Opini

Bahasa Prancis Bukan Sekadar Tabel Konjugasi

Bahasa Prancis Bukan Sekadar Tabel Konjugasi

Indah Nevira Trisna

Oleh Indah Nevira Trisna, Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila

Pembelajaran bahasa Prancis sering kali berfokus pada hafalan rumus-rumus gramatikal dan tabel konjugasi. Akibatnya, mahasiswa memahami aturan gramatikal sebatas pola dan rumus, bukan sebagai alat komunikasi. Kondisi ini turut memengaruhi respons mahasiswa di dalam kelas.

Mereka cenderung pasif, takut melakukan kesalahan, serta mengalami kesulitan ketika harus menganalisis struktur kalimat. Pada akhirnya, aturan gramatikal yang telah dipelajari sulit diterapkan dalam konteks komunikasi nyata.

Persoalan utamanya sebenarnya bukan terletak pada hafalan tabel konjugasi, melainkan pada lemahnya pemahaman terhadap struktur bahasa. Salah satu situasi yang kerap saya temui di kelas adalah mahasiswa mampu menghafal rumus konjugasi, tetapi masih bingung menentukan mana subjek, kata kerja, maupun pelengkap dalam sebuah kalimat kompleks.

Padahal, subjek dalam bahasa Prancis tidak selalu berupa kata ganti orang seperti je, tu, il, atau elle, tetapi juga dapat berupa kata benda atau frasa tertentu yang berfungsi sebagai subjek kalimat.

Dalam praktik pembelajaran, berbagai metode sebenarnya telah dicoba. Pembelajaran diarahkan melalui metode inkuiri, analisis teks, diskusi kelas, latihan soal, hingga proyek berbasis video untuk mendorong penggunaan bahasa secara lebih komunikatif.

Namun, tantangan tetap muncul. Sebagian mahasiswa masih mengalami kesulitan memahami struktur dasar kalimat secara mandiri dan cenderung bergantung pada pola yang diberikan dosen.

Hal ini membuat saya menyadari bahwa pembelajaran tata bahasa bahasa Prancis membutuhkan lebih dari sekadar metode yang aktif dan menarik. Persoalannya tidak hanya terletak pada cara mengajar, tetapi juga pada kesiapan mahasiswa dalam memahami bahasa sebagai proses berpikir.

Grammaire bukan sekadar kumpulan aturan, melainkan sarana untuk memahami makna dan membangun komunikasi secara bertahap.

Pada akhirnya, pembelajaran bahasa Prancis tidak dapat hanya bergantung pada hafalan tabel konjugasi maupun metode pembelajaran yang tampak inovatif. Bahasa perlu dipahami sebagai keterampilan yang dibangun melalui pemahaman struktur, latihan analisis, keberanian mencoba, serta penggunaan dalam konteks nyata.

Sebagai pengajar bahasa Prancis, saya menyadari bahwa mengajarkan gramatikal bukan sekadar menjelaskan aturan dan memberikan latihan. Berbagai pendekatan telah digunakan, mulai dari inkuiri, tanya jawab, analisis teks, hingga proyek berbasis video.

Namun, tantangan di kelas tetap ada, terutama ketika mahasiswa belum mampu memahami struktur dasar kalimat secara mandiri.

Mungkin persoalan ini memang lebih kompleks daripada sekadar memilih metode yang dianggap menarik. Karena itu, saya merasa penting bagi sesama pengajar bahasa asing untuk saling berbagi pengalaman, strategi, dan refleksi pembelajaran.

Bisa jadi, di tengah perubahan karakter belajar mahasiswa saat ini, kita juga perlu terus belajar menemukan cara mengajar yang lebih bermakna, komunikatif, dan mampu membantu mahasiswa memahami bahasa secara lebih utuh. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda