Bandar Lampung

Komunitas Gemar Literasi Inisiasi Melisa Bikin Gelar Wicara soal Literasi ke Luar Negeri, Anggia Indriyani Narasumber

Komunitas Gemar Literasi Inisiasi Melisa Bikin Gelar Wicara soal Literasi ke Luar Negeri, Anggia Indriyani Narasumber

Kegiatan gelar wicara literasi ke luar negeri gelaran Komunitas Gemar Literasi inisasi Melisa. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Pada Minggu, 1 Februari 2026 Komunitas Gemar Literasi mengadakan Talk Show bertajuk “Tanya Tokoh” yang bertemakan “Dari Literasi ke Luar Negeri”, yang mana komunitas tersebut diketuai oleh Melisa, dengan anggota komunitas berasal dari berbagai universitas yang di Bandar Lampung.

Melisa dan teman-temannya di gemar literasi menyadari belum terlalu mencintai literasi, akan tetapi masih mencoba untuk mencintai dunia literasi, dan berkomitmen untuk terus menumbuhkan kecintaan tersebut dan mengajak teman-temannya agar tidak berhenti belajar

Gemar Literasi mengundang Anggia Indriyani sebagai tokoh yang pernah menyelesaikan pendidikan magister di dalam negeri dan juga di luar negeri.

Anggia merupakan lulusan double degree bidang sains dengan spesialisasi Bioinformatika dan Food Engineering. Ia menuntaskan pendidikan magisternya di Jepang dengan IPK 3,97 dan meraih predikat pujian.

Dalam sesi berbagi, Anggia mengungkapkan bahwa kecintaannya pada buku telah tumbuh sejak lama, jauh sebelum ia membayangkan akan melanjutkan studi ke luar negeri. Bahkan, di rumahnya ia memiliki perpustakaan mini sebagai wujud kecintaannya terhadap literasi.

Meski kini dikenal sebagai pemuda berprestasi, perjalanan Anggia tidak selalu mudah. Ia mengaku pernah berada di titik hampir menyerah.

Namun, satu hal yang membuatnya terus melangkah adalah kesadaran untuk menyelesaikan apa yang telah ia mulai.

“Kadang yang membuat kita bertahan bukan karena kuat, tapi karena kita tahu apa yang harus diselesaikan,” ungkapnya.

Selain membaca, Anggia juga memiliki ketertarikan pada travelling. Menariknya, ia mampu mengubah hobi menjadi sesuatu yang bernilai.

Ketertarikannya pada bahasa Inggris mendorongnya membuka kelas online bahasa Inggris, sementara kegemarannya menjelajah berbagai negara ia kembangkan melalui open trip perjalanan ke luar negeri.

Dalam sesi tanya jawab, peserta menanyakan hal-hal yang perlu dipersiapkan untuk melanjutkan studi S2 ke luar negeri, termasuk bagi mereka yang pernah gagal.

Anggia menekankan pentingnya kemampuan bahasa Inggris (seperti TOEFL atau IELTS), penulisan esai, serta pemahaman mendalam terhadap jurusan dan riset yang akan dilakukan.

Bagi peserta yang pernah mengalami kegagalan, Anggia berpesan agar melakukan refleksi dan introspeksi diri. Ia juga membagikan pengalamannya sendiri yang pernah gagal.

Menurutnya, salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah tidak menyesuaikan esai dengan format dan tujuan beasiswa, serta terlalu percaya diri hingga mengabaikan evaluasi diri.

Menutup sesi, Anggia menyampaikan pesan yang menggugah kepada seluruh peserta.

“Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu tidak percaya dan yakin pada dirimu, bagaimana orang lain bisa percaya? Kalau gagal hari ini, jangan lupa benahi diri. Gagal satu kali tidak apa-apa, gagal dua kali juga tidak apa-apa. Yang tidak apa-apa adalah berhenti karena kegagalan.”

Melalui kegiatan ini, Komunitas Gemar Literasi berharap dapat terus menumbuhkan semangat membaca, berpikir kritis, dan berani bermimpi besar, sekaligus membuktikan bahwa literasi dapat menjadi pintu menuju dunia internasional.

Di samping perannya sebagai Ketua Gemar Literasi, Melisa juga berbagi cerita tentang perjalanannya menyelesaikan pendidikan.

Ia menempuh studi magister dengan latar dua fakultas sekaligus, yang meskipun dijalani di dalam negeri, tetap menuntutnya untuk beradaptasi dengan budaya akademik yang berbeda. Mulai dari penyesuaian mata kuliah yang diambil dan dijalani, hingga membangun kenyamanan di lingkungan baru baik dengan dosen pengajar maupun teman-teman satu angkatan.

Proses ini menjadi pengalaman berharga bagi Melisa, karena tidak hanya memperkaya keilmuan, tetapi juga melatih kemampuan beradaptasi di berbagai situasi akademik.

Melisa juga bercerita tentang berbagai tantangan yang ia hadapi selama menempuh pendidikan. Berasal dari latar belakang ilmu sosial, yakni Fakultas Hukum, Melisa kemudian melanjutkan studi magister di Fakultas Multidisiplin dengan jurusan Magister Ilmu Lingkungan yang bernuansa eksakta.

Perbedaan bidang ilmu ini membuatnya harus belajar lebih ekstra, terutama dalam memahami berbagai istilah asing yang sebelumnya belum pernah ia temui. Meski begitu, pengalaman belajar di dua fakultas dengan karakter yang berbeda justru memperkaya wawasannya, karena masing-masing fakultas memiliki keunggulan masing masing

Melisa juga menyadari suka akan literasi dari bangku sekolah dasar, karena dari SD melisa sudah mengikuti kompetisi Olimpiade Sains Nasional (OSN) dengan mata pelajaran matematika dan kadang juga IPS, dan sadar akan literasi semenjak melisa membaca buku RPUL.

Di saat membaca buku RPUL tersebut di sampul buku itu terdapat gambar universitas top di Indonesia, dimulai dari UI, UTB, dan Undip, dan universitas lainnya secara naluriah Melisa melingkari Universitas Diponegoro (Undip) saat itu, dan bercerita kepada ibu bahwa pengen sekolah di universitas tersebut.

Di saat itu ibu Melisa mengatakan bahwa kita tidak punya banyak uang untuk sekolah. Hal itu yang membuat Melisa berpikir bahwa apakah pendidikan hanya boleh ditempuh oleh anak yang memiliki latar belakang keluarga yang mempunyai banyak uang.

Perkataan ibu membuat Melisa lebih semangat untuk terus belajar dan mencoba, mensipun banyak sekali kegagalan yang di dapat.

Saat moderator mengatakan apa pesan terakhir yang disampaikan ketika ada anak yang tidak memiliki privillege keluarga yang memiliki banyak uang akan tetapi memiliki keinginan yang sama yaitu ingin menempuh pendidikan tinggi?

Melisa mengatakan, jangan malu mencoba, jangan takut gagal. Takut gagal itu manusiawi, tapi kegagalan bukanlah akhir, hanya tanda bahwa kamu sedang mencoba.

Semua orang sukses pernah gagal, yang membedakannya adalah mereka tidak pernah berhenti di sana.

Thomas Edision pernah berkata “Jika aku gagal seribu kali, aku hanya menemukan 1000 cara yang tidak berhasil. Jangan biarkan rasa takut gagal membuatmu berhenti, lebih baik gagal karena mencoba daripada menyesal karena tidak memulai. Rasa takut gagal hanya bisa dikalahkan dengan satu hal, yaitu keberanian untuk mencoba lagi. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda