Wartalampung.id, Bandar Lampung – Suasana sore itu terasa berbeda di SMAIT Fitrah Insani Bandar Lampung. Lantunan ayat suci Alquran menggema dengan penuh kekhusyukan, menghadirkan rasa haru yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Penutupan Tasmi’ Akbar Angkatan 6 bukan sekadar agenda tahunan, melainkan menjadi momen yang menyatukan doa, perjuangan, dan rasa syukur.
Satu per satu nama peserta disebutkan bersama capaian hafalan mereka. Ada yang menyelesaikan 1 juz, 2 juz, 3 juz, hingga 8 juz. Dan di antara deretan capaian itu, nama Naura Raudhatul Jannah disebut dengan penuh kebanggaan: 30 juz.
Ketika diminta menyampaikan pesan, suara Naura terdengar tenang namun sarat emosi.
“Perjalanan menghafal 30 juz bukan perjalanan yang mudah. Ada lelah, ada hampir menyerah. Tapi setiap kali ingat tujuan awal dan doa orang tua, saya kembali kuat. Alhamdulillah, hari ini Allah izinkan saya sampai di titik ini. Semoga hafalan ini bisa terus saya jaga dan menjadi cahaya dalam hidup saya.”
Tak sedikit wali murid yang menundukkan kepala, menyeka air mata.
Perjuangan anak-anak mereka bukan hanya tentang hafalan, tetapi tentang bangun lebih awal, mengulang ayat berkali-kali, menjaga konsistensi di tengah kesibukan sekolah.
Tasmi’ Akbar Angkatan 6 mencatat capaian yang membanggakan. Dari akhwat, terdapat hafalan mulai dari 2 juz hingga 30 juz. Sementara dari ikhwan, capaian hafalan mencapai hingga 5 juz.
Setiap juz yang disetorkan adalah bukti kesungguhan dan komitmen mereka bersama Al-Qur’an.
Kepala SMAIT Fitrah Insani Bandar Lampung, Riandy Pratama, dalam sambutannya menyampaikan bahwa momen ini adalah tentang nilai yang jauh lebih besar dari sekadar angka.
“Hari ini kita tidak hanya menyaksikan capaian hafalan, tetapi menyaksikan proses panjang yang penuh kesabaran dan ketekunan.
Pihaknya bangga kepada seluruh peserta Tasmi’ Akbar Angkatan 6.
“Semoga Alquran bukan hanya dihafal, tetapi benar-benar hidup dalam diri mereka.”
Acara semakin hangat ketika kegiatan ditutup dengan buka puasa bersama. Wali murid kelas XII, seluruh peserta didik, serta bapak dan ibu guru duduk bersama dalam suasana kekeluargaan.
Tawa kecil bercampur dengan obrolan hangat, menjadi penutup manis setelah rangkaian kegiatan yang penuh makna.
Penutupan Tasmi’ Akbar ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar: menjaga hafalan, menjaga adab, dan menjaga hati agar selalu dekat dengan Alquran. [Desliyani Natalia]

Tinggalkan Komentar Anda