Indah Nevira Trisna
Oleh Indah Nevira Trisna, Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila
Di ruang-ruang kelas hari ini, presentasi telah menjadi aktivitas yang sangat akrab. Mahasiswa berdiri di depan, layar menyala, dan salindia (slide) demi salindia ditampilkan. Namun, di balik rutinitas yang tampak akademis itu, tersimpan satu persoalan yang jarang disadari: presentasi sering kali kehilangan maknanya sebagai proses berpikir dan berkomunikasi.
Tayangan yang ditampilkan kerap dipenuhi teks panjang, paragraf demi paragraf yang diambil dari buku, artikel, atau sumber daring. Alih-alih menjadi alat bantu, PowerPoint justru berubah menjadi “lembar baca digital”. Mahasiswa kemudian membacakan isi slide tersebut, hampir tanpa jeda, hampir tanpa pengolahan. Audiens mendengar apa yang sebenarnya sudah bisa mereka baca sendiri.
Masalahnya bukan sekadar pada kebiasaan membaca salindia. Yang lebih mengkhawatirkan adalah absennya proses berpikir. Ketika seseorang menyalin teks ke dalam slide, ia tidak sedang memahami, melainkan memindahkan.
Tidak ada proses menyaring informasi, tidak ada upaya menyusun ulang gagasan, dan tidak ada latihan untuk menyampaikan ide dengan bahasa sendiri. Melainkan format persentasi yang hanya menyalin lalu didongengkan kepada audiens.
Fenomena ini mencerminkan cara kita memaknai presentasi yang keliru. Presentasi sering dianggap sebagai sarana “menyampaikan semua informasi”, bukan sebagai kesempatan untuk menjelaskan inti gagasan.
Akibatnya, semakin banyak teks dimasukkan ke dalam slide, semakin dianggap baik. Padahal, kepadatan informasi justru sering mengaburkan pesan utama.
Dalam praktiknya, salindia yang terlalu penuh justru melemahkan kualitas komunikasi. Penyaji menjadi bergantung pada teks, kehilangan kontak dengan audiens, dan berbicara tanpa benar-benar menguasai materi.
Sementara itu, audiens kesulitan menangkap poin penting karena harus membaca dan mendengar dalam waktu yang bersamaan. Dongeng presentasi yang dihasilkan alih-alih memperjelas apa yang disampaikan justru memperumit.
Jika ditarik lebih jauh, persoalan ini tidak sepenuhnya terletak pada mahasiswa sebagai pengguna. Ada pola yang lebih sistemik. Banyak dari kita—baik sebagai pendidik maupun pembelajar—tidak pernah benar-benar diajarkan bagaimana membuat presentasi yang efektif.
Kita lebih sering diberi tugas untuk “mempresentasikan” daripada dilatih untuk “berpresentasi”. Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi dampaknya besar.
Presentasi seharusnya dipahami sebagai proses menyederhanakan, mempermudah penyampaian untuk penyaji materi. Penggunaan kata kunci juga perlu lebih diutamakan daripada paragraf panjang.
Kata kunci berfungsi sebagai pemicu penjelasan, bukan pengganti penjelasan. Dengan kata lain, slide memberi arah, sementara penyaji memberi makna. Di sinilah keterampilan berbicara benar-benar diuji.
Selain itu, visual perlu dimanfaatkan secara lebih sadar. Gambar, diagram, atau skema yang tepat dapat membantu menjelaskan konsep dengan lebih efektif daripada teks panjang. Namun, visual bukan sekadar hiasan. Ia harus relevan dan mendukung pesan yang ingin disampaikan.
Di sisi lain, kita perlu mengembalikan fungsi slide sebagai alat bantu, bukan naskah. Ketika penyaji terlalu bergantung pada teks, ia kehilangan kesempatan untuk membangun koneksi dengan audiens. Presentasi yang baik bukan tentang seberapa banyak yang ditampilkan di layar, tetapi seberapa jelas gagasan dapat dipahami.
Perubahan ini juga perlu didukung oleh cara kita sebagai pengajar dalam menilai. Selama penilaian masih berfokus pada kelengkapan isi slide, kecenderungan untuk menumpuk teks akan tetap ada. Penilaian seharusnya lebih menekankan pada kejelasan penyampaian, struktur argumen, dan kemampuan menjelaskan dengan bahasa sendiri.
Pada akhirnya, salindia penuh teks bukan hanya soal desain yang kurang efektif, tetapi cerminan dari proses belajar yang belum tuntas. Jika kita ingin membangun generasi yang mampu berpikir kritis dan berkomunikasi dengan baik, maka kita perlu mulai dari hal yang tampak sederhana: cara kita membuat dan menggunakan salindia presentasi.
Dari slide yang lebih ringkas, kita memberi ruang bagi pikiran untuk bekerja. Melalui presentasi yang lebih hidup, kita membuka kemungkinan bagi pembelajaran yang benar-benar bermakna. []

Tinggalkan Komentar Anda