Teknokrat Indonesia telah menempa kita bukan sekadar untuk lulus, tetapi untuk berdampak. Ini selaras dengan arah kebijakan pendidikan tinggi nasional yang bertransformasi dari Kampus Merdeka menuju Kampus Berdampak. Sebuah pergeseran dari partisipasi menuju kontribusi nyata dan terukur.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi menegaskan bahwa kampus berdampak adalah kampus yang tidak hanya menghasilkan lulusan, publikasi, dan peringkat global, tetapi juga kampus yang mentransformasi kehidupan masyarakat, menjadi pusat solusi nyata, motor inovasi sosial-ekonomi berkelanjutan, sekaligus mediator kolaborasi antarpihak.

Perguruan tinggi, dengan kata lain, dituntut menjadi mercusuar peradaban — bukan menara gading yang berjarak dari persoalan rakyat.

Selama menempuh pendidikan di UTI, kita tidak hanya diajar untuk menghafal teori. Kita dilatih menyelesaikan studi kasus nyata, magang di industri, membangun proyek berbasis masalah, dan berkolaborasi lintas disiplin.

Semua itu adalah latihan untuk satu tujuan: memastikan bahwa ijazah yang kita genggam hari ini bukan sekadar bukti kelulusan, melainkan surat sanggup untuk berkontribusi.

Tiga Tantangan, Tiga Panggilan

Di hadapan kita terbentang setidaknya tiga tantangan besar zaman yang menuntut jawaban dari generasi lulusan Teknokrat.

Pertama, disrupsi teknologi dan kesenjangan keterampilan. Otomatisasi dan kecerdasan buatan tumbuh secepat kilat, sementara banyak institusi dan tenaga kerja tertinggal dalam adaptasi.

Di sinilah lulusan UTI yang akrab dengan teknologi sejak bangku kuliah, memiliki kompetensi untuk menerjemahkan teknologi menjadi solusi yang dapat dijangkau oleh UMKM, sekolah, dan masyarakat di sekitar kita, bukan hanya dinikmati oleh segelintir korporasi besar.

Kedua, tantangan sosial dan ekonomi lokal. Di luar kampus, kita dikelilingi persoalan nyata: pendidikan yang belum merata, UMKM yang kesulitan naik kelas, layanan publik yang belum optimal.

Kampus Berdampak menuntut kita hadir di ruang-ruang itu, melalui pengabdian masyarakat, kewirausahaan, atau inovasi sederhana yang menjawab kebutuhan riil warga Lampung dan Indonesia.

Ketiga, krisis kepercayaan dan karakter di tengah arus informasi. Ledakan informasi digital membawa serta disinformasi dan polarisasi. Ilmu yang kita pelajari harus disertai integritas, karena kompetensi tanpa karakter hanya akan mempercepat kerusakan, bukan perbaikan.

Nelson Mandela pernah berkata bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Kita, para lulusan, kini memegang senjata itu. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu, tetapi untuk apa kemampuan itu kita gunakan.

Dari Ijazah Menuju Dampak Nyata

Dampak nyata itu tidak harus dimulai dari hal yang besar. Dampak tersebut bisa dimulai dari:

  • Solusi digital sederhana yang membantu pedagang pasar mencatat keuangan dan memasarkan produknya secara daring;
  • Inisiatif literasi dan mengajar bagi anak-anak di daerah yang masih tertinggal akses pendidikannya;
  • Riset terapan dan inovasi produk yang lahir dari kolaborasi kampus dengan industri dan pemerintah daerah;
  • Rintisan usaha (startup) berbasis kampus yang menyerap tenaga kerja baru, bukan sekadar mencari pekerjaan;
  • Teladan integritas di tempat kerja maupun di tengah masyarakat — sekecil apa pun posisi kita.

Klaus Schwab, penggagas gagasan Revolusi Industri Keempat, pernah menegaskan bahwa arah teknologi bukanlah takdir yang sudah baku. Pilihan ada di tangan kita, tergantung kebijakan dan keputusan yang kita ambil.

Masa depan Indonesia di era disrupsi ini tidak ditentukan oleh algoritma, melainkan oleh keberanian lulusan-lulusan seperti kita untuk memilih menjadi bagian dari solusi.

Jika wisuda adalah pintu, apakah kita akan melangkah maju, atau berdiri mematung menatap ambang pintu itu?

Jika ilmu adalah pelita, sudahkah kita berani menyalakannya di tempat yang paling gelap? Di desa yang belum terjangkau internet, di pasar yang belum tersentuh digitalisasi, di sekolah yang kekurangan guru?

Jika dunia berubah secepat detak jantung zaman, apakah kita akan menjadi penonton yang mengeluh, atau pemain yang menulis babak baru?

Dan jika kelak ditanya, “Apa yang telah kau perbuat untuk bangsamu setelah menyandang gelar itu?”  jawaban seperti apa yang ingin kita berikan?

Hari ini kita menutup satu bab, tetapi membuka bab yang jauh lebih menantang: bab di mana ilmu yang kita peroleh diuji oleh dunia nyata.

Marilah kita bawa semangat Kampus Berdampak ini keluar dari gerbang Universitas Teknokrat Indonesia. Bukan sebagai slogan, melainkan sebagai cara kita bekerja, berkarya, dan mengabdi selama bertahun-tahun ke depan.

Kepada kedua orang tua, terima kasih atas doa yang tidak pernah padam. Kepada para dosen, terima kasih telah menjadi suluh di tengah jalan yang kelam. Dan kepada seluruh wisudawan-wisudawati: mari kita jemput masa depan, dengan bekal ilmu dan keberanian.

Sebab ijazah bukanlah muara, melainkan mata air yang baru mengalir.

Gelar bukanlah menara, melainkan tangga menuju langit yang lebih tinggi untuk kita daki bersama.

Zaman boleh berubah dengan cepat dan liar,

tapi karakter yang kokoh takkan pernah tergusur oleh zaman yang gemar berputar.

Disrupsi boleh datang menggoyang dan menguji,

tapi lulusan Teknokrat akan berdiri, beradaptasi, dan tetap berbakti.

Mari kita jadi lentera, bukan sekadar penerima cahaya.

Mari kita jadi solusi, bukan sekadar saksi dari masalah yang ada di depan mata.

Dari Lampung untuk Indonesia, dari kampus Teknokrat untuk dunia

Selamat berjuang, selamat berdampak, selamat mengukir cerita masa depan. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda